Liputan6.com, Jakarta - Ada momen dalam sepak bola yang terasa lebih berat dari sekadar hasil pertandingan. Bukan soal siapa menang atau kalah, melainkan soal waktu yang perlahan menutup babak panjang seorang pemain bersama seragam negaranya.
Piala Dunia 2026 di Amerika Serikat, Meksiko, dan Kanada menjadi satu di antara panggung paling emosional dalam sejarah modern turnamen ini karena di sinilah tiga nama yang membentuk satu generasi emas sepak bola dunia: Neymar, Cristiano Ronaldo, dan Lionel Messi, sama-sama mendekati ujung perjalanan mereka bersama timnas masing-masing.
Advertisement
Tiga jalan berbeda, tiga akhir yang berbeda pula, tetapi sama-sama meninggalkan jejak yang sulit dilupakan.
Sepak Bola Dunia Mengucap Salam Perpisahan
Ada sesuatu yang puitis sekaligus menyayat ketika tiga pemain yang selama dua dekade terakhir menjadi wajah sepak bola dunia, tiba di titik yang sama secara hampir bersamaan.
Cristiano Ronaldo, di usia 41 tahun, secara terbuka mengumumkan Piala Dunia 2026 adalah panggung terakhirnya.
"Ini adalah Piala Dunia terakhir saya, tapi semoga besok bukanlah laga terakhir saya," ucapnya jelang duel melawan Spanyol di babak 16 besar.
Ia menambahkan dengan nada yang begitu jujur, apa pun hasilnya, ia akan pergi dengan hati nurani yang jernih karena telah memberikan segalanya dalam sepak bola.
Neymar mengambil jalan yang lebih tiba-tiba dan penuh air mata. Tepat setelah peluit panjang berbunyi menandai kekalahan Brasil 1-2 dari Norwegia di babak 16 besar, ia langsung mengumumkan pensiun dari timnas di depan kamera.
"Saya sudah mencoba. Semuanya dimulai di sini, di MetLife Stadium, dan saya juga mengakhirinya di sini. Sekarang semuanya sudah selesai," ucapnya, dikutip dari Al Jazeera.
Ada detail yang membuat momen itu makin berat secara emosional, yaitu stadion yang sama tempat ia melakoni debut bersama Brasil pada 10 Agustus 2010, kini juga menjadi tempat ia menutup ceritanya bersama Selecao.
Sementara Messi, meski Argentina masih melaju hingga tulisan ini dibuat, bayang-bayang perpisahan tetap terasa.
Di usia 39 tahun, banyak yang menyadari Piala Dunia 2026 sangat mungkin menjadi turnamen dunia terakhirnya, mengingat usia dan siklus empat tahunan pesta bola ini.
Jejak Panjang di Panggung Terbesar Sepak Bola
Jika ada satu hal yang menyatukan ketiganya, itu adalah betapa lama dan konsisten mereka hadir di ajang Piala Dunia, sesuatu yang jarang dimiliki generasi mana pun sebelumnya.
Ronaldo dan Messi mencatatkan diri sebagai pemain yang tampil di enam edisi Piala Dunia beruntun sejak debut di Jerman pada 2006.
Secara khusus, Ronaldo menjadi pemain pertama sepanjang sejarah yang mampu mencetak gol di enam edisi Piala Dunia yang berbeda secara berturut-turut. Namun, di balik semua rekor itu, ada satu hal yang tak pernah dapat digenggam, trofi Piala Dunia.
Pencapaian terbaik Ronaldo hanya sampai semifinal, tepatnya pada Piala Dunia 2006, sebuah ironi bagi satu di antara pesepak bola terhebat sepanjang masa.
Messi menempati posisi yang jauh berbeda dalam hal pencapaian kolektif. Ia sudah menjuarai Piala Dunia 2022 di Qatar, mengangkat trofi yang selama bertahun-tahun terasa seperti satu-satunya keping puzzle yang hilang dari kariernya.
Di edisi 2026, ia kembali menunjukkan usia hanyalah angka.
La Pulga kembali ke puncak daftar pencetak gol terbanyak turnamen dengan delapan gol hanya dari lima laga, mempertajam rekornya sebagai pencetak gol terbanyak sepanjang sejarah Piala Dunia dengan total 21 gol dari 31 pertandingan, melampaui torehan Kylian Mbappe.
Ia juga memecahkan rekor assist terbanyak sepanjang masa Piala Dunia dengan sembilan assist, menyalip catatan seniornya yang juga sang legenda, Diego Maradona.
Perjalanan Messi di Piala Dunia 2026 ini tidak selalu mulus. Dalam babak 16 besar melawan Mesir, ia mencatatkan rekor yang sebenarnya tidak ingin dimiliki siapa pun.
Mantan bintang Barcelona dan PSG itu menjadi pemain pertama dalam sejarah Piala Dunia yang gagal mengeksekusi dua penalti dalam satu edisi turnamen yang sama, ia sebelumnya juga gagal saat melawan Austria di fase grup.
Namun, seperti biasa, sang kapten membuktikan kelasnya dengan cara lain, tepatnya setelah penaltinya digagalkan kiper Mesir, Messi justru mencetak assist untuk gol penyeimbang Argentina dan kemudian ikut mencetak gol penentu yang membawa timnya menang dramatis 3-2, memastikan jalan ke babak delapan besar.
Bagaimana dengan Neymar? Bintang Brasil itu berjuang dengan cerita yang jauh lebih pahit. Cedera betis yang berkepanjangan membuatnya nyaris kehilangan seluruh turnamen.
Sepanjang lima pertandingan Brasil, ia hanya tampil sebagai pemain pengganti dalam dua laga dengan total waktu bermain sekitar 37 menit.
Gol terakhirnya bersama Brasil datang lewat eksekusi penalti dramatis di masa injury time saat menghadapi Norwegia, gol yang sayangnya hanya menjadi pemanis kekalahan, bukan penyelamat.
Bermain di Piala Dunia bukan hanya soal kualitas teknik dan mental bertanding. Turnamen dengan intensitas tinggi ini juga menuntut kesiapan fisik yang prima agar para pemain mampu menjaga performa dari satu pertandingan ke pertandingan berikutnya. Menjaga tubuh tetap terhidrasi pun menjadi satu di antara faktor penting dalam mendukung aktivitas dan performa di level tertinggi.
Semangat menjaga tubuh tetap terhidrasi untuk mendukung gaya hidup aktif inilah yang turut diusung POWERADE®, Official Sports Drink FIFA World Cup™ melalui Coca-Cola, lewat kampanye "POWER YOUR HYDRATION: Isotonik Untuk Hidup Aktifmu".
Mengusung konsep "One Brand. Two Ways to Hydrate", POWERADE® menghadirkan dua pilihan isotonik sesuai kebutuhan aktivitas, yaitu Active Blue untuk aktivitas fisik berintensitas tinggi dengan formula ION4 yang membantu menggantikan elektrolit yang hilang melalui keringat, serta Active White untuk mendukung aktivitas sehari-hari dengan manfaat hidrasi dan penggantian elektrolit yang sama, sehingga membantu tubuh tetap terhidrasi, bugar, dan siap menjalani berbagai aktivitas.
POWERADE Active Blue dikembangkan untuk aktivitas fisik berintensitas tinggi, mulai dari pertandingan sepak bola, latihan lari, hingga sesi gym. Dengan formula ION4 yang membantu menggantikan elektrolit yang hilang melalui keringat, Active Blue mendukung tubuh tetap fokus dan bugar selama beraktivitas.
Sementara itu, POWERADE Active White dirancang untuk mendampingi gaya hidup aktif sehari-hari, seperti berjalan kaki, beraktivitas di luar rumah, atau mengikuti Car Free Day. Dengan manfaat penggantian elektrolit ION4 yang sama, Active White membantu menjaga tubuh tetap terhidrasi, bugar, dan siap menjalani berbagai aktivitas.
Peran dan Warisan bagi Timnas Masing-Masing
Di luar statistik pertandingan, kontribusi ketiganya terhadap timnas jauh lebih besar dari sekadar angka di papan skor.
Ronaldo bukan hanya striker maupun kapten bagi Portugal, tetapi juga simbol ambisi negara yang berhasil menjelma menjadi kekuatan sepak bola Eropa.
Ia telah tampil 232 kali dan mencetak 146 gol internasional untuk Portugal, memimpin negaranya meraih gelar besar pertama mereka di Euro 2016, kemudian mengangkat trofi UEFA Nations League pada 2019 dan 2025.
Kendati trofi Piala Dunia tak pernah ia dapatkan, warisan Ronaldo sebagai kapten yang membawa Portugal dari status underdog menjadi tim yang disegani di setiap turnamen besar tidak akan pernah pudar.
Sementara, Neymar mengemban peran yang berbeda. Ia adalah simbol keberlangsungan tradisi jogo bonito Brasil, sekaligus beban ekspektasi raksasa sebagai penerus legenda seperti Pele dan Ronaldinho.
Sepanjang kariernya bersama Selecao, ia sukses membawa Brasil meraih emas Olimpiade 2016 di Rio de Janeiro serta trofi Piala Konfederasi 2013, meski trofi Piala Dunia tetap menjadi mimpi yang tak pernah terwujud.
Ia menutup kariernya sebagai pencetak gol terbanyak sepanjang sejarah Timnas Brasil dengan 80 gol dari 130 penampilan, melampaui rekor legendaris Pele, sebuah pencapaian yang akan selalu dikenang, terlepas dari absennya trofi juara dunia.
Messi, di sisi lain, adalah cerita tentang penebusan. Setelah bertahun-tahun dibayangi kegagalan di final-final besar bersama Argentina, ia akhirnya menuntaskan misinya di Qatar 2022 dan kini kembali memimpin Albiceleste sebagai juara bertahan di Piala Dunia 2026.
Perannya bukan lagi sekadar mencetak gol, melainkan menjadi jangkar emosional bagi skuad muda Argentina, seorang kapten yang tenang di tengah tekanan, bahkan ketika ia sendiri sedang berjuang melawan rekornya yang kurang mengenakkan dari titik putih.
Momen-Momen yang Tak Akan Terlupakan
Setiap perjalanan panjang pasti meninggalkan potongan-potongan momen yang membekas lebih dalam dari sekadar hasil akhir.
Bagi Ronaldo, momen itu terekam jelas dalam sebuah foto yang menyebar luas setelah kekalahan dari Spanyol.
Jurnalis asal Italia, Fabrizio Romano, menuliskan keterangan yang menyayat.
"Momen terakhir Cristiano Ronaldo di lapangan Piala Dunia. Ini adalah akhir sebuah era", mengiringi gambar sang bintang yang berlinang air mata usai laga.
Langkah Ronaldo meninggalkan lapangan di Dallas terasa lebih pelan dari biasanya, bukan sekadar akhir sebuah laga, melainkan penutup kehadirannya di panggung terbesar sepak bola.
Bagi Neymar, momen paling tak terlupakan justru datang di dua ujung yang bertolak belakang, yaitu debutnya di MetLife Stadium pada 2010 dengan gol pada penampilan pertama, dan penutupnya di stadion yang sama 16 tahun kemudian lewat gol penalti dengan air mata mengalir deras.
Rekan-rekan setimnya berusaha menghiburnya di lapangan, tetapi ia tetap tak mampu menahan kesedihan menutup babnya bersama Timnas Brasil. Ada semacam kisah yang menyayat dalam kisah ini, seolah sepak bola sendiri yang menulis naskahnya.
Bagi Messi, drama terjadi dalam hitungan menit yang sama di satu pertandingan. Gagal penalti, dicemooh sesaat, lalu bangkit menjadi pahlawan lewat assist dan gol yang membawa Argentina berbalik unggul. Ia sempat blak-blakan soal kekesalannya sendiri usai laga.
"Hari ini ada momen saya sangat marah soal penalti karena saya gagal. Saya menendangnya dengan sangat buruk, dan untungnya kami bisa membalikkan situasi itu, mengambil alih keunggulan, dan meraih tiga poin, yang terpenting," ujarnya.
Ketika Layar Perlahan Turun
Sepak bola selalu punya cara untuk mengingatkan kita bahwa tidak ada yang abadi, bahkan bagi mereka yang selama dua dekade terasa seperti tak tersentuh waktu.
Neymar sudah menutup babnya dengan air mata di New Jersey. Ronaldo sedang menapaki langkah-langkah terakhirnya dengan kepala tegak, meski trofi juara dunia tetap menjadi mimpi yang tak terwujud.
Dan Messi, sang juara bertahan, masih berjuang menulis akhir cerita yang layak untuk dirinya sendiri, entah itu berujung angkat trofi kedua, atau sekadar berjalan keluar lapangan untuk terakhir kalinya dengan kepala tegak seperti dua rivalnya.
Apa pun hasil akhirnya, satu hal sudah pasti: the world cup won't be the same without them.
Meski begitu, generasi berikutnya, yang kini diwakili nama-nama seperti Lamine Yamal, Kylian Mbappe, hingga Erling Haaland, akan mewarisi panggung yang telah dibesarkan oleh tiga nama ini selama lebih dari 20 tahun.
Sepak bola dunia sedang menyaksikan penutupan sebuah era, dan seperti kata pepatah lama di dunia olahraga, tidak ada perpisahan yang benar-benar sempurna, tetapi setidaknya, dunia diberi kesempatan untuk mengucapkan terima kasih sebelum layar benar-benar turun.
(*)