Hari Anak Nasional, Simak Ragam Hoaks yang Beredar di Media Sosial

Peringatan Hari Anak Nasional berawal dari komitmen dalam melindungi, memenuhi hak, dan memastikan setiap anak dapat tumbuh kembang optimal.

oleh Mevi LinawatiDiterbitkan 23 Juli 2026, 17:02 WIB
Ruang Kreatif Liburan Anak - Kelas Kesenian Pengenalan dan Pembuatan Wayang Suket oleh Wayang Suket Indonesia di Galeri Indonesia Kaya dalam rangka Hari Anak Nasional 2026. (dok. Galeri Indonesia Kaya)

Liputan6.com, Jakarta - Hari Anak Nasional diperingati setiap tanggal 23 Juli. Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) menyatakan, peringatan ini berawal dari komitmen Indonesia dalam melindungi, memenuhi hak, dan memastikan setiap anak dapat tumbuh serta berkembang secara optimal.

Semangat itu terus diperkuat melalui Gerakan Nasional Ruang Aman Nyaman Anak (RANA) yang mengajak seluruh elemen masyarakat mewujudkan lingkungan yang aman, nyaman, dan bebas dari segala bentuk kekerasan. Demikian dikutip dari akun Instagram resmi @kemendikdasmen.

Di tengah peringatan tersebut, anak-anak kerap dijadikan bahan hoaks. Info bohong ini menyebar di media sosial dan masyarakat.

Lalu apa saja hoaks yang melibatkan anak? Berikut daftarnya:

1. Cek Fakta: Hoaks Pesan Berantai dari Polri Terkait Modus Baru Kejahatan Anak Kecil Menangis di Jalan

Tim Cek Fakta Liputan6.com menemukan kembali postingan pesan berantai yang diklaim dari Polri tentang adanya modus kejahatan anak kecil minta tolong di jalan. Pesan berantai itu beredar sejak pekan lalu.

Salah satu akun ada yang mengunggahnya di Facebook. Akun itu mempostingnya pada 16 April 2026.

Berikut isi pesan berantai dalam postingan itu:

"Info dari POLRI & TNI AD=

Sampaikan pesan ini kepada keluarga dan kawan-kawan anda!!

Pesan ini ditujukan kepada setiap pria dan wanita yg bepergian sendirian ke kampus, tempat kerja atau kemana saja.

Jika kalian menemukan anak kecil menangis di jalan dengan menunjukkan sebuah alamat dan memintamu untuk mengantarnya ke alamat tersebut, bawalah anak itu ke kantor POLISI Atau Kantor KORAMIL TERDEKAT dan jangan bawa anak itu ke alamat tersebut!!

Anak itu telah di suruh oleh si pelaku kejahatan untuk menggiring kalian menuju ke tempat si pelaku melakukan aksi kejahatannya.

Ini adalah Modus baru PENJAHAT untuk MERAMPOK, MEMPERKOSA & MENCULIK.

Mohon Informasikan ke semua kawan-kawan.Jangan ragu untuk membagikan pesan ini kepada yang lainnya.

Pesan ini bisa membantu menyelamatkan wanita dan orang yang penting dalam hidup anda..... karena sudah banyak korban. Jadi biarkan POLRI & TNI yang mengantarkan anak itu ke alamat tersebut..

Ayo saudara SHARE buat keselamatan saudara2 kita semua.."

Akun itu menambahkan narasi:

"Tolong ingatkan ke teman, saudara ataupun keluarga semua.."

Lalu benarkah postingan pesan berantai yang diklaim dari Polri tentang adanya modus kejahatan anak kecil minta tolong di jalan? Simak hasil penelusurannya berikut ini...

2. Cek Fakta: Hoaks Ratusan Anak Terinfeksi Difteri Akibat Jajanan Cabe Kering Terkontaminasi Kencing Tikus di Jakarta

Beredar di media sosial postingan pesan berantai ratusan anak terinfeksi difteri dan ada yang meninggal dunia karena jajanan cabe kering terkontaminasi kencing tikus di DKI Jakarta. Postingan itu beredar sejak pekan lalu.

Salah satu akun ada yang mengunggahnya di Facebook. Akun itu mempostingnya pada 29 Juli 2025.

Berikut isi postingannya:

"Di DKI Jakarta, dan Jabar ada 600 orang yang tertular. RS penuh dengan anak2 yang terinfeksi Difteri. Jumlah yang meninggal sudah 38 orang. Jadi ini kejadian luar biasa. Dinkes DKI Jakarta mengadakan imunisasi masal sd tgl 11 Des 2025. Target imunisasi usia 1 sd 19 tahun.

