Harga Emas Diprediksi Masih Tertekan, Simak Level Support dan Resistance

Survei Kitco menunjukkan analis Wall Street dan investor ritel masih terbelah soal arah harga emas pekan ini di tengah tekanan dolar AS dan inflasi.

oleh Arthur GideonDiterbitkan 13 Juli 2026, 07:00 WIB
Ilustrasi harga emas dunia. Harga emas masih berpeluang naik ke kisaran US$ 4.700 hingga US$ 4.800 per ounce. (Foto By AI)

Liputan6.com, Jakarta - Prospek harga emas dalam jangka pendek masih dibayangi ketidakpastian. Survei mingguan Kitco News menunjukkan analis Wall Street maupun investor ritel di Main Street belum memiliki pandangan yang sama mengenai arah pergerakan logam mulia pada pekan ini.

Perbedaan pendapat itu muncul setelah harga emas gagal keluar dari fase konsolidasi dan masih tertekan oleh penguatan dolar AS serta tingginya imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat.

Dalam survei yang melibatkan 13 analis Wall Street, dikutip dari Kitco, Senin (13/7/2026), sebanyak lima responden atau 38% memperkirakan harga emas akan naik pada pekan ini. Sementara tiga analis atau 23% memprediksi harga emas akan melemah. Adapun lima analis lainnya atau 38% memilih bersikap netral dan memperkirakan harga emas bergerak mendatar.

Hasil yang hampir serupa juga terlihat dari jajak pendapat terhadap investor ritel. Dari 282 responden, sebanyak 117 orang atau 42% memperkirakan harga emas akan naik, sedangkan 108 responden atau 38% memprediksi harga emas turun. Sisanya, 20%, memperkirakan harga emas masih bergerak dalam fase konsolidasi.

 

Fokus pada Kebijakan Federal Reserve

Ilustrasi Harga Emas. Harga emas masih berpeluang naik ke kisaran US$ 4.700 hingga US$ 4.800 per ounce. Foto: DAVID GRAY | AFP

Menurut Kepala Strategi Mata Uang InvestingLive, Adam Button, prospek emas masih sulit menguat selama konflik di Timur Tengah terