Liputan6.com, Jakarta - Krisis air bersih mulai meluas dan mengancam kehidupan ribuan warga Kabupaten Sukabumi. Salah satu wilayah yang mengalami dampak paling parah adalah Desa Sasagaran, Kecamatan Kebonpedes, di mana sumur warga kini sudah kering kerontang. Kondisi ini diperparah oleh rusaknya infrastruktur lokal yang belum sempat diperbaiki sejak tahun lalu.
"Hampir 3.000 KK di Sasagaran sudah kesulitan air bersih. Hal ini diperparah kondisi bendungan irigasi yang mengering akibat rusak oleh bencana alam tahun lalu," ungkap Kepala Desa Sasagaran, Deni Suwandi, Minggu (19/7/2026).
Advertisement
Kekeringan ini tidak hanya memukul kebutuhan domestik warga, tetapi juga mengancam sektor pertanian yang menjadi urat nadi perekonomian desa.
"Bendungan irigasi tersebut sangat penting untuk mengaliri sawah-sawah warga yang kini mengering. Ada hampir 40 hektare lebih lahan yang terancam gagal panen," jelas Deni.
Merespons situasi darurat ini, Pemerintah Desa Sasagaran bergerak cepat dengan mengirimkan surat permohonan bantuan ke Palang Merah Indonesia (PMI) Kabupaten Sukabumi.
Pihak PMI Kabupaten Sukabumi melalui Staf Penanggulangan Bencana (PB), Dikdik Maulana, membenarkan bahwa pihaknya telah menerima laporan darurat tersebut.
"Kami telah menerima surat permohonan bantuan air bersih dari Desa Sasagaran dan langsung melakukan asesmen ke lapangan," ujar Dikdik saat dikonfirmasi.
Sebagai langkah taktis untuk meringankan beban warga, armada tangki PMI langsung diterjunkan ke lokasi terdampak untuk mendistribusikan air secara gratis.
"Sebagai respons cepat, PMI hari ini menyalurkan bantuan darurat sebanyak 10.000 liter air bersih langsung ke lokasi," lanjut Dikdik.
Ia juga meminta masyarakat untuk saling mendukung dan bijak dalam menggunakan cadangan air yang ada selama masa krisis ini.
"Kami berharap warga bisa saling bergotong-royong dan menghemat air yang ada selagi proses pendistribusian bantuan kami siapkan," tutur dia.