Tanoto Foundation Bekali 242 Scholar Jadi Pemimpin Berdampak

TSG mengajak 242 Tanoto Scholar memperkuat kepemimpinan yang berlandaskan purpose, sekaligus membangun kapasitas untuk menciptakan dampak yang lebih luas.

oleh Tim RegionalDiterbitkan 24 Juli 2026, 15:33 WIB
Tanoto Foundation kembali menyelenggarakan Tanoto Scholars Gathering (TSG) di Riau Kompleks, PT Riau Andalan Pulp and Paper (RAPP), Pangkalan Kerinci, Riau, pada 23–25 Juli (Istimewa)

Liputan6.com, Jakarta - Tanoto Foundation kembali menyelenggarakan Tanoto Scholars Gathering (TSG) di Riau Kompleks, PT Riau Andalan Pulp and Paper (RAPP), Pangkalan Kerinci, Riau, pada 23–25 Juli.

Mengusung tema Learn & Lead: Rooted in Purpose, Growing for Impact, TSG mengajak 242 Tanoto Scholar memperkuat kepemimpinan yang berlandaskan tujuan (purpose), sekaligus membangun kapasitas untuk menciptakan dampak yang lebih luas melalui kolaborasi, inovasi, dan aksi nyata.

Chief Operating Officer APRIL, Eduward Ginting, membuka rangkaian acara dengan mengingatkan para peserta untuk tetap teguh pada nilai dan tujuan agar mampu terus bertumbuh, belajar, dan berkolaborasi.

“Kami mendukung kegiatan TSG agar Tanoto Scholar memiliki bekal yang kuat, semangat belajar yang tinggi, kepedulian terhadap masyarakat, serta keberanian untuk menciptakan perubahan,” ujarnya, seperti dikutip dari Antara, Jumat (24/7).

Di kesempatan yang sama, Head of Policy & Advocacy Tanoto Foundation, Eddy Henry, menekankan kepada Tanoto Scholar bahwa menjadi pemimpin yang bermakna selalu berawal dari tujuan yang jelas, diwujudkan melalui pilihan-pilihan sehari-hari, dan pada akhirnya menghasilkan dampak bagi sesama.

“Purpose mengingatkan kita mengapa kita melakukan apa yang kita lakukan, meneguhkan langkah saat harus mengambil keputusan sulit, dan menjaga fokus ketika jalan di depan masih penuh ketidakpastian,” kata Eddy.

“Adik-adik Tanoto Scholar harus ingat, kepemimpinan yang bermakna tidak lahir secara instan. Kepemimpinan dibangun dari pilihan-pilihan kecil yang kita lakukan secara konsisten: pilihan untuk mendengarkan, pilihan untuk belajar, dan pilihan untuk melakukan hal yang benar, bahkan ketika pilihan itu tidak mudah,” lanjutnya.

Dalam rangkaian TSG kali ini, Menteri Ketenagakerjaan Republik Indonesia, Prof. Yassierli, yang menjadi salah satu pembicara, mengajak generasi muda memiliki growth mindset sebagai bekal menjadi pemimpin yang mampu menjawab tantangan di masa depan.

“Inovasi tidak selalu soal menciptakan sesuatu yang benar-benar baru, tetapi juga dapat menghadirkan nilai atau dampak baru pada sesuatu yang sebelumnya sudah ada. Bahkan, inovasi bisa lahir dari sebuah masalah. Karena itu, mulailah dari persoalan nyata yang dekat dengan kalian untuk diperbaiki,” ujar Yassierli.

Ia juga mendorong generasi muda menjadi pemimpin yang inovatif agar mampu memberikan dampak bagi bangsa dan negara. “Indonesia membutuhkan inovasi. Mimpi saya pada 2045, Indonesia akan menjadi negara besar jika mampu menjadi innovation nation. Semangat inilah yang harus dimiliki setiap pemimpin,” ucapnya.

Pembicara lainnya, Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Prof. Stella Christie, mengingatkan para peserta akan pentingnya terus beradaptasi di era kecerdasan artifisial (AI), terutama sebagai calon pemimpin masa depan.

“Saat ini, pengetahuan sudah berlimpah. Semua hal bisa dicari tahu dengan AI. Itulah pentingnya bagi kita, sebagai manusia yang memperoleh pendidikan tinggi, untuk mampu melakukan tiga hal penting: menciptakan ilmu, menyalurkan ilmu, dan mengkurasi ilmu. Sebab, jika kemampuan kita hanya terbatas pada mencari ilmu, kita akan dengan mudah digantikan oleh AI,” ujar Stella.

“AI dapat menyajikan jutaan informasi dalam hitungan detik. Namun, manusialah yang mampu mengubah informasi menjadi pengetahuan, dan pengetahuan menjadi kebijaksanaan. Itulah kompetensi yang harus dibangun oleh pemimpin muda, yakni kemampuan mengkurasi pengetahuan untuk menghadirkan keputusan yang berdampak bagi masyarakat dan masa depan bangsa,” pungkasnya.

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya