Liputan6.com, Tel Aviv - Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menegaskan bahwa dirinya tetap akan datang ke Kota New York untuk berpidato dalam forum diplomatik tahunan Sidang Umum PBB.
Pemimpin Israel tersebut menegaskan komitmen kedatangannya meski Mahkamah Pidana Internasional (ICC) telah menerbitkan surat perintah penangkapan terhadap dirinya atas dugaan kejahatan perang. Terlebih, rencana kunjungan ini juga diwarnai penolakan keras dari Wali Kota New York City, Zohran Mamdani, yang secara terbuka menyatakan bahwa kehadiran Netanyahu tidak diterima di kota tersebut.
Advertisement
Dalam wawancara dengan program Fox News, Sunday Morning Futures with Maria Bartiromo, Netanyahu mengecam Mamdani dan kembali melontarkan serangkaian klaim tanpa dasar terhadap politikus sayap kiri itu. Mamdani sebelumnya mengatakan Netanyahu harus ditangkap jika datang ke Amerika Serikat (AS).
"Saya berniat datang dan menyampaikan kebenaran—berbicara untuk Israel dan aliansi Israel-AS dari podium PBB," kata Netanyahu seperti dilaporkan Al Jazeera.
Kritik terbuka Mamdani terhadap Israel serta dukungannya terhadap hak-hak rakyat Palestina—pandangan yang kini dianut semakin banyak warga AS—telah memicu kemarahan sejumlah tokoh pro-Israel. Mereka berusaha menggambarkan kritik tersebut sebagai bentuk antisemitisme.
"Dia menghasut kebencian. Seharusnya dia menjadi wali kota bagi seluruh warga New York—Yahudi, Kristen, muslim, semuanya," kata Netanyahu, mengulangi tudingan tersebut. "Namun, dia berusaha mengadu satu kelompok dengan kelompok lain. Saya berbicara dengan warga Yahudi AS dan mereka merasa takut saat ini."
Namun, survei terhadap lebih dari 1.000 warga Yahudi dewasa di seluruh AS yang dilakukan Associated Press-NORC Center for Public Affairs Research pada Juni menunjukkan gambaran berbeda.
Survei itu menemukan bahwa 44 persen responden memandang Mamdani secara "agak" atau "sangat" positif. Sementara itu, 39 persen memiliki pandangan "agak" atau "sangat" negatif terhadapnya. Sekitar dua dari 10 responden mengaku belum cukup mengenal Mamdani untuk memberikan penilaian.
Sebaliknya, hanya sekitar sepertiga responden yang memandang Netanyahu secara "agak" atau "sangat" positif. Sekitar enam dari 10 responden memiliki pandangan "agak" atau "sangat" negatif terhadapnya, termasuk 42 persen yang memandangnya "sangat" negatif. Sekitar satu dari 10 responden mengaku belum cukup mengenal Netanyahu untuk memberikan penilaian.
Untuk itu, upaya Netanyahu dan sejumlah tokoh pro-Israel untuk menggambarkan kritik terhadap Israel sebagai bentuk antisemitisme dinilai semakin tidak sejalan dengan perubahan sikap masyarakat AS. Dalam beberapa tahun terakhir, pandangan para pemilih di negara itu bergeser tajam dan semakin menjauh dari dukungan terhadap Israel.
Mamdani Terbentur Kewenangan Hukum
ICC mengeluarkan surat perintah penangkapan terhadap Netanyahu dan mantan Menteri Pertahanan Israel Yoav Gallant pada November 2024 atas dugaan kejahatan terhadap kemanusiaan dan kejahatan perang di Gaza.
Meski memiliki sekutu politik yang kuat di kedua partai besar serta berpengaruh dalam politik domestik AS, para pendukung Israel kesulitan merespons perubahan opini publik tersebut secara efektif. Pergeseran sikap itu telah memperkuat seruan agar AS menghentikan dukungan dan transfer senjata kepada Israel.
Perang AS dan Israel melawan Iran, yang sejak lama diperjuangkan Netanyahu, disebut sangat tidak populer di kalangan pemilih AS.
Netanyahu pada Minggu mengatakan bahwa Iran akan melakukan "kesalahan besar" jika kembali menyerang Israel.
Janji politik Mamdani semasa kampanye pemilihan Wali Kota New York pada 2025 untuk menangkap Netanyahu di New York City akhirnya membentur realitas hukum. Baru-baru ini, sang wali kota mengakui bahwa jajaran pemerintahannya tidak mempunyai wewenang hukum secara mandiri untuk mengeksekusi penangkapan tersebut. Walau mengakui keterbatasan hukum lokal, Mamdani tetap menyatakan dengan tegas bahwa Netanyahu merupakan penjahat perang yang kehadirannya tidak diinginkan oleh warga kota.
Jajak pendapat YouGov yang diterbitkan pekan ini menemukan bahwa 46 persen warga AS menilai Netanyahu seharusnya ditangkap, sedangkan 28 persen berpendapat ia tidak seharusnya ditangkap.
Dalam wawancaranya, Netanyahu secara keliru mengeklaim bahwa Mamdani dan istrinya telah merayakan serangan Hamas terhadap Israel pada 7 Oktober 2023 yang menewaskan sekitar 1.100 orang.
"Mamdani—bersama istri dan keluarganya—mendukung hal tersebut. Dia merayakan pembantaian 7 Oktober, pembantaian terburuk terhadap orang Yahudi sejak Holocaust," klaim Netanyahu.
"Dia mendukung para pembunuh Hamas yang memerkosa perempuan-perempuan kami, kemudian memenggal kepala mereka, membakar bayi hidup-hidup, dan menyandera orang-orang yang tidak bersalah."
Faktanya, Mamdani berulang kali menyebut serangan Hamas pada 7 Oktober sebagai kejahatan perang yang mengerikan.