Cerita Warga Lampung Timur Patungan Bangun Jalan Desa

Warga Desa Bandar Agung swadaya membangun jalan desa

oleh Ardi MuntheDiterbitkan 14 Juli 2026, 06:39 WIB
Warga swadaya bangun jalan desa

Liputan6.com, Jakarta - Aksi warga Desa Bandar Agung, Kecamatan Bandar Sribawono, Kabupaten Lampung Timur, yang bergotong royong membangun jalan desa secara swadaya viral di media sosial.

Dalam video yang beredar, warga tampak mengecor jalan menggunakan molen dan material yang dibeli dari hasil iuran masyarakat, bahkan ada warga yang mengaku menyumbang hingga Rp 8 juta.

Video tersebut menuai beragam komentar. Sebagian besar warganet memuji kekompakan warga, sementara lainnya mempertanyakan mengapa pembangunan jalan harus dibiayai secara mandiri oleh masyarakat.

Salah seorang warga Desa Bandar Agung, Irul, mengatakan pembangunan jalan secara swadaya sudah lama menjadi tradisi di desanya. Menurut dia, hampir setiap dusun memiliki cara masing-masing untuk mengumpulkan dana demi memperbaiki jalan lingkungan yang belum tersentuh pembangunan.

"Kalau di Bandar Agung memang sudah banyak yang seperti ini. Hampir tiap dusun punya cara sendiri untuk menggalang dana dan membangun jalan," kata Irul, Senin (13/7/2026).

Dia menjelaskan besaran iuran berbeda-beda di setiap dusun. Ada yang dihitung berdasarkan jumlah kepala keluarga, namun ada pula yang disesuaikan dengan luas atau panjang lahan warga yang berbatasan langsung dengan ruas jalan yang dibangun.

"Kalau di beberapa dusun ada yang sampai jutaan rupiah per orang. Ada yang Rp 5 juta, bahkan Rp 8 juta. Itu tergantung kesepakatan warga dan kondisi lahannya," jelasnya.

Sementara itu, di dusunnya sendiri, warga dikenakan iuran sekitar Rp 200 ribu hingga Rp 300 ribu per kepala keluarga. Dana tersebut digunakan untuk membeli material dan membiayai proses pengecoran jalan.

"Di tempat saya sekitar Rp 200 ribu sampai Rp 300 ribu per KK. Ini juga rencananya mau iuran lagi karena masih ada jalan yang akan dicor," sebutnya.

Irul menuturkan, warga sengaja memilih melakukan pengecoran secara manual menggunakan molen karena dinilai lebih hemat dibanding menggunakan beton siap pakai. Dari hasil gotong royong tersebut, jalan sepanjang sekitar 197 meter berhasil diselesaikan.

Menurut Irul, jalan yang dibangun merupakan akses utama menuju permukiman sekaligus lahan pertanian warga. Saat musim hujan, jalan tanah sering berubah menjadi lumpur sehingga menyulitkan aktivitas masyarakat, terutama saat mengangkut hasil panen.

"Kalau di tempat saya mayoritas peladangan. Jalan ini penting untuk mengangkut hasil pertanian. Kalau hujan jadi susah dilewati," tuturnya.

Ia menjelaskan, jalan poros desa memang sudah beraspal. Namun, masih banyak jalan lingkungan menuju permukiman dan area pertanian yang belum mendapatkan pembangunan, sehingga warga memilih bergotong royong agar akses tersebut tetap dapat digunakan.

Meski rela mengeluarkan uang pribadi untuk memperbaiki jalan, Irul berharap pemerintah dapat memberikan perhatian lebih terhadap pembangunan infrastruktur di Lampung Timur.

"Harapan masyarakat tentu Lampung Timur bisa lebih baik, terutama jalannya. Kalau jalannya bagus, aktivitas warga dan mengangkut hasil pertanian juga lebih mudah," imbuhnya.

Ia menegaskan, semangat swadaya yang dilakukan warga bukan untuk menggantikan peran pemerintah, melainkan menjadi solusi sementara agar akses menuju permukiman dan lahan pertanian tetap layak digunakan sembari menunggu pembangunan permanen dari pemerintah.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya