Liputan6.com, Jakarta - Komisaris PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) Alexander Ramlie kembali beli saham AMMN. Tujuan pembelian saham AMMN untuk investasi pribadi.
Mengutip keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI), Rabu (22/7/2026), Alexander Ramlie membeli AMMN pada 20 Juli 2026 dengan jumlah dan harga berbeda. Ada sembilan transaksi pembelian saham AMMN.
Advertisement
Awalnya, Ia membeli saham 6.900 dengan harga Rp 3.890 per saham. Kemudian ia membeli 16.400 saham AMMN dengan harga Rp 3.900. Lalu berlanjut dengan membeli 47.500 saham dengan harga Rp 3.910 per saham. Kemudian membeli 139.300 saham AMMN dengan harga Rp 3.920 per saham. Selanjutnya ia membeli 288.500 saham AMMN dengan harga Rp 4.030 per saham. Lalu ia membeli 26.900 saham AMMN dengan harga Rp 3.940 per saham. Transaksi selanjutnya ia membeli 218.800 saham AMMN dengan harga Rp 3.950 per saham. Lalu ia membeli 412.500 saham dengan harga Rp 4.020 per saham. Selanjutnya ia membeli 321.700 saham AMMN dengan harga Rp 3.930 per saham.
Seiring pembelian saham itu, total pembelian saham AMMN diperkirakan 1,4 juta dengan nilai pembelian saham Rp 5,8 miliar.
Setelah transaksi, Alexander memiliki 190,39 juta saham AMMN atau setara 0,263%. Sebelumnya, ia mengenggam 188,91 juta saham AMMN atau setara 0,261%.
Berdasarkan data RTI, harga saham AMMN ditutup melemah 3,26% menjadi Rp 4.150 per saham pada Rabu, 22 Juli 2026. Harga saham AMMN dibuka naik 40 poin menjadi Rp 4.330 per saham dari penutupan sebelumnya Rp 4.290 per saham. Harga saham AMMN berada di level tertinggi Rp 4.410 dan terendah Rp 4.120 per saham. Total frekuensi perdagangan 32.363 saham dengan volume perdagangan saham 1.160.646 saham. Nilai transaksi Rp 490,4 miliar.
Disclaimer: Setiap keputusan investasi ada di tangan pembaca. Pelajari dan analisis sebelum membeli dan menjual saham. Liputan6.com tidak bertanggung jawab atas keuntungan dan kerugian yang timbul dari keputusan investasi.
Target Produksi
Sebelumnya, PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) memprediksi produksi sebesar 900.000 metrik ton kering konsentrat yang mengandung 485 juta ton pon atau setara dengan 220.000 ton tembaga dan 579.000 ons emas.
Direktur Utama PT Amman Mineral Internasional Tbk, Arief Sidarto menuturkan, dari total produksi konsentrat tersebut, sekitar 500.000 metrik ton kering konsentrat akan diproduksi dari pabrik konsentrator yang sudah ada. Sementara sisanya sebesar 400.000 metrik ton kering akan berasal dari pabrik konsentrator yang baru, tergantung pada kemajuan proses komisioning.
"Seperti halnya ramp-up fasilitas baru pada umumnya, terdapat risiko eksekusi yang melekat,” ujar Arif dikutip dari keterangan resmi, Kamis (26/3/2026).
Ia menuturkan, operasi smelter terus menunjukkan perbaikan menuju akhir 2025 setelah penyelesaian perbaikan. Perseroan memperoleh izin ekspor konsentrat sementara pada 31 Oktober 2025, dengan kuota 480.000 dmt yang berlaku selama enam bulan.
“Hal ini memberikan fleksibilitas operasional sekaligus menjadi langkah mitigasi apabila proses ramp-up smelter menghadapi tantangan,” kata dia.
Ke depan, profil produksi konsentrat diperkirakan mengalami variasi seiring upaya menyeimbangkan produksi konsentrat dengan proses ramp‑up smelter. Memastikan utilisasi smelter yang stabil tetap menjadi prioritas utama, yang dapat memengaruhi waktu pengelolaan persediaan konsentrat dan penjualan.
“Pada tahap ini, kami belum dapat memberikan panduan produksi 2026 untuk katoda tembaga dan emas murni, mengingat fokus utama kami adalah mencapai kinerja smelter yang stabil dan berkelanjutan,” ujar dia.
Produksi 2025
Volume material yang ditambang pada 2025 turun 9% dari tahun ke tahun (YoY). Penurunan ini wajar mengingat 2024 merupakan puncak volume penambangan, salah satu yang tertinggi sepanjang umur tambang Batu Hijau. Sesuai rencana tambang, setelah 2024 volume penambangan kembali normal.
Kegiatan penambangan sepanjang tahun berfokus pada pengupasan lapisan batuan penutup dan penambangan bagian terluar bijih Fase 8 yang ditandai dengan bijih berkadar rendah hingga menengah. Volume bijih segar yang ditambang meningkat 60% YoY; tetapi, kadar bijih lebih rendah dibandingkan tahun sebelumnya.
Sebagai dampaknya, jarak angkut yang lebih jauh, harga bahan bakar yang lebih tinggi, serta volume material yang ditambang yang lebih rendah, biaya penambangan per unit 2025 meningkat 10% YoY, dari USD 2,24/t menjadi USD 2,54/t.