Hati2 jangan jajan yang pakai cabe bubuk, Jangan jajan yang pakaivcabe kering seperti cabe di tahu bulat, otak2, dsb. pokoknya jangan pakai cabe bumbu kering. Karena penuh penyakit dari kencing tikus, kasusnya banyak yang meninggal karena penyakit difteri...

PERHATIAN

Untuk kita2 yang keluarga atau putra putrinya suka mengkonsumsi jajanan dengan menggunakan bumbu tabur (terutama yg mengandung cabe kering) spt... cilok, tahu crispy, singkong goreng atau yg lain, silahy dievaluasi kembali.

Mengapa? Di pabrik cabe tabur, tampak bahan cabe kering ditimbun di gudang tidak peduli dijadikan sarang tikus. Tentu saja KENCING TIKUS akan tercecer disana dan membahayakan. Mari kita jaga keluarga kita.

Gejala Difteri

Difteri umumnya memiliki masa inkubasi atau rentang waktu sejak bakteri masuk ke tubuh sampai gejala muncul 2 hingga 5 hari. Gejala-gejala dari penyakit ini meliputi:

• Terbentuknya lapisan tipis berwarna abu-abu yang menutupi tenggorokan dan amandel.

• Demam dan menggigil.

• Sakit tenggorokan dan suara serak.

• Sulit bernapas atau napas yang cepat.

• Pembengkakan kelenjar limfe pada leher.

• Lemas dan lelah.

• Pilek. Awalnya cair, tapi lama-kelamaan menjadi kental dan terkadang bercampur darah.

DIHIMBAU UTK HATI2 saat ini DIFTERI sudah dinyatakan sebagai Kejadian Luar Biasa (KLB), jadi kalau tidak terpaksa betul, jangan jajan diluar ya. Tolong disampaikan pada semua keluarga dekat. Penularan melalui droplet seperti dari ludah, batuk, dll seperti penularan TBC.

Jadi hindari tempat2 keramaian seperti tempat2 rekreasi dll ini khusus warga Jakarta, Jawa Barat dan sekitarnya.

Info: Dinkes DKI Jakarta. Silahkan share."

Lalu benarkah postingan pesan berantai ratusan anak terinfeksi difteri dan ada yang meninggal dunia karena jajanan cabe kering terkontaminasi kencing tikus di DKI Jakarta? Simak hasil penelusurannya berikut ini...

3. Cek Fakta: Tidak Benar Ini Link Pendaftaran BLT untuk Anak Sekolah

Cek Fakta Liputan6.com mendapati klaim link pendaftaran BLT anak sekolah, informasi tersebut diunggah salah satu akun Facebook, pada 4 Agustus 2025.

Klaim link pendaftaran BLT Anak Sekolah berupa tulisan sebagai berikut.

"Ayo daftar BLT Anak sekolah SD,SMP,SMA

SISWA SD/MI:RP900.000 PERBULAN

SISWA SMP/MTS:RP1.200.000 PERBULAN

SISWA SMA/MA:RP2.000.000 PERBULAN

PENDAFTARAN SECARA GRATIS"

Dalam unggahan tersebut terdapat menu daftar, jika menu tersebut diklik beralih ke halaman situs lewat link berikut.

"https://link2.infoterbaru-cekdata.com/?fbclid=IwY2xjawL_eEFleHRuA2FlbQIxMQBicmlkETFMRlQxMjNNWjFBbWVvY285AR6ZWv8QZd0XBvxsPyb76wiX0FKSDmucpaLu5PrRYR6T_bwSmGsGCJJW6M0ibQ_aem_ZGm-QEsRAMLpqVI9Chre7A"

Dalam halaman situs tersebut menampilkan formulir digital yang meminta kita untuk memilih provinsi dan nomor Telegram.

Benarkah link pendaftaran BLT anak sekolah? Simak hasil penelusurannya berikut ini...

Tentang Cek Fakta Liputan6.com

Melawan hoaks sama saja melawan pembodohan. Itu yang mendasari kami membuat Kanal Cek Fakta Liputan6.com pada 2018 dan hingga kini aktif memberikan literasi media pada masyarakat luas.

Sejak 2 Juli 2018, Cek Fakta Liputan6.com bergabung dalam International Fact Checking Network (IFCN) dan menjadi partner Facebook. Kami juga bagian dari inisiatif cekfakta.com. Kerja sama dengan pihak manapun, tak akan mempengaruhi independensi kami.

Jika Anda memiliki informasi seputar hoaks yang ingin kami telusuri dan verifikasi, silahkan menyampaikan di email cekfakta.liputan6@kly.id.

Ingin lebih cepat mendapat jawaban? Hubungi Chatbot WhatsApp Liputan6 Cek Fakta di 0811-9787-670.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya