Liputan6.com, Jakarta - Kementerian Koperasi (Kemenkop) menghadapi tantangan dalam memenuhi kebutuhan manajer untuk mengelola Koperasi Merah Putih di berbagai daerah. Meski ribuan koperasi telah siap beroperasi, ketersediaan sumber daya manusia belum merata sehingga pemerintah membuka kemungkinan penempatan manajer lintas daerah hingga lintas provinsi.
Deputi Bidang Pengembangan Talenta dan Daya Saing Koperasi Kementerian Koperasi, Destry Anna Sari mengungkapkan, hingga akhir Juli pemerintah telah menyiapkan sekitar 35 ribu koperasi yang siap beroperasi. Jumlah tersebut terdiri atas sekitar 30 ribu Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP) dan sekitar 5 ribu Koperasi Kampung Nelayan Merah Putih. Namun, kesiapan infrastruktur tersebut belum sepenuhnya diikuti dengan ketersediaan calon manajer.
Advertisement
"Bahkan kami melihat dari data di Nusa Tenggara Timur masih kekurangan sekitar 1.500 manajer. Mau tidak mau kita harus mengambil dari provinsi sebelah karena yang mendaftar tidak sebanyak kebutuhan yang ada," kata Destry usai memberikan materi pelatihan dan sertifikasi manajer Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih di Makassar, Jumat (24/7/2026).
Menurut Destry, kondisi tersebut menjadi salah satu tantangan dalam implementasi program KDKMP secara nasional. Sebab, pemerintah tidak hanya harus menyiapkan bangunan koperasi, tetapi juga memastikan setiap koperasi memiliki manajer yang mampu mengelola usaha secara profesional.
Selain itu, Ia juga menjelaskan penempatan lulusan pelatihan tidak selalu dilakukan di desa asal peserta. Pemerintah memang mengutamakan penempatan berdasarkan domisili, namun kebijakan tersebut tetap disesuaikan dengan kebutuhan riil di lapangan.
"Kalau dalam satu desa ada dua calon manajer, tentu tidak mungkin ditempatkan di desa yang sama. Kami akan mengutamakan sedekat mungkin dengan desa asal, tetapi tetap melihat lokasi koperasi yang membutuhkan," ujarnya.
Destry menambahkan, distribusi manajer juga mempertimbangkan kesiapan koperasi di masing-masing daerah. Wilayah yang koperasinya telah siap beroperasi akan diprioritaskan memperoleh manajer lebih dahulu dibanding daerah yang masih dalam tahap persiapan.
Pelatihan calon manajer sendiri masih akan berlanjut. Setelah proses pendidikan gelombang pertama terhadap sekitar 30 ribu peserta selesai dan dievaluasi, Kementerian Koperasi akan membuka pelatihan pada tahap berikutnya.
"Kemarin yang diumumkan sekitar 62 ribu pendaftar. Setelah batch pertama ini selesai dan dievaluasi, nanti akan ada batch selanjutnya untuk pendidikannya," ujar Destry.
Kurikulum Manajer KDKMP
Dalam kesempatan itu, Kemenkop menggelar pelatihan dan sertifikasi manajer Koperasi Merah Putih di Makassar yang diikuti 189 peserta. Kegiatan tersebut merupakan salah satu dari 451 kelas pelatihan yang dilaksanakan serentak di seluruh Indonesia dengan kurikulum yang sama.
Meski demikian, Destry menegaskan tujuan pelatihan bukan sekadar memberikan kemampuan administrasi dan manajemen koperasi. Para peserta dipersiapkan menjadi penggerak usaha yang mampu mengembangkan koperasi berdasarkan potensi ekonomi di desa masing-masing.
"Manajer koperasi tugasnya bagaimana menggerakkan usaha ini. Dia harus mengenali koperasinya sebagai sebuah perusahaan yang harus dikelola. Yang paling penting adalah bagaimana masyarakat benar-benar merasakan manfaat dari koperasi," katanya.
Untuk mendukung pengembangan kapasitas peserta, Kemenkop juga memanfaatkan instrumen talent DNA yang dikembangkan dengan dukungan teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI). Melalui pemetaan tersebut, pemerintah berupaya mengenali karakter, potensi, dan kebutuhan pengembangan masing-masing calon manajer.
"Itu kenapa kami kemarin ada Talent DNA. Dari situ kita bisa tahu posisi masing-masing, siapa bagaimana dia, dan itu pengembangannya melalui AI. Untuk mengenali bagaimana posisi masing-masing, bagaimana mengenali potensi desa dan lain sebagainya, itu juga ada tools-nya," kata Destry.
Materi Khusus
Sementara itu, akademisi Universitas Padjadjaran sekaligus Founder The Local Enablers, Dwi Purnomo, mengatakan pelatihan dirancang agar para manajer tidak hanya menguasai teori, tetapi mampu membaca kondisi sosial dan ekonomi di desa tempat mereka bertugas.
Menurutnya, setiap desa memiliki karakteristik, sumber daya, serta tantangan yang berbeda sehingga tidak mungkin menerapkan model bisnis yang sama di seluruh Indonesia.
"Materi yang paling penting bukan sekadar teori, tetapi bagaimana memahami desa, berinteraksi dengan masyarakat, memahami para pemangku kepentingan, melakukan social mapping, hingga membangun masyarakat melalui social engineering," kata Dwi.
Ia menjelaskan peserta dibekali kerangka berpikir yang sama agar mampu menyusun solusi sesuai kondisi desa masing-masing.
"Maka yang disamakan adalah kerangka berpikirnya, cara mengolah data, cara menganalisis, dan kemampuan berempati. Harapannya setiap manajer memiliki solusi yang berbeda-beda sesuai konteks desanya, bukan copy-paste," ujarnya.
Selain itu, pelatihan juga menitikberatkan pada penguatan leadership entrepreneurial, yakni kemampuan memimpin, membangun inisiatif, dan menciptakan jejaring antarkoperasi.
Menurut Dwi, aspek tersebut menjadi penting karena keberhasilan program Kopdes Merah Putih tidak hanya ditentukan oleh kemampuan individu manajer, tetapi juga oleh keterhubungan antarkoperasi sebagai satu ekosistem ekonomi desa.
"Mereka bukan hanya harus pintar secara individual, tetapi mampu membangun hubungan dan saling belajar. Ketika jumlah manajer semakin banyak dan mereka saling terhubung, dampaknya terhadap pengembangan ekonomi desa juga akan semakin besar," pungkasnya.