Fakta-fakta Kematian Tragis Dokter Internship di Apartemen Kalibata

Dokter SZM lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin sedang menjalani Program Internsip Dokter Indonesia di RS Sentra Medika Cisalak.

oleh Raynaldo Ghiffari LubabahDiterbitkan 28 Juli 2026, 06:05 WIB
Ilustrasi mayat (Arfandi Ibrahim/Liputan6.com)

Liputan6.com, Jakarta - Kematian dokter internship berinisial dr. SZM yang ditemukan tewas setelah terjatuh dari lantai 18 sebuah apartemen di kawasan Kalibata, Jakarta Selatan, menyita perhatian publik.

Peristiwa nahas itu terjadi pada Minggu (26/7/2026). Kejadian ini memunculkan berbagai spekulasi di media sosial. Namun hingga kini, kepolisian masih melakukan penyelidikan dan belum menyimpulkan penyebab pasti kematian korban.

Polisi telah melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP), memeriksa sejumlah saksi, serta mengumpulkan barang bukti untuk mengungkap kronologi insiden tersebut. Berikut fakta-fakta yang telah dihimpun dari tewasnya dr. SZM:

1. Korban Tinggal Bersama Ibu

Dokter SZM adalah lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin yang sedang menjalani Program Internsip Dokter Indonesia di RS Sentra Medika Cisalak, Depok, Jawa Barat, sejak Mei 2026.

Kapolsek Pancoran Kompol Mansur mengatakan berdasarkan penyelidikan sementara, korban tinggal berdua bersama ibunya di unit apartemen tersebut.

Sebelum kejadian, sang ibu mengajak korban pergi ke mal. Namun ajakan itu ditolak. Korban memilih tetap berada di apartemen.

“Korban tinggal berdua sama ibunya. Saat itu ibunya mengajak pergi ke mal, tetapi korban tidak mau dan tetap di unit,” kata Mansur saat dihubungi, Senin (27/7/2026).

2. Korban Lompat, Sempat Tersangkut di Balkon

Korban lalu mengunci pintu apartemen dari dalam usai ibunya pergi. Tak lama kemudian, korban diduga melompat dari jendela apartemen yang berada di lantai 18.

“Setelah ibunya pergi, pintu dikunci dari dalam oleh korban. Di situlah korban diduga melompat dari jendela untuk mengakhiri hidupnya,” ujarnya.

Mansur mengatakan, korban sempat tersangkut di balkon sebelum akhirnya jatuh. Polisi yamg menerima laporan langsung melakukan olah tempat kejadian perkara.

Jenazah korban kemudian dievakuasi ke RS Polri Kramat Jati untuk keperluan pemeriksaan lebih lanjut.

Terkait penyebab korban diduga mengakhiri hidupnya, Mansur menegaskan pihaknya belum menemukan bukti yang mengarah pada motif tertentu, termasuk dugaan tekanan dalam pekerjaan.

“Sampai sekarang belum ada informasi apakah karena tekanan pekerjaan atau hal lain. Kami belum bisa meminta keterangan keluarga karena masih berduka,” katanya.

3. Dugaan Penyebab Korban Bunuh Diri

Terkait penyebab korban diduga mengakhiri hidupnya, Mansur menegaskan pihaknya belum menemukan bukti yang mengarah pada motif tertentu, termasuk dugaan tekanan dalam pekerjaan.

“Sampai sekarang belum ada informasi apakah karena tekanan pekerjaan atau hal lain. Kami belum bisa meminta keterangan keluarga karena masih berduka,” katanya.

Menurut Mansur, penyidik masih membuka kemungkinan mendalami berbagai faktor yang melatarbelakangi kejadian tersebut.

“Tetap kami dalami apa penyebabnya, kok bisa dengan senekat itu lompat dari lantai 18,” ujarnya.

Polisi juga masih berupaya membuka unit apartemen korban untuk melakukan pemeriksaan. Namun proses itu belum dilakukan karena pintu terkunci dari dalam. Selain itu, penyidik masih menunggu persetujuan keluarga.

"Kalau kita mau membuka dengan cara paksa untuk jebol, nah saat ini kita belum berani, security pun juga belum berani, masih menunggu keluarga. Karena kan faktanya jelas, artinya ini kan apa, pihak keluarga belum ada yang bisa kita mintain keterangan, makanya kita belum berani," ujar dia.

4. Kemenkes Buka Investigasi

Investigasi terkait meninggalnya dokter SZM dilakukan Kementerian Kesehatan (Kemenkes) juga berkoordinasi dengan polisi, Konsil Kesehatan Indonesia (KKI), Komite Internsip Kedokteran Indonesia (KIKI), Ikatan Dokter Indonesia, pemerintah daerah, dan wahana internship.

Kepala Biro Komunikasi dan Informasi Publik Kemenkes, Aji Muhawarman mengatakan seluruh fakta dan kronologi kejadian akan diungkap secara utuh.

"Hasil investigasi ditargetkan selesai dalam waktu tiga hingga empat hari," tutur Aji.

Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin meminta seluruh dokter internship untuk kembali menjalani skrining kesehatan jiwa. Hal ini disampaikan Budi usai dalam waktu berdekatan terdapat beberapa dokter internship meninggal dunia.

"Saya sedih sekali melihat ada kejadian terus menerus meninggal ini. Ada masalah kejiwaan apa ya sehingga mereka ada kejadian (seperti ini)," kata Budi.

"Yang jelas saya sudah minta semua di skrining jiwa sekali lagi. Wajib. Internship, saya sudah minta untuk skrining kejiwaan," tutur Budi ditemui di Gedung Widya Graha BRIN, Jakarta pada Senin (27/7/2026).

Skrining kesehatan jiwa diharapkan dapat membantu mendeteksi lebih dini apabila terdapat indikasi gangguan kesehatan mental pada seseorang. Dengan demikian, intervensi dapat segera dilakukan sebelum kondisinya memburuk.

"Indikasi bunuh diri ini kan harusnya bisa ditangkap dengan skrining kejiwaan, kalau ada indikasi-indikasi, kita bisa langsung ambil tindakan, bisa taruh dulu (bisa lakukan penanganan kesehatan jiwa)," kata Budi.

KONTAK BANTUAN

Bunuh diri bukan jawaban apalagi solusi dari semua permasalahan hidup yang seringkali menghimpit. Bila Anda, teman, saudara, atau keluarga yang Anda kenal sedang mengalami masa sulit, dilanda depresi dan merasakan dorongan untuk bunuh diri, sangat disarankan menghubungi dokter kesehatan jiwa di fasilitas kesehatan (Puskesmas atau Rumah Sakit) terdekat.

Bisa juga mengunduh aplikasi Sahabatku: https://play.google.com/store/apps/details?id=com.icreativelabs.sahabatku

Atau hubungi Call Center 24 jam Halo Kemenkes 1500-567 yang melayani berbagai pengaduan, permintaan, dan saran masyarakat.

Anda juga bisa mengirim pesan singkat ke 081281562620, faksimili (021) 5223002, 52921669, dan alamat surat elektronik (surel) kontak@kemkes.go.id.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya