Buku Filosofi Teras Diadaptasi dalam Film, Angkat Seni Mengendalikan Emosi

Film Filosofi Teras bawa pesan mendalam tentang stoisisme.

oleh Afradhiya N. RDiterbitkan 13 Juli 2026, 12:03 WIB
Press Conference Filosofi Teras di kawasan Jakarta Pusat pada (12/7/2026) (Liputan6.com/Afradhiya N.R)

Liputan6.com, Jakarta - Bagi kalian pecinta buku khususnya buku self improvement, kabar baik datang dari penulis Henry Manampiring. Karyanya yang berjudul Filosofi Teras telah mencapai cetakannya yang ke 100 dan diabadikan lagi di dalam film yang berjudul sama oleh MD Entertainment yang sekarang tinggal menunggu pengumuman jadwal tayangnya.

Pada Minggu (12/7/2026) kemarin, dihelat konferensi pers terkait pengumuman teaser poster dan trailer Filosofi Teras di kawasan Jakarta Pusat. Menariknya, acara ini dihadiri oleh banyak sekali orang-orang penting dalam pembuatan film ini. 

Deretan orang orang ini ialah Henry Manampiring (sang penulis), Affandi Abdul Rachman (sutradara Filosofi Teras), Romo Setyo Wibowo (Dosen Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara) , semua cast film (Sherina Munaf, Azizi Asadel, dll), penyanyi OST Filosofi Teras, dan masih banyak lagi. 

Bicara tentang Filosofi Teras. Film ini mengandung stoisisme atau aliran filsafat Yunani-Romawi kuno yang mengajarkan seni mengendalikan emosi dan menjaga ketenangan batin. 


Bertema Mental Health

Foto Henry Manampiring, kedua dari kiri pada Press Conference Filosofi Teras di kawasan Jakarta Pusat pada (12/7/2026) (Liputan6.com/Afradhiya N.R)

Tidak hanya stoisisme, Filosofi Teras juga mengusung tema kesehatan mental. Dalam kesempatannya kemarin, Henry menjelaskan bahwa kita semua harus belajar menerima hal-hal yang berada di luar kendali kita agar tidak frustasi.

Salah satunya, adalah komentar netizen.

“Mengingat ajaran Filosofi Teras, kita harus bisa belajar menerima hal hal yang di luar kendali kita. We cannot please everybody. Kalo kita mikirin 'Kok jahat banget ya jarinya' itu yang rugi saya. Merujuk filosofi Stoa kita ga bisa mengontrol mereka, yang bisa dikendalikan hanya respons kita. Ujaran netizen dalam perspektif filsafat tidak berdampak pada kita, tapi respon kita lebih penting dari pada ujaran itu,” jelasnya.


Pendapat Dosen Filsafat

Foto Romo Setyo, kedua dari kanan pada Press Conference Filosofi Teras di kawasan Jakarta Pusat pada (12/7/2026) (Liputan6.com/Afradhiya N.R)

Press conference itu juga menghadirkan pakar filsafat yang ikut memberi insight penting mengenai diskusi “ujaran netizen mempengaruhi kita”. Ia memperjelas jawaban dari Henry dengan mengatakan bahwa yang terpenting bukanlah omongan mereka, melainkan respon kita terhadap ujaran atau berita tersebut.

“Apakah saya harus merespon dengan marah, takut, atau iri, itu yang bisa saya kendalikan. Bagaimana supaya saya tidak marah, takut, atau iri, ya saya kembalikan 'ini kan hanya tulisan, ini kan hanya omongan orang'. Saya yang bisa mengendalikan respons saya, itu yang diajarkan stoa. Yang lebih radikal yang juga diajarkan stoa yaitu ajaran kontra, kalau merasa terganggu oleh medsos, maka ya sudah jangan bermedsos. Nanti anda akan punya pikiran yang lebih jernih,” katanya.

Lanjut Baca:

Menceritakan Nea diperankan oleh Sherina, yang menjadi sosok tumpuan keluarga yang harus menafkahi keluarganya dan menjadi sosok pengganti ayahnya sejak ayahnya meninggal. Ia masih memiliki tanggungan seorang adik bernama Runi yang masih berkuliah. Sementara itu, ia juga sebenarnya memiliki kakak laki-laki bernama Abi yang masih tinggal dalam rumah yang sama bersama istrinya, Ayu.  Keadaan menjadi buruk sejak Nea mengetahui bahwa rumahnya digadaikan oleh ayahnya, Marwan untuk menikahkan Abi dan istrinya. Nea yang sudah dilamar oleh pacarnya, Dio akhirnya harus merelakan untuk menunda pernikahannya agar masalahnya dapat terselesaikan terlebih dahulu. Namun masalah tidak selesai secepat yang ia mau, ia masih mendapati masalah masalah lain yang datang kepadanya.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya