Hadiah Revolver Erdogan Bikin Repot Para Pemimpin NATO

Tiap negara mengambil keputusan berbeda soal revolver pemberian Erdogan, dari menyerahkannya ke museum hingga menyimpannya sebagai hadiah resmi.

oleh Khairisa FeridaDiterbitkan 13 Juli 2026, 08:14 WIB
Sekretaris Jenderal NATO Mark Rutte, Presiden Amerika Serikat Donald Trump, Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan, dan para pemimpin lainnya berfoto bersama dalam KTT NATO di Ankara, Turki, Rabu (8/7/2026). (Dok. AP Photo/Alex Brandon)

Liputan6.com, Ankara - KTT NATO di Ankara pada Rabu (8/7/2026) berakhir dengan kejutan tidak biasa dari Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan. Cendera mata berupa senjata api dari sang tuan rumah seketika memicu keruwetan logistik serta kepanikan protokol di kalangan tim pengamanan berbagai delegasi.

Sebagian pemimpin negara baru menyadari isi bingkisan tersebut setelah meninggalkan Turki, sementara beberapa lainnya bahkan belum sempat melihat wujudnya karena keburu diamankan oleh pengawal mereka.

Perdana Menteri (PM) Inggris Keir Starmer menjadi pemimpin pertama yang membeberkan hadiah tak lazim ini. Dalam penerbangan pulang seusai menghadiri pertemuan selama dua hari, Starmer menceritakan kepada para jurnalis bahwa ia dan sejumlah pemimpin lain menerima sebuah revolver yang pada bagian larasnya terukir nama masing-masing pemilik.

Senjata api yang masih berfungsi tersebut dikemas dalam kotak merah berlapis kain hitam. Di dalamnya terdapat enam butir peluru tajam serta sepucuk surat resmi yang menyatakan bahwa senjata itu dibebaskan dari ketentuan pengendalian ekspor.

Mendengar kabar tersebut, PM Kanada Mark Carney sempat berseloroh bahwa sirup maple yang ia bawa sebagai buah tangan terasa "agak tidak sepadan" jika dibandingkan dengan pemberian Erdogan. Menurut laporan Euronews, Carney akhirnya memutuskan membawa pulang fisik revolver tersebut untuk dipajang di museum perang Kanada setelah komponen mekanisnya dinonaktifkan, sedangkan seluruh amunisinya sengaja ditinggalkan di Turki.

"Hadiah yang tidak biasa dari Presiden Erdogan dalam KTT NATO: sebuah revolver Magnum beserta amunisinya, lengkap dengan ukiran nama saya pada senjata itu," tulis PM Hungaria Peter Magyar melalui akun X miliknya.

Dinonaktifkan

Ruwetnya prosedur pengangkutan langsung dirasakan oleh PM Belgia Bart De Wever. Ia baru tahu pasti isi bingkisan itu setelah pesawatnya mendarat di pangkalan militer Belgia.

"PM sangat terkejut dan langsung menyerahkan senjata itu kepada polisi bandara agar segera disimpan di brankas pengaman. Penanganan selanjutnya akan disesuaikan dengan prosedur hukum yang berlaku," ungkap seorang pejabat setempat kepada AFP, Kamis (9/7).

Tim pengamanan De Wever juga harus mengurus revolver serupa yang diberikan kepada dua pejabat tinggi Uni Eropa yang berkantor di Brussels, yaitu Ursula von der Leyen dan Antonio Costa. Juru bicara Ursula von der Leyen menyampaikan bahwa sang presiden Komisi Eropa telah mengucapkan terima kasih kepada Erdogan. Namun, sebagaimana dilaporkan Reuters, demi mematuhi regulasi internal Uni Eropa yang sangat ketat, revolver itu harus dibuat tidak berfungsi total (dinonaktifkan) sebelum akhirnya dihibahkan ke museum militer.

Langkah serupa diambil oleh PM Yunani Kyriakos Mitsotakis. Berdasarkan laporan media lokal setempat, Mitsotakis memilih menyerahkan senjata tersebut untuk dijadikan bagian dari koleksi pameran di Museum Perang Athena. Sementara itu, Kantor PM Luksemburg Luc Frieden menyatakan bahwa revolver itu akan dimasukkan dalam inventaris hadiah diplomatik negara setelah mekanismenya dirusak secara permanen agar tidak bisa ditembakkan lagi.

Nasib serupa dialami revolver milik Presiden Polandia Karol Nawrocki. Menurut laporan AFP, senjata tersebut sempat tertahan di bagian bea cukai Bandara Warsawa karena harus menjalani pemeriksaan keamanan ekstra ketat. Prosedur kaku ini sengaja diterapkan demi menghindari insiden masa lalu yang masih membekas di ingatan publik Polandia.

Pada Desember 2022, Kepala Kepolisian Polandia sempat membawa pulang peluncur granat antitank dari Ukraina yang ia terima sebagai hadiah resmi, yang nahasnya justru meledak di ruang kerjanya hingga menyebabkan luka-luka dan kerusakan parah.

 

Alasan di Balik Pemilihan Revolver?

Membawa pulang senjata api aktif lintas negara memang bukan perkara sepele. Aturan hukum yang berbeda di setiap negara membuat proses logistiknya sangat rumit, terlebih karena revolver pemberian Erdogan ini berada dalam kondisi siap tembak.

Menurut laporan Euronews, sejumlah pemimpin seperti PM Inggris, Kanselir Jerman Friedrich Merz, PM Belanda Rob Jetten, hingga Presiden Slovakia Peter Pellegrini, akhirnya memilih untuk meninggalkan senjata mereka di Ankara. Urusan penonaktifan senjata dan logistik selanjutnya diserahkan kepada kedutaan besar masing-masing di Turki, sebelum nantinya dikirim ke negara asal dalam kondisi mati total.

Senjata milik PM Swedia Ulf Kristersson pun tidak bisa langsung diangkut.

"Senjata tersebut harus dikirim ke Swedia dengan dokumen terpisah dan wajib mematuhi seluruh prosedur hukum yang berlaku," jelas tim pengamanan Kristersson dalam rilis resminya kepada AFP.

Di sisi lain, laporan dari Reuters mencatat ada beberapa pemimpin yang tetap membawa pulang senjata aktif tersebut untuk dijadikan aset resmi negara. PM Italia Giorgia Meloni mendaftarkan revolver itu secara legal sebagai hadiah diplomatik untuk disimpan di Palazzo Chigi (Kantor PM Italia). Sementara itu, Presiden Lithuania Gitanas Nausėda memilih memajang senjatanya di Istana Kepresidenan Lithuania.

Selain memicu keruwetan logistik, hadiah unik ini menyisakan tanda tanya besar di kalangan delegasi yang hadir. Padahal, agenda utama KTT tersebut sedang fokus membahas isu-isu krusial seperti konflik Ukraina, ketegangan dengan Iran, serta peta hubungan bilateral dengan Presiden AS Donald Trump.

Pertukaran cendera mata antar-kepala negara memang lumrah terjadi dalam konferensi tingkat tinggi. Namun, jarang sekali ada hadiah diplomatik yang memicu repotnya prosedur keamanan seperti ini. Banyak analis menilai langkah berani Erdogan ini merupakan strategi pemasaran agresif untuk memamerkan taji dan pertumbuhan industri pertahanan domestik Turki langsung di hadapan para sekutu NATO-nya.

 

 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terbaru

    Berita Terkini Selengkapnya