Konflik Houthi-Arab Saudi Memanas setelah Serangan ke Bandara Sanaa

Ketegangan terbaru menandai berakhirnya masa tenang antara Houthi dan Arab Saudi sejak 2022.

oleh Khairisa FeridaDiterbitkan 14 Juli 2026, 07:44 WIB
Gambar yang diambil dari tayangan Al-Masirah TV, saluran berita yang dikuasai Houthi, memperlihatkan ledakan di kompleks Bandara Internasional Sanaa, Yaman, Senin, 13 Juli 2026. Kelompok Houthi yang didukung Iran menyebut ledakan itu terjadi dalam serangkaian serangan udara Arab Saudi di Sanaa. (Dok. Al-Masirah TV via AP)

Liputan6.com, Sanaa - Kelompok Houthi di Yaman, yang didukung Iran, mengaku melancarkan serangan rudal dan drone ke Bandara Internasional Abha, Arab Saudi, pada Senin (13/7/2026). Serangan itu disebut sebagai balasan atas gempuran udara ke Bandara Internasional Sanaa pada hari yang sama, yang dituding dilakukan Arab Saudi.

Tidak ada korban dalam serangan tersebut. Namun, insiden ini menandai eskalasi yang belum pernah terjadi sejak koalisi pimpinan Arab Saudi terakhir kali menggempur wilayah yang dikuasai Houthi beberapa tahun lalu.

Pemerintah Arab Saudi belum memberikan tanggapan atas permintaan komentar mengenai serangan udara di Yaman.

Juru bicara militer Houthi Brigadir Jenderal Yahya Saree melalui pernyataan video di Telegram seperti dilaporkan Associated Press memperingatkan maskapai penerbangan agar tidak melintasi wilayah udara Arab Saudi. Menurut dia, peringatan itu harus ditanggapi secara serius sampai blokade terhadap Bandara Internasional Sanaa dicabut.

Pemerintah Yaman yang diakui secara internasional sebelumnya menyatakan serangan terhadap Bandara Internasional Sanaa dilakukan untuk mencegah sebuah pesawat Iran mendarat.

Houthi kemudian berjanji akan membalas serangan tersebut. Peristiwa itu menjadi eskalasi besar pertama antara Houthi dan Arab Saudi setelah kedua pihak melewati periode ketegangan yang relatif mereda.

Dalam sidang darurat Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa yang membahas perkembangan tersebut pada Senin sore, para pejabat menyampaikan kekhawatiran bahwa ketegangan dapat meluas.

"Yaman dan kawasan ini tidak sanggup menghadapi siklus eskalasi baru," kata Asisten Sekretaris Jenderal PBB untuk Urusan Politik Khaled Khiari di hadapan 15 anggota Dewan Keamanan. "Kami menyerukan kepada semua pihak untuk terlibat secara konstruktif dalam perundingan di bawah naungan PBB."

Selama bertahun-tahun, koalisi pimpinan Arab Saudi yang beroperasi dari wilayah selatan Yaman memerangi Houthi di utara.

Saree sebelumnya mengatakan melalui Telegram bahwa serangan udara Arab Saudi tersebut menandai berakhirnya masa deeskalasi. Ia memperingatkan bahwa agresi ini tidak akan dibiarkan tanpa balasan ataupun hukuman.

Dalam pernyataan terbaru di Telegram, Saree menuding serangan di Sanaa bertujuan menutup bandara bagi penerbangan kemanusiaan yang mengangkut pasien dan warga yang tertahan dari dan menuju Bandara Internasional Sanaa.

 

Pemicu Ketegangan

Perang saudara Yaman pecah pada 2014 setelah Houthi merebut ibu kota Sanaa dan sebagian besar wilayah utara negara itu, serta memaksa pemerintah mengasingkan diri. Setahun kemudian, koalisi pimpinan Arab Saudi yang juga beranggotakan Uni Emirat Arab (UEA) turun tangan untuk mengembalikan pemerintahan tersebut ke tampuk kekuasaan.

Ketegangan antara Arab Saudi dan UEA, yang sama-sama merupakan sekutu Amerika Serikat (AS), meningkat pada awal tahun ini setelah kemitraan mereka selama bertahun-tahun dalam perang Yaman retak dan berujung pada penarikan UEA dari negara itu.

Juru bicara resmi Koalisi untuk Memulihkan Legitimasi di Yaman pimpinan Arab Saudi, Mayor Jenderal Turki al-Malki, mengatakan melalui X pada Senin malam bahwa sistem pertahanan udara telah mencegat rudal-rudal balistik yang ditembakkan Houthi ke wilayah selatan. Ia tidak memberikan penjelasan lebih lanjut.

Serangan terhadap bandara di Sanaa terjadi setelah ketegangan kedua pihak kembali memanas pada awal bulan ini. Houthi menuduh pesawat-pesawat Arab Saudi melanggar wilayah udara mereka untuk menggagalkan penerbangan sebuah pesawat Iran yang hendak membawa delegasi Houthi ke Teheran guna menghadiri pemakaman Ali Khamenei.

Menteri Pertahanan Yaman Jenderal Taher al-Aqili mengatakan melalui unggahan di X bahwa landasan pacu bandara tersebut digempur pada Senin untuk mencegah sebuah pesawat Iran memulangkan delegasi Houthi dari acara pemakaman.

Dalam pernyataan video yang dirilis sesaat sebelum serangan, al-Aqili memperingatkan pesawat-pesawat Iran agar tidak memasuki wilayah udara Yaman.

"Pada saat ini, kami tegaskan bahwa kesabaran kami telah habis. Karena itu, kami akan memberikan respons yang sepadan terhadap tindakan pengkhianatan dan brutal ini. Kami juga akan menghadapi dan menangani setiap pesawat musuh yang melanggar wilayah udara serta kedaulatan Yaman dengan segala cara yang tersedia," katanya.

Houthi mengatakan pesawat tersebut kemudian dialihkan ke Bandara Al-Hudaydah dan mendarat di sana.

Rekaman video yang disiarkan stasiun televisi al-Masirah yang dikuasai Houthi memperlihatkan sebuah rudal menghantam landasan pacu Bandara Sanaa, disusul ledakan keras.

Pemerintah yang berkedudukan di wilayah selatan menyatakan seluruh bandara di Yaman "ditutup hingga pemberitahuan lebih lanjut, berlaku segera". Kementerian pertahanan yang berbasis di Aden juga memerintahkan evakuasi bandara dan kawasan di sekitarnya.

Rashad al-Alimi, Ketua Dewan Kepemimpinan Presiden Yaman, mengatakan Iran telah mengajukan permohonan untuk mengoperasikan penerbangan maskapai Mahan Air dari Teheran ke Sanaa guna memulangkan delegasi Houthi.

Dewan tersebut menolak permohonan itu. Dalam pernyataannya pada Senin, dewan menyebut Houthi tetap bersikeras menerima penerbangan Iran tersebut di luar kerangka hukum dan kedaulatan yang mengatur penerbangan sipil.

Utusan Khusus PBB untuk Yaman Hans Grundberg mengatakan kantornya terus memantau perkembangan di wilayah udara Yaman. Ia juga menyampaikan kekhawatiran atas risiko meluasnya eskalasi dan menyerukan kepada pihak-pihak yang terlibat untuk berdialog demi menjaga ketenangan relatif yang dinikmati Yaman sejak 2022.

Koalisi pimpinan Arab Saudi terakhir kali menyerang wilayah yang dikuasai Houthi sebelum gencatan senjata hasil mediasi PBB mulai berlaku pada 2022.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya