Maestro Dongeng Made Taro Tutup Usia Tepat di Hari Anak Nasional

Maestro dongeng sekaligus penulis dan pelestari mainan tradisional Bali Made Taro, tutup usia.

oleh Tim RegionalDiterbitkan 23 Juli 2026, 12:25 WIB
Maestro Dongeng Made Taro. (Liputan6.com/ Dok Ist)

Liputan6.com, Jakarta - Ada kabar duka tepat di Hari Anak Nasional 2026, maestro dongeng sekaligus penulis dan pelestari mainan tradisional Bali Made Taro, tutup usia. 

Kabar duka yang menyelimuti dunia sastra dan budaya ini disampaikan oleh Sastrawan Bali I Made Sujaya di Denpasar, Kamis (23/7/2026). Dirinya menyampaikan, tokoh budaya senior tersebut meninggal pada usia ke-87 tahun.

"Pak Taro berpulang 23 Juli 2026, di usianya ke-87 tahun, dan tepat di Hari Anak Nasional, sedih sekali pagi ini, kita kehilangan panglingsir yang tiada lelah mengingatkan kita tentang sikap hidup ngijeng, tekun dengan jalan kata-kata, jalan pengabdian pada akar kebudayaan Bali: sastra,” kata Sujaya.

Ni Made Maharini, yang juga menantu Made Taro mengatakan, mertuanya meninggal Kamis dini haru, setelah kondisinya terus menurun usai pertama kali sakit pada akhir Juni 2026 dan mendapat penanganan rawat inap.

Bahkan sebelum meninggal, Made Taro dikabarkan masih menulis buku Dongeng-Dongeng Lansia seri keempat.

"Bapak masih berkarya itu pun belum lama menciptakan buku dongeng lansia, bapak saya maunya menerbitkan sampai seri kelima, dia sempat bilang butuh 2 tahun saja untuk menyelesaikan, tapi belum kehendak tuhan, bapak menyelesaikan sampai di seri keempat," ujarnya.

Sejak kondisinya melemah, maestro dongeng kelahiran Karangasem itu hanya fokus menulis, keahilannya mendongeng mulai diwariskan ke cucunya.

"Sedih sekali bapak yang banyak berkarya untuk anak tutup usia di Hari Anak Nasional, tapi beliau meninggalkan banyak karya dan tidak mau dongeng atau mainan tradisional hilang jadi mewariskan keahlian ini ke cucunya," katanya.

 

Bapak Dongeng Bali

Made Taro merupakan salah satu tokoh budaya Bali yang mendedikasikan hampir seluruh hidupnya bagi dunia anak melalui dongeng, lagu, dan permainan tradisional.

Ia lahir di Desa Sengkidu, Karangasem, pada 16 April 1939 dan mulai aktif mendongeng sejak 1973 di Denpasar.

Tahun 1979, Made Taro mendirikan Sanggar Kukuruyuk yang menjadi ruang pembinaan anak-anak melalui seni, dongeng, permainan tradisional, dan pendidikan karakter berbasis budaya Bali.

Selama lebih dari lima dekade, ia berkeliling Bali untuk membawakan dongeng yang sarat nilai moral, sambil memperkenalkan permainan tradisional sebagai media pembelajaran karakter.

Made Taro juga seorang pengajar, ia mengajar di Australia, hingga menjadi narasumber berbagai pelatihan bagi guru PAUD dan TK untuk menghidupkan kembali permainan tradisional Bali di lingkungan pendidikan.

Masyarakat Bali mengenalnya sebagai maestro dongeng sebab ia berkarya hingga usia senja, selain buku Dongeng-Dongeng Lansia yang sedang dikerjakan, dalam tiga tahun terakhir ia menerbitkan karya lain di antaranya Seni Tutur Sang Penolong (2022), Seni Tutur Aku Cinta Ayah Bunda (2022), Seni Tutur Dari Rumah Dongeng (2023), Seni Tutur Dongeng Masa Kini (2023), Seni Tutur Bali Berkisah (2024), hingga Dongengku Cerminku yang terbit pada April 2024.

Secara keseluruhan, Made Taro telah menghasilkan sekitar 54 buku yang sebagian besar berisi dongeng, cerita rakyat, permainan tradisional, serta lagu anak-anak Bali.

Maharani mengatakan saat ini jasad sang maestro sudah berada di kamar duka Rumah Sakit Dharmayadnya, sejumlah seniman dikabarkan akan datang sebelum dilakukan kremasi pada Minggu, 26 Juli 2026 nanti.

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya