Arbani Yasiz Ungkap Tantangan Jadi Juna di 402 Rumah Sakit Korea, Ambisinya Bikin Geregetan

Arbani Yasiz mengaku ikut kesal dengan karakter Juna di 402 RUMAH SAKIT KOREA. Demi mendalami peran, ia belajar langsung dari para konten kreator.

oleh Febi Anindya KiranaDiterbitkan 13 Juli 2026, 10:05 WIB
Arbani Yasiz (instagram.com/arbaniyasiz)

Liputan6.com, Jakarta - Aktor Arbani Yasiz mengaku dibuat geregetan dengan karakter Juna yang diperankannya dalam film horor 402 RUMAH SAKIT KOREA. Dalam film arahan Anggy Umbara itu, Juna digambarkan sebagai pemimpin kelompok konten kreator yang memiliki ambisi besar mengejar popularitas dan jumlah penonton di media sosial.

Saat menghadiri konferensi pers film 402 RUMAH SAKIT KOREA di CGV Grand Indonesia, Jakarta Pusat, Senin (6/7/2026), Arbani mengatakan Juna memang sengaja dibangun sebagai sosok yang egois dan rela melakukan berbagai cara demi mendapatkan validasi digital. Tak heran jika ia sendiri mengaku ikut kesal dengan karakter tersebut.

"Terima kasih banyak Mas pertanyaannya. Eh terima kasih juga atas tadi apresiasinya tentang Juna ya. Jujur saya juga kesel sama Juna. Tapi kalau nggak ada Juna nggak ada ini 402," ujar Arbani Yasiz.


Belajar dari Konten Kreator

Arbani Yasiz (instagram.com/arbaniyasiz)

Demi menghidupkan karakter Juna, Arbani melakukan riset dengan berdiskusi bersama rekan-rekannya yang memang berprofesi sebagai konten kreator. Ia ingin memahami alasan di balik besarnya pengaruh jumlah penonton dan popularitas di media sosial terhadap pola pikir seseorang.

Arbani mengaku banyak bertukar cerita dengan Saputra Kori dan Jang Hansol yang memiliki pengalaman sebagai kreator konten. Dari keduanya, ia mencoba memahami mengapa sebagian orang rela melakukan berbagai hal demi mengejar angka tayangan yang tinggi.

"Kalau proses kreatifnya untungnya di sini saya punya teman baru Kori dan juga Jang Hansol yang memang dia berasal dari influencer dan YouTubers, konten kreator. Jadi saya juga banyak nanya sama mereka gimana sih views tuh atau konten tuh seberpengaruh apa sih kenapa harus dikejar sebegitunya gitu lho," kata Arbani.

Pemahaman tersebut membantunya menemukan motivasi karakter Juna, terutama dalam menggambarkan bagaimana obsesi terhadap validasi di media sosial dapat memengaruhi keputusan seseorang, bahkan hingga mengambil langkah yang berisiko.


Tantangan Akting Lewat Handy Talkie

Selain mendalami karakter, Arbani juga menghadapi tantangan tersendiri selama proses syuting. Berbeda dengan pemain lain yang lebih sering tampil bersama dalam satu adegan, ia justru banyak menjalani pengambilan gambar seorang diri di dalam tenda yang menjadi pusat kendali kelompok.

Lanjut Baca:

"Terus kalau tadi proses syutingnya bener sekali saya banyakan di tenda sendirian. Lucunya nih kita syutingnya barengan tapi lebih banyak mereka barengan gue sendirian gitu," ungkapnya. Meski berada di lokasi yang sama, Arbani kerap harus membangun emosi tanpa bertemu langsung dengan lawan mainnya. Beberapa adegan bahkan dilakukan hanya melalui komunikasi menggunakan handy talkie sambil memantau permainan para pemain lain lewat monitor bersama sutradara Anggy Umbara. "Nggak fair-nya, nggak fair-nya saat mereka syuting adegan-adegan yang kita berantem lewat HT segala macemnya gue ikut mancing. Gue dateng ke lokasi buat mancing lewat HT gitu. Gue lihatin monitor bareng Mas Anggy di ruangannya terus kita langsung adu akting lewat HT gitu," tutur Arbani. Menurut Arbani, metode tersebut menjadi salah satu pengalaman akting yang paling unik sepanjang kariernya. Ia juga harus beradaptasi dengan konsep found footage yang menggunakan kamera terpasang langsung pada tubuh para pemain tanpa kehadiran kameramen di lokasi syuting.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya