Rupiah Dibuka Menguat, Pernyataan BI Redakan Tekanan Dolar

Kurs rupiah menguat tipis pada Kamis pagi. Dukungan datang dari langkah Bank Indonesia serta melemahnya dolar AS usai inflasi AS turun.

oleh Arthur GideonDiterbitkan 16 Juli 2026, 11:00 WIB
Karyawan bank menunjukkan mata uang dolar Amerika Serikat (AS) di Jakarta. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Liputan6.com, Jakarta - Nilai tukar rupiah menguat tipis terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada pembukaan perdagangan Kamis (16/7/2026). Penguatan mata uang Garuda ditopang oleh langkah Bank Indonesia (BI) dalam menjaga stabilitas nilai tukar, ditambah melemahnya dolar AS setelah data inflasi Negeri Paman Sam dirilis lebih rendah dari perkiraan pasar.

Kurs rupiah menguat 5 poin atau 0,03% menjadi 18.063 per dolar AS, dibandingkan penutupan sebelumnya di level 18.068 per dolar AS.

Research and Development Indonesia Commodity & Derivatives Exchange (ICDX), Muhammad Amru Syifa, mengatakan bahwa penguatan rupiah lebih banyak didorong oleh sentimen positif dari kebijakan Bank Indonesia.

"Tidak terdapat rilis data ekonomi utama yang secara langsung memengaruhi pergerakan rupiah. Namun, sentimen positif datang dari pernyataan Bank Indonesia yang menegaskan telah memperkuat langkah stabilisasi nilai tukar melalui intervensi di pasar Non-Deliverable Forward (NDF) offshore sejak April 2026," ungkap dia dikutip dari Antara. 

Selain melakukan intervensi di pasar NDF offshore, BI juga menyampaikan bahwa pemantauan pasar valuta asing dilakukan secara berkelanjutan melalui kantor perwakilannya di luar negeri. Upaya tersebut diperkuat dengan perluasan instrumen operasi moneter.

Menurut Amru, langkah tersebut meningkatkan keyakinan pelaku pasar bahwa BI memiliki instrumen yang memadai untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah ketidakpastian ekonomi global.

 

Faktor Eksternal

Karyawan bank menunjukkan mata uang dolar Amerika Serikat (AS) di Jakarta. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Selain faktor domestik, rupiah juga mendapat dorongan dari pelemahan dolar AS setelah inflasi Amerika Serikat menunjukkan tren perlambatan.

Inflasi konsumen tahunan AS atau Consumer Price Index (CPI) turun menjadi 3,5% pada Juni 2026, lebih rendah dibandingkan ekspektasi pasar. Angka tersebut juga melambat dari 4,2% pada Mei 2026, terutama dipengaruhi oleh penurunan tajam harga energi.

Secara bulanan, indeks harga konsumen AS turun 0,4% pada Juni setelah pada Mei meningkat 0,5%. Sementara itu, inflasi inti tercatat tidak berubah secara bulanan dan melambat menjadi 2,6% secara tahunan dari sebelumnya 2,9%.

"Ini memperkuat ekspektasi pasar bahwa Federal Reserve memiliki ruang untuk melonggarkan kebijakan moneternya. Kondisi tersebut menekan permintaan terhadap dolar AS dan memberikan ruang bagi mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, untuk menguat," kata Amru.

Dengan kombinasi sentimen dari dalam dan luar negeri tersebut, pergerakan rupiah diperkirakan masih akan dipengaruhi oleh arah kebijakan Bank Indonesia, ekspektasi pasar terhadap suku bunga Federal Reserve, serta perkembangan data ekonomi global dalam beberapa waktu ke depan.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya