Liputan6.com, Jakarta - Teknologi fast charging (pengisian daya cepat) telah merambah berbagai industri. Banyak ponsel pintar, yang kini bisa terisi daya dari hampir kosong, hingga lebih dari 50 persen hanya dalam waktu sekitar setengah jam.
Sementara, beberapa mobil listrik, juga dapat menambah jarak tempuh hingga ratusan kilometer dengan pengisian daya yang singkat.
Advertisement
Namun, baterai bukanlah sesuatu yang sempurna. kapasitasnya bisa menurun seiring waktu. Selain itu, mengingat pengisian daya cepat memberikan daya lebih besar dalam waktu yang singkat, apakah bisa merusak baterai?
Disitat dari Livescience, Kamis (16/7/2026), para ilmuwan berpendapat kalau pengisian baterai cepat memang bisa merusak baterai. Namun, hal tersebut, ternyata lebih rumit dari yang dibayangkan.
Pengisian daya cepat dapat mempercepat beberapa jenis degradasi baterai, tetapi baterai modern dirancang dengan pengamanan untuk membantu membatasi kerusakan.
Bagaimana cara kerja pengisian daya cepat?
Baterai lithium-ion yang digunakan di sebagian besar smartphone bekerja dengan memindahkan ion lithium antara dua elektroda, yaitu katoda dan anoda. Perbedaan utama antara pengisian daya biasa dan pengisian cepat, terletak dari kecepatan perpindahan ion tersebut.
Jika pengisian normal membutuhkan waktu beberapa jam, pengisian cepat meningkatkan arus dan daya sehingga baterai dapat terisi penuh dalam waktu sekitar satu jam atau bahkan kurang.
"Pengisian daya biasa menggunakan arus yang lebih rendah, sehingga ion lithium dapat masuk ke anoda secara bertahap. Proses ini menghasilkan panas yang minim dan hanya menimbulkan tekanan mekanis dalam jumlah kecil," kata Zhiyuan Jiang, Associate Professor di Department of Chemical Engineering and Technology, Xi'an Jiaotong University, China.
Kemampuan baterai menerima pengisian cepat juga bergantung pada material, struktur internal, serta sistem manajemen baterainya.
Sementara itu, peneliti baterai dari University of Oxford, Stanislaw Zankowski, mengibaratkan proses pengisian daya seperti lalu lintas di sebuah kota yang harus diatur agar tidak menimbulkan kemacetan.
Kerusakan yang Bisa Ditimbulkan
Meski praktis, pengisian cepat dapat mempercepat penuaan baterai melalui proses yang disebut lithium plating.
Dalam kondisi pengisian sangat cepat, sebagian ion lithium tidak sempat tersimpan dengan baik di anoda sehingga berubah menjadi endapan logam di permukaan elektroda. Akibatnya, kapasitas penyimpanan energi baterai perlahan menurun.
Pada kondisi ekstrem, endapan tersebut bahkan dapat membentuk struktur menyerupai jarum yang berpotensi merusak komponen internal baterai dan memicu masalah keamanan.
Selain itu, pengisian cepat juga menghasilkan panas lebih tinggi dibanding pengisian biasa. Semakin besar arus yang dialirkan, semakin tinggi suhu yang muncul. Temperatur yang terlalu tinggi mampu mempercepat reaksi kimia di dalam baterai sehingga material penyusunnya lebih cepat mengalami degradasi.
Dalam kasus yang sangat jarang, panas berlebih juga dapat menyebabkan baterai menggelembung, terbakar, hingga mengalami thermal runaway.
Kabar baiknya, smartphone, laptop, hingga mobil listrik modern telah dibekali Battery Management System (BMS) yang terus memantau tegangan, arus, dan suhu baterai selama proses pengisian. Jika suhu terdeteksi terlalu tinggi, sistem akan otomatis memperlambat kecepatan pengisian demi menjaga keamanan sekaligus memperpanjang usia baterai.
Bagaiman Cara Menjaga Kesehatan Baterai?
Untuk menjaga kesehatan baterai, para ahli menyarankan agar pengguna menghindari mengisi daya di tempat yang terlalu panas, seperti di dalam mobil yang terparkir atau di bawah sinar matahari langsung.
Suhu ideal pengisian berada di kisaran 20 hingga 25 derajat Celsius.
Selain itu, biasakan menjaga kapasitas baterai di rentang 20 hingga 80 persen untuk penggunaan harian dan hindari membiarkan perangkat terus terhubung ke charger setelah baterai penuh jika memang tidak diperlukan.
Kebiasaan sederhana ini dinilai lebih berpengaruh terhadap umur baterai dibanding sekadar memilih fast charging atau pengisian biasa.