Slow Tourism, Melambat untuk Menemukan Pengalaman yang Lebih Bermakna

Konsep slow tourism selaras dengan pengalaman liburan berkualitas.

oleh Alfareza RamadhaniDiterbitkan 18 Juli 2026, 21:00 WIB
Ilustrasi travel essential yang harus masuk koper sebelum berangkat liburan. (dok. Blibli)

Liputan6.com, Jakarta - Liburan kini tidak lagi selalu diukur dari banyaknya destinasi yang berhasil dikunjungi dalam waktu singkat. Dengan slow tourism, semakin banyak wisatawan memilih memperlambat ritme perjalanan agar dapat menikmati setiap momen dengan lebih utuh.

Mereka meluangkan waktu untuk mengenal budaya setempat, mencicipi kuliner khas, berbincang dengan warga lokal, atau sekadar berjalan santai menyusuri sudut-sudut kota tanpa diburu jadwal. Pergeseran pola berwisata ini pun mulai mendapat perhatian di industri pariwisata.

Pendekatan tersebut menggeser kebiasaan mengejar daftar tempat wisata sebanyak mungkin dalam satu perjalanan. Wisatawan kini lebih mengutamakan pengalaman yang berkesan dibandingkan jumlah lokasi yang berhasil didatangi.

Mereka memilih menetap lebih lama di satu destinasi untuk memahami kehidupan masyarakat, menyelami tradisi lokal, sekaligus memberikan dampak ekonomi bagi pelaku usaha setempat. Konsep ini dikenal sebagai slow tourism.

Dewan Pakar BA Center Bidang Pariwisata, Taufan Rahmadi, menilai perubahan tersebut mencerminkan evolusi cara masyarakat memaknai perjalanan. "Saat ini orang bukan hanya ingin banyak-banyakan destinasi yang dikunjungi, tapi mencari pengalaman yang lebih bermakna," katanya melalui pesan suara pada Lifestyle Liputan6.com, Rabu, 15 Juli 2026.

Menurut Taufan, slow tourism mendorong wisatawan untuk menikmati sebuah destinasi secara lebih mendalam. Interaksi dengan masyarakat lokal, kekayaan kuliner, keindahan alam, dan budaya setempat menjadi bagian penting dari pengalaman berwisata yang tidak lagi dibatasi oleh waktu.

Slow Tourism Tak Harus Mahal atau Libur Panjang

Museum Benteng Vredeburg merupakan salah satu destinasi wisata sejarah dan budaya di Yogyakarta. (Liputan6.com/Asnida Riani)

Konsep slow tourism sering kali dianggap hanya dapat dinikmati oleh wisatawan yang memiliki waktu liburan panjang dan anggaran besar. Taufan menilai, anggapan tersebut kurang tepat karena esensi slow tourism tidak terletak pada lamanya perjalanan atau kemewahan yang dinikmati, melainkan pada kualitas pengalaman selama berada di destinasi.

"Yang terpenting adalah wisatawan bisa menikmati destinasi itu secara mendalam," ujarnya. Menurut dia, wisatawan yang hanya memiliki waktu dua hari di Yogyakarta, misalnya, tetap dapat menerapkan konsep ini.

Alih-alih mengejar banyak destinasi, mereka cukup mengunjungi beberapa tempat, mencicipi kuliner khas, menginap di homestay, atau mengikuti aktivitas budaya setempat. Pendekatan tersebut menghadirkan pengalaman yang lebih autentik tanpa harus mengeluarkan biaya besar maupun mengambil cuti lebih lama.

Menikmati Slow Tourism Saat Cuti Singkat

Pemandangan dari dermaga Loh Buaya, Pulau Komodo, Taman Nasional Komodo (TNK) di lepas pantai Labuan Bajo, Nusa Tenggara Timur (NTT). (Liputan6.com/Asnida Riani)

Masyarakat yang hanya memiliki waktu libur dua hingga tiga hari tetap dapat menerapkan konsep slow tourism melalui perencanaan perjalanan yang lebih realistis. Taufan menyarankan wisatawan memilih destinasi yang lokasinya tidak terlalu jauh agar waktu liburan lebih banyak dinikmati di tempat tujuan, bukan habis di perjalanan.

Ia juga mengingatkan agar wisatawan tidak menyusun agenda yang terlalu padat. Menyempatkan diri berjalan kaki, mencicipi kuliner khas, atau menikmati suasana sekitar justru dapat membuat perjalanan terasa lebih berkesan.

"Kurangi dorongan untuk selalu mengejar konten media sosial. Coba batasi tempat-tempat yang memang menjadi prioritas. Meski hanya memiliki cuti dua atau tiga hari, pengalaman wisatanya tetap berkualitas," ujarnya.

Taufan menegaskan, liburan yang memuaskan tidak ditentukan oleh banyaknya destinasi yang dikunjungi, melainkan seberapa dalam wisatawan menikmati pengalaman selama berada di suatu tempat.

Lebih dari Sekadar Cara Berlibur

Ilustrasi travel essential yang harus masuk koper sebelum berangkat liburan. (dok. Blibli)

Selain menghadirkan pengalaman yang lebih personal, slow tourism juga dinilai memberikan manfaat bagi lingkungan dan masyarakat setempat. Taufan menjelaskan, konsep ini membantu mengurangi tekanan akibat mass tourism karena arus wisatawan tidak terpusat di satu lokasi dalam waktu bersamaan.

Wisatawan juga cenderung membelanjakan uangnya kepada pelaku usaha lokal, seperti homestay, UMKM, dan pemandu wisata, sehingga manfaat ekonomi dapat dirasakan lebih merata. "Prinsip slow tourism selaras dengan quality tourism yang saat ini memang menjadi arah pembangunan pariwisata Indonesia," ujarnya.

"Saya ingin kita mencoba sama-sama mengubah mindset kita saat berlibur. Orientasinya bukan berbicara seberapa banyak destinasi wisata yang bisa dikunjungi, tapi apa pengalaman yang saya dapatkan pada saat berwisata. Jadi pilih destinasi yang oke, respect the culture, menggunakan produk lokal, serta menjaga kelestarian alam," tutupnya.

POPULER

Berita Terbaru

    Berita Terkini Selengkapnya