Mengapa Blok Masela Baru Dibangun Setelah Ditemukan 26 Tahun Lalu?

Blok Masela ditemukan sejak 2000, namun baru memasuki tahap pembangunan pada 2026. Simak alasan proyek migas raksasa ini membutuhkan waktu panjang.

oleh Arthur GideonDiterbitkan 16 Juli 2026, 09:40 WIB
Ilustrasi blok gas abadi Masela. (Dok inpex.com)

Liputan6.com, Jakarta - Presiden Prabowo Subianto dijadwalkan melakukan peletakan batu pertama (groundbreaking) Proyek LNG Abadi Blok Masela di Kabupaten Kepulauan Tanimbar, Maluku, Kamis (16/7/2026). Momen ini menjadi tonggak penting bagi proyek gas raksasa yang telah menempuh perjalanan panjang selama lebih dari dua dekade.

Tak sedikit yang bertanya, mengapa proyek sebesar Blok Masela baru mulai dibangun sekarang, padahal cadangan gasnya telah ditemukan sejak tahun 2000?

Dikutip dari laman Inpex, Kamis (16/7/2026), Inpex sebagai operator proyek, perjalanan Blok Masela memang diwarnai berbagai tahapan teknis, perubahan konsep pengembangan, hingga masuknya mitra baru sebelum akhirnya siap memasuki tahap konstruksi.

Inpex pertama kali memperoleh hak kelola Blok Masela pada 1998. Dua tahun kemudian, perusahaan asal Jepang itu menemukan Lapangan Gas Abadi, yang kemudian menjadi salah satu temuan cadangan gas terbesar di Indonesia.

Meski demikian, penemuan cadangan gas tidak berarti proyek bisa langsung dibangun. Pengembangan lapangan migas berskala raksasa memerlukan serangkaian studi teknis, kajian keekonomian, perizinan, hingga persetujuan pemerintah.

 

Proyek Ramah Lingkungan

Proyek Lapangan Gas Abadi di Blok Masela, yang ditetapkan sebagai Proyek Strategis Nasional (PSN) oleh Pemerintah Indonesia. (Dok SKK Migas)

Perjalanan proyek memasuki babak baru pada Juli 2019 ketika pemerintah Indonesia menyetujui Plan of Development (POD) atau rencana pengembangan Blok Masela. Saat itu, proyek dirancang memiliki kapasitas produksi LNG sekitar 9,5 juta ton per tahun.

Namun, rencana tersebut kembali mengalami perubahan.

Inpex memutuskan menyempurnakan konsep pengembangan dengan menambahkan teknologi Carbon Capture and Storage (CCS) agar proyek lebih ramah lingkungan, memiliki daya saing jangka panjang, sekaligus mendukung target pengurangan emisi karbon.

Revisi rencana pengembangan tersebut diajukan kepada pemerintah Indonesia pada April 2023 dan akhirnya memperoleh persetujuan pada Desember 2023.

Pada tahun yang sama, proyek juga mengalami perubahan struktur kepemilikan setelah Pertamina dan perusahaan energi asal Malaysia, Petronas, resmi bergabung sebagai mitra.

Saat ini kepemilikan proyek terdiri atas Inpex Masela Ltd sebagai operator dengan porsi 65%, Pertamina 20%, dan Petronas 15%.

 

Proyek LNG Terbesar di Asia

Setelah revisi rencana pengembangan disetujui, proyek memasuki tahap Front End Engineering and Design (FEED) pada Agustus 2025. Tahap ini merupakan proses rekayasa dasar yang menjadi fondasi sebelum proyek memasuki keputusan investasi akhir atau Final Investment Decision (FID).

Selain FEED, pengembang juga masih harus menyelesaikan berbagai persiapan lain, mulai dari memperoleh persetujuan analisis dampak lingkungan dan sosial, pengadaan lahan, pembahasan pendanaan proyek, hingga pemasaran LNG kepada calon pembeli.

INpex menyebut Proyek LNG Abadi merupakan salah satu proyek LNG terbesar di Asia. Nantinya, proyek tersebut diproyeksikan menghasilkan sekitar 9,5 juta ton LNG per tahun, kondensat hingga 35.000 barel per hari, serta memasok gas melalui pipa sebesar 150 juta kaki kubik per hari (MMscfd) untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri.

Dengan kata lain, lamanya waktu pengembangan Blok Masela bukan semata karena pembangunan yang tertunda, melainkan karena kompleksitas proyek migas berskala besar.

Pengembangan lapangan gas lepas pantai membutuhkan proses bertahap mulai dari eksplorasi, penyusunan desain, persetujuan pemerintah, penyempurnaan teknologi, pencarian mitra strategis, hingga kesiapan investasi sebelum akhirnya memasuki tahap pembangunan fisik.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya