Liputan6.com, Washington, DC - Militer Amerika Serikat (AS) kembali meluncurkan gelombang serangan udara baru ke wilayah Iran pada Kamis (16/7/2026) dini hari. Gempuran ini menyasar wilayah strategis di Pulau Qeshm, Bandar Abbas, hingga Chabahar.
Langkah tersebut diambil setelah AS memberlakukan kembali blokade laut ketat di pelabuhan-pelabuhan Iran. Gelombang serangan terbaru ini melanjutkan operasi militer masif yang berlangsung sepanjang hari Rabu (15/7).
Advertisement
Berdasarkan laporan Al Jazeera, Presiden Iran Masoud Pezeshkian merespons serangan AS dengan menegaskan bahwa negaranya tidak akan mundur satu langkah pun.
"Iran akan mempertahankan setiap inci wilayahnya. Segala upaya musuh untuk memecah belah negara ini dipastikan gagal," ungkap Pezeshkian dalam pidato nasionalnya.
Juru bicara pemerintah Iran, Fatemeh Mohajerani, mengumumkan bahwa rangkaian gempuran udara AS di sepanjang pantai selatan telah memicu jatuhnya korban sipil. Sedikitnya 30 warga sipil tewas dan lebih dari 260 lainnya luka-luka di Iran akibat eskalasi militer beberapa hari terakhir.
Penghancuran Situs Rudal di Greater Tunb
Dalam serangan pada Rabu, AS menggempur Pulau Greater Tunb selama 90 menit menggunakan amunisi berpanduan presisi. Operasi Komando Pusat AS (CENTCOM) ini menyasar sistem pertahanan pesisir serta fasilitas penyimpanan dan peluncuran rudal jelajah Iran.Melalui rilis resmi, CENTCOM menegaskan operasi ini bertujuan melumpuhkan kapabilitas militer Iran yang digunakan untuk mengancam kapal komersial di Selat Hormuz.
Melalui rilis resmi, CENTCOM menegaskan operasi ini bertujuan melumpuhkan kapabilitas militer Iran yang digunakan untuk mengancam kapal komersial di Selat Hormuz.
Sebagai respons, Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) merilis pernyataan tegas bahwa Selat Hormuz akan tetap ditutup total bagi pelayaran internasional. IRGC menegaskan tidak akan mengizinkan ekspor minyak kawasan Teluk dilanjutkan selama agresi militer AS masih berlangsung.
IRGC Balas Serang Tiga Negara
Aksi agresif AS pada Rabu memicu balasan dari divisi angkatan dirgantara IRGC. Mereka meluncurkan hujan rudal balistik dan drone ke pangkalan militer AS di tiga negara.
Target pembalasan tersebut meliputi markas besar Armada Kelima AS di Bahrain, pusat logistik militer AS di Mina Abdullah (Kuwait), serta Pangkalan Udara Al-Azraq di Yordania.
Ketua Parlemen Iran yang juga bertindak sebagai negosiator utama, Mohammad Baqer Qalibaf, menyatakan lewat saluran Telegram resminya bahwa pelanggaran blokade oleh AS telah otomatis membatalkan MoU Islamabad—perjanjian gencatan senjata sementara yang ditandatangani kedua negara pada 17 Juni lalu. Qalibaf menekankan bahwa era perjanjian sepihak yang hanya merugikan Iran telah berakhir.
"Kami tengah menghadapi perang yang mendasar dan eksistensial dengan AS," tegas Qalibaf.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, juga menegaskan bahwa Teheran saat ini tidak berencana kembali ke meja perundingan.
"Kami saat ini tidak memiliki rencana untuk berunding dan tengah berfokus pada pertahanan," kata Baghaei, seperti dikutip kantor berita Tasnim.
Ultimatum Trump
Di sisi lain, Presiden Donald Trump mengeluarkan ancaman dalam wawancara bersama Fox News pada Selasa (14/7). Trump mengancam akan menghancurkan fasilitas publik di pedalaman Iran jika Teheran menolak bernegosiasi.
Trump memberikan batas waktu hingga pekan depan sebelum militernya menyasar infrastruktur sipil Iran.
"Pekan depan kami akan menyerang pembangkit listrik dan jembatan mereka, kecuali jika mereka kembali ke meja perundingan," ancam Trump.
Trump menambahkan bahwa ia sengaja menyimpan fasilitas energi Iran sebagai target terakhir dari kampanye tekanan militernya.