Liputan6.com, Jakarta - Hampir 45 hari Edi Ardihansa mengikuti pelatihan dan sertifikasi manajer Koperasi Desa/Kelurahan (KDKMP) Merah Putih di Makassar. Bersama ratusan peserta lainnya, pemuda asal Desa Sapanang, Kecamatan Binamu, Kabupaten Jeneponto itu mempelajari ilmu kepemimpinan, tata kelola koperasi, pengembangan potensi desa hingga manajemen keuangan.
Namun bagi Edi, pelatihan tersebut bukan sekadar jalan menuju pekerjaan sebagai manajer koperasi. Program itu menjadi secercah harapan untuk mengubah nasib keluarganya yang selama ini menggantungkan hidup dari hasil bertani.
Advertisement
"Saya memiliki animo yang sangat besar mengikuti program ini. Mungkin di sinilah jalan untuk saya bisa meningkatkan kesejahteraan keluarga saya," kata Edi, Jumat (24/7/2026).
Edi merupakan lulusan Universitas Islam Negeri (UIN) Alauddin Makassar tahun 2018. Setelah menyelesaikan kuliah, ia sempat mencoba berbagai pekerjaan. Ia pernah mengajar dan menjalani beberapa profesi lain, namun belum menemukan pekerjaan yang benar-benar mampu membawanya mewujudkan cita-cita membantu perekonomian keluarga.
Ia lahir dan besar dari keluarga petani di Jeneponto. Ayah dan ibunya menggantungkan hidup dari hasil bercocok tanam sambil membesarkan enam orang anak.
"Ayah saya seorang petani, ibu saya juga seorang petani. Kami bukan keluarga yang berada. Kehidupan kami masih serba berkekurangan," ujarnya.
Sebagai salah satu anak laki-laki, Edi mengaku memikul tanggung jawab besar untuk membantu kedua orang tuanya. Seiring bertambahnya usia, ia melihat tenaga ayah dan ibunya tak lagi sekuat dulu, sementara kebutuhan keluarga tetap harus dipenuhi.
"Saya melihat orang tua saya sekarang sudah tidak sekuat dulu lagi bekerja. Itu yang membuat saya semakin termotivasi mengikuti program ini," kata Edi.
Kesadaran itulah yang membuat Edi terus mencari peluang untuk memperbaiki kondisi ekonomi keluarganya. Ketika pemerintah membuka rekrutmen calon manajer Koperasi Merah Putih, ia melihat kesempatan tersebut sebagai jalan untuk mengabdi sekaligus membangun masa depan.
"Saat tahu pemerintah membuka rekrutmen manajer, saya langsung mendaftar. Alhamdulillah saya lolos. Mudah-mudahan ini menjadi titik balik bagi saya untuk memperbaiki kehidupan keluarga," ucapnya.
Hampir satu setengah bulan mengikuti pelatihan, Edi mengaku tidak hanya memperoleh pengetahuan baru, tetapi juga cara pandang baru tentang bagaimana koperasi dapat menjadi motor penggerak ekonomi desa.
Materi yang diberikan tidak hanya mengajarkan pengelolaan koperasi sebagai badan usaha, tetapi juga membentuk kemampuan kepemimpinan, mengenali potensi desa, memberdayakan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), hingga menyusun tata kelola keuangan yang baik dan akuntabel.
"Di sini kami dilatih bagaimana menjadi pemimpin di koperasi desa. Kami juga diajarkan bagaimana mengelola potensi desa agar bisa meningkatkan dan memberdayakan masyarakat. UMKM nantinya bisa menjadi bagian dari produk koperasi, dan kami juga belajar bagaimana mengelola keuangan koperasi dengan baik karena manfaatnya akan kembali kepada masyarakat," katanya.
Bagi Edi, pelatihan tersebut tidak hanya menambah wawasan, tetapi juga membentuk karakter para calon manajer. Nilai integritas, kepemimpinan, dan tanggung jawab menjadi bagian yang terus ditekankan selama proses pembelajaran.
"Kami betul-betul digodok menjadi manajer yang profesional, berkarakter, dan amanah. Kalau tidak dibekali seperti ini, kami khawatir tidak memiliki jiwa integritas ketika nanti diberi amanah mengelola koperasi," ujarnya.
Berdasarkan informasi yang diterimanya, para peserta nantinya diprioritaskan ditempatkan di kabupaten asal masing-masing. Edi berharap dapat kembali ke Jeneponto agar ilmu yang diperolehnya bisa diterapkan untuk mengembangkan potensi desa tempat ia dibesarkan.
Baginya, koperasi bukan sekadar lembaga ekonomi, melainkan wadah pemberdayaan masyarakat. Ia ingin membantu pelaku UMKM berkembang, membuka peluang usaha baru, dan menjadikan koperasi sebagai motor penggerak perekonomian desa.
Di balik keinginannya membangun koperasi, tersimpan impian yang jauh lebih sederhana. Ia ingin melihat kedua orang tuanya menikmati hari tua dengan lebih tenang setelah bertahun-tahun bekerja keras di sawah demi membesarkan enam orang anak.
"Saya ingin menjadi bagian dari manajer koperasi yang membantu pemerintah meningkatkan kesejahteraan ekonomi masyarakat. Di sisi lain, saya juga ingin bisa membahagiakan kedua orang tua saya dan membuat kehidupan keluarga kami menjadi lebih baik," tutup Edi.