Antam Masih Simpan Dana Rights Issue Rp 203,29 Miliar, Ini Rencana Penggunaannya

PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) atau Antam akan menyerap seluruh dana rights issue pada 2026.

oleh Tira SantiaDiterbitkan 17 Juli 2026, 11:00 WIB
PT Aneka Tambang Tbk atau Antam. (dok: humas)

Liputan6.com, Jakarta - PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) atau Antam masih menyisakan dana sebesar Rp 203,29 miliar dari hasil penawaran umum dengan hak memesan efek terlebih dahulu (HMETD) atau rights issue yang digelar pada 2025. 

Mengutip keterbukaan informasi BEI, Jumat (17/7/2026) dana tersebut ditargetkan akan dimanfaatkan pada semester II 2026 untuk mendukung kebutuhan modal kerja serta pengembangan usaha perseroan.

Dalam laporan realisasi penggunaan dana hasil rights issue per 30 Juni 2026, Direktur Keuangan dan Manajemen Risiko Antam, Arini Kasmira, menjelaskan rights issue perseroan memperoleh pernyataan efektif pada 22 Oktober 2025. Dari aksi korporasi tersebut, Antam berhasil menghimpun dana sebesar Rp 5,37 triliun.

Perolehan dana tersebut berasal dari penyertaan modal negara senilai Rp 3,49 triliun dan dana masyarakat sebesar Rp 1,88 triliun. Setelah dikurangi biaya pelaksanaan penawaran umum sebesar Rp 22,39 miliar, perseroan mengantongi hasil bersih Rp 5,35 triliun.

Sesuai rencana penggunaan dana, alokasi Rp 3,49 triliun ditujukan untuk pembangunan Pabrik Feronikel Haltim Tahap I. Sementara itu, sekitar Rp 1,85 triliun dialokasikan untuk memenuhi kebutuhan modal kerja maupun mendukung proyek-proyek pengembangan lainnya.

Hingga akhir Juni 2026, penggunaan dana untuk pembangunan Pabrik Feronikel Haltim Tahap I telah terealisasi sepenuhnya atau mencapai 100 persen. Adapun penyerapan dana yang dialokasikan bagi modal kerja dan pengembangan usaha telah mencapai 89,07 persen.

Dengan demikian, Antam masih memiliki sisa dana hasil rights issue sebesar Rp 203,29 miliar atau sekitar 3,78 persen dari total hasil bersih yang diperoleh.

Arini mengatakan, dana yang belum terserap tersebut akan digunakan secara bertahap untuk mendukung operasional dan pengembangan bisnis perseroan. Target penyelesaiannya ditetapkan pada semester II 2026.

Laba ANTM Melonjak 106% pada 2025

PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) bagian dari holding pertambangan MIND ID (Foto: Mind ID)

Sebelumnya, PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) atau Antam mencatatkan kinerja keuangan yang kuat sepanjang 2025 dengan torehan penjualan dan laba bersih tertinggi dalam sejarah perusahaan. Kinerja ini didukung oleh peningkatan operasional, efisiensi biaya, serta optimalisasi portofolio komoditas.

Melansir keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI), Rabu (1/4/2026), laba tahun berjalan ANTM mencapai Rp 7,92 triliun, melonjak 106% dibandingkan 2024 sebesar Rp 3,85 triliun. Sejalan dengan itu, EBITDA meningkat 56% menjadi Rp 10,51 triliun dari Rp 6,73 triliun pada periode sebelumnya. 

Kinerja profitabilitas juga tercermin dari laba kotor sebesar Rp 13,68 triliun (naik 111%) dan laba usaha Rp 8,40 triliun (melonjak 180%). Sementara itu, beban keuangan turun 30% menjadi Rp 167,10 miliar.

Direktur Utama ANTAM Untung Budiharto menyampaikan, capaian kinerja ANTAM pada 2025 memperkuat posisi Perusahaan sebagai perusahaan pertambangan mineral terintegrasi yang berorientasi pada penciptaan nilai jangka panjang, serta mampu memberikan kontribusi berkelanjutan bagi pemegang saham, pemangku kepentingan, dan pembangunan industri nasional.

 

Aset Meningkat

PT Aneka Tambang (Persero) Tbk (ANTM). (Foto: Antam)

Dari sisi neraca, total aset meningkat 18% menjadi Rp 52,53 triliun, sedangkan ekuitas tumbuh 14% menjadi Rp 36,60 triliun. Arus kas operasi juga naik 53% menjadi Rp 5,62 triliun, dengan posisi kas dan setara kas melonjak 77% menjadi Rp 8,43 triliun.

Dari sisi pendapatan, ANTM membukukan penjualan sebesar Rp 84,64 triliun, naik 22% dibandingkan Rp 69,19 triliun pada 2024. Pasar domestik masih menjadi kontributor utama dengan porsi sekitar 96% dari total penjualan.

"Kinerja operasional yang optimal menjadi kontributor utama dalam memperkuat kinerja keuangan Perusahaan, didukung dengan pengelolaan keuangan yang prudent dalam menjaga soliditas struktur neraca dan posisi keuangan. Hal ini tercermin pada capaian finansial yang solid yang didukung oleh kontribusi positif dari portofolio komoditas utama Perusahaan ,” kata Untung di keterbukaan informasi.

Secara operasional, pertumbuhan kinerja ditopang oleh penjualan emas yang tetap dominan dengan kontribusi sekitar 79% atau Rp 66,47 triliun, tumbuh 15% secara tahunan. Segmen nikel menyumbang Rp 14,85 triliun atau 18% dari total penjualan, meningkat 56%, sementara bauksit dan alumina berkontribusi Rp 2,92 triliun atau naik signifikan 62%.

Peningkatan produksi dan penjualan pada komoditas utama, termasuk bijih nikel, bauksit, dan alumina, turut memperkuat kinerja perseroan sepanjang tahun.

 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya