BRIN Dorong Teknologi Pirolisis Jadi Solusi Olah Sampah Plastik

BRIN dorong pemanfaatan teknologi pirolisis untuk mengolah sampah plastik bernilai rendah menjadi bahan bakar sekaligus mendukung ekonomi sirkular.

oleh Devira PrastiwiDiterbitkan 18 Juli 2026, 20:02 WIB
Petugas melakukan pengecekan mesin pirolisis di Pengolahan Sampah Plastik Pirolisis Yayasan Get Plastic Indonesia, Cupuwatu II, Purwomartani, Kalasan, Sleman, Yogyakarta. (Antara)

Liputan6.com, Jakarta - Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mendorong pemanfaatan teknologi pirolisis sebagai solusi inovatif dalam pengelolaan sampah plastik bernilai rendah sekaligus mendukung penyusunan kebijakan berbasis bukti untuk mewujudkan sistem pengelolaan sampah secara berkelanjutan.

"Indonesia menghasilkan sekitar 38 juta ton sampah pada 2024, dengan sekitar 19-20 persen berupa sampah plastik bernilai rendah seperti kantong plastik, kemasan makanan, dan styrofoam yang sulit didaur ulang melalui metode konvensional," ujar Peneliti Pusat Riset Sistem Industri dan Manufaktur Berkelanjutan BRIN Heru Susanto dalam keterangan di Jakarta, melansir Antara, Sabtu (18/7/2026).

Dia mengatakan, teknologi pirolisis mampu mengubah sampah plastik bernilai rendah menjadi bahan bakar yang memiliki nilai ekonomi. Sehingga, kata Heru, dapat menjadi salah satu solusi untuk mengurangi beban pengelolaan sampah sekaligus mendorong penerapan ekonomi sirkular.

"Melalui teknologi pirolisis, sampah plastik bernilai rendah tersebut dapat dikonversi kembali menjadi bahan bakar yang bernilai ekonomi. Teknologi ini menjadi salah satu solusi alternatif untuk mengurangi beban pengelolaan sampah sekaligus mendorong ekonomi sirkular," ucap dia.

Heru menyebut, BRIN telah mengembangkan bahan bakar minyak terbarukan setara solar bernama Petasol yang telah mencapai tingkat kesiapterapan teknologi (TRL) 8–9 dan telah diterapkan di lebih dari 60 lokasi di Indonesia.

"Teknologi tersebut memiliki indeks kelayakan teknis 87 persen dengan periode balik modal sekitar 2,4 tahun," papar dia.

 

Hasil Pengujian Emisi

Selain itu, menurut Heru, hasil pengujian menunjukkan emisi yang dihasilkan masih berada di bawah baku mutu lingkungan.

"Berdasarkan kajian Life Cycle Assessment (LCA), emisi dari teknologi pirolisis mencapai sekitar 315 kg CO2 ekuivalen per ton, atau hingga lima kali lebih rendah dibandingkan metode open dumping, open burning, maupun insinerasi konvensional," kata dia.

Melalui riset ini, lanjut Heru, teknologi pirolisis diharapkan dapat diimplementasikan dan dilakukan replikasi ke berbagai daerah guna mendukung Indonesia bebas sampah.

Sebelumnya, Presiden Prabowo Subianto mengarahkan seluruh jajaran pemerintah, baik pusat maupun daerah, untuk konsisten dalam melakukan penanganan sampah.

Aksi nyata penanganan darurat sampah dilakukan sebagai langkah konkret dari arahan Presiden RI yang menginstruksikan penguatan konsistensi pembersihan lingkungan dan pengelolaan sampah secara berkelanjutan di seluruh penjuru Indonesia.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya