Liputan6.com, Jakarta - Di tengah masifnya perkembangan kecerdasan buatan (AI) yang mulai mengambil alih berbagai sektor pekerjaan, manusia rupanya tidak perlu sepenuhnya merasa terancam. Teknologi secanggih apa pun dinilai tidak akan pernah bisa menggantikan dua kemampuan fundamental yang melekat pada diri manusia.
Hal tersebut diungkapkan Vice President Customer Engineering Google Cloud Asia Pacific, Moe Abdula. Menurutnya, kemampuan dasar manusia terbukti selalu tetap relevan dalam menghadapi setiap gelombang pergeseran teknologi di masa lalu hingga era AI saat ini.
Advertisement
Kemampuan pertama yang tidak dimiliki oleh mesin adalah empati dan kapasitas untuk membangun koneksi antarsesama.
"Kemampuan memahami emosi, merasakan apa yang dialami orang lain, serta memberikan respons sosial yang tepat adalah aspek murni manusiawi yang sulit direplikasi oleh teknologi," ujar Moe, dikutip dari Antara, Kamis (16/7/2026).
Ia mencontohkan profesi petugas kepolisian yang harus berinteraksi langsung dengan masyarakat di lapangan. Dalam menghadapi berbagai situasi konflik, seorang polisi dituntut memiliki penalaran dan kepekaan emosional yang tinggi.
"Keterampilan memahami bagaimana meredakan ketegangan, memahami kondisi, dan membantu seseorang memahami apa yang benar atau salah adalah hal yang sangat manusiawi," ujar Moe.
Faktor inilah yang membuat profesi-profosi yang mengandalkan penalaran emosional dan hubungan interpersonal akan sangat sulit digantikan oleh AI.
Kemampuan Beradaptasi dan Berinovasi
Kedua, keunggulan mutlak manusia lainnya adalah kemampuan untuk terus mencari tahu cara kerja sesuatu dan beradaptasi terhadap perubahan.
Moe memaparkan bahwa AI pada dasarnya bekerja secara reaktif, yakni terbatas pada data dan instruksi yang diberikan oleh manusia.
Sebaliknya, manusia memiliki modal kreativitas untuk menciptakan cara baru dalam menyelesaikan masalah dan fleksibilitas untuk terus menyesuaikan diri dengan zaman.
Sejarah mencatat bagaimana manusia terus beradaptasi. Dari yang awalnya memanfaatkan hewan sebagai alat transportasi, manusia terus berinovasi hingga mampu menciptakan kendaraan modern.
Teknologi Sebagai Alat Bantu
Pergeseran serupa juga terjadi di dunia pendidikan dan profesional ketika kalkulator ditemukan. Kemampuan berhitung manual yang semula dianggap sebagai tolok ukur kecerdasan langsung bergeser.
Alih-alih tersisih, manusia justru memanfaatkan kalkulator untuk menyelesaikan persoalan sains yang jauh lebih kompleks.
Moe menegaskan, di era AI saat ini, kemampuan untuk beradaptasi dan memanfaatkan teknologi sebagai alat bantu untuk menciptakan inovasi baru adalah keterampilan krusial yang harus terus diasah.
"Manusia terus menemukan cara baru untuk bekerja dan memanfaatkan teknologi. Itu adalah keterampilan yang hanya dimiliki manusia," ia memungkaskan.