Liputan6.com, Malang - Arema FC meresmikan kedatangan tiga pemain asal Brasil pada Jumat (17/7/2026) untuk menghadapi kompetisi 2026/2027.
Dengan tambahan itu, komposisi pemain asing Singo Edan berjumlah 11 nama untuk musim mendatang.
Advertisement
"Bergabungnya mereka membuat proses perekrutan pemain asing Arema musim ini selesai. Kami harap, seluruh pemain yang telah bergabung bisa segera membangun chemistry dan beradaptasi dengan filosofi permainan tim," kata Yusrinal Fitriandi, General Manager Arema.
Adaptasi Trio Brasil di Skuad Singo Edan
Tiga rekrutan terbaru tersebut belum pernah tampil di kompetisi Indonesia sehingga dibutuhkan proses adaptasi yang cepat.
Mayoritas pemain asing Arema dan seluruh tim kepelatihan berasal dari Brasil, kondisi yang memungkinkan ketiganya mendapat dukungan adaptasi terhadap sepak bola Indonesia.
Manajemen menargetkan mereka menjadi tulang punggung tim musim depan setelah mendapat rekomendasi langsung dari pelatih kepala Marcos Santos.
"Tentu mereka sesuai kebutuhan pelatih. Kami yakin, jika melihat pengalaman beberapa musim terakhir, pemain rekrutan baru bisa tampil bagus sejak musim pertama," kata Yusrinal.
Arema FC tergolong cepat dalam perburuan pemain untuk kompetisi 2026/2027.
Jejak Karier: Careca, Gustavo, dan Marcos Vinicius
Raianderson Careca berposisi gelandang serang berusia 30 tahun. Musim lalu ia membela Terengganu FA di Liga Super Malaysia, tampil 22 kali dengan torehan delapan gol dan satu assist.
Gustavo Henrique juga berusia 30 tahun dan berperan sebagai striker utama. Ia bermain di kasta tertinggi Vietnam bersama Ninh Binh, mencatat 23 penampilan dengan kontribusi enam gol.
Marcos Vinicius, winger berusia 28 tahun, musim lalu memperkuat Volta Redonda yang berkompetisi di kasta ketiga Brasil. Ia menjadi satu-satunya dari trio ini yang belum pernah bermain di luar negaranya.
Tradisi Arema Mengorbitkan Pemain Asing Baru
Dalam empat musim terakhir, Arema kerap melahirkan rekrutan asing yang langsung memberi dampak. Nama seperti Carlos Fortes, Gustavo Almeida, dan Adilson Maringa menjadi contohnya.
Manajemen melanjutkan pola tersebut dan tidak memilih pemain asing yang sudah berstatus bintang di kompetisi Indonesia karena berbagai pertimbangan internal.
Klub menilai mendatangkan pemain asing yang baru datang ke Indonesia lebih efektif dan efisien. Selain itu, pemain anyar biasanya tampil maksimal demi membangun kariernya.