Liputan6.com, Lampung Polemik pemblokiran akses jalan menuju SMAN 1 Labuhanratu, Kabupaten Lampung Timur, akibat protes terhadap pelaksanaan Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) Tahun Ajaran 2026/2027 berakhir damai.
Berdasarkan video yang diterima Liputan6.com, proses perdamaian berlangsung di lokasi blokade. Seorang pria yang diduga mewakili warga menyampaikan bahwa pembongkaran portal bambu diserahkan kepada pihak sekolah sebagai tanda berakhirnya aksi protes.
Advertisement
"Dengan adanya pemblokadean ini, maka saat ini juga pemblokadeannya kami serahkan kepada Bapak Kepala Sekolah untuk dibongkar," ujar perwakilan warga.
Pernyataan tersebut disaksikan sejumlah warga, personel kepolisian, serta dewan guru. Kepala SMAN 1 Labuhanratu yang hadir di lokasi pun menyambut baik keputusan tersebut.
"Terima kasih, mudah-mudahan tidak ada masalah lagi dan semuanya bisa bekerja sama," ucap kepala sekolah.
Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Provinsi Lampung, Thomas Amirico, membenarkan bahwa persoalan tersebut telah diselesaikan melalui musyawarah antara pihak sekolah dan masyarakat.
"Alhamdulillah sudah beres. Komunikasinya sudah dimulai sejak semalam dan sudah sepakat damai. Hari ini direalisasikan dengan pembukaan portal yang sempat dipasang warga," kata Thomas saat dikonfirmasi, Sabtu (18/7/2026).
Meski demikian, Thomas menegaskan tuntutan warga agar calon siswa yang tidak lolos SPMB tetap diterima di SMAN 1 Labuhanratu tidak dapat dipenuhi karena seluruh proses penerimaan wajib mengikuti petunjuk teknis (juknis) yang berlaku.
"Kami tidak bisa mengakomodasi di luar aturan. Kalau dipaksakan, justru akan menimbulkan persoalan di tempat lain," tegasnya.
Meningkatkan Pendampingan
Sebagai tindak lanjut, Disdikbud Lampung berkomitmen meningkatkan edukasi dan pendampingan kepada masyarakat menjelang pelaksanaan SPMB tahun depan.
Langkah itu dilakukan agar calon peserta didik memahami mekanisme seleksi serta memilih jalur pendaftaran yang sesuai dengan peluang mereka.
"Kalau tahun depan ada anak-anak dari keluarga sekitar yang ingin mendaftar, akan kami dampingi dan beri edukasi agar memilih jalur yang peluang lolosnya lebih besar. Yang penting tetap sesuai aturan," ujarnya.
Selain itu, hasil dialog juga menghasilkan sejumlah masukan dari warga kepada pemerintah.
Di antaranya, perlunya peningkatan sosialisasi SPMB di lingkungan sekitar sekolah, penambahan daya tampung siswa, serta pendampingan sejak awal bagi calon peserta didik agar tidak salah memilih jalur pendaftaran.
"Ke depan kami akan lebih mengedukasi masyarakat sekitar sekolah mengenai mekanisme SPMB agar mereka memahami aturan dan tidak keliru memilih jalur," pungkas Thomas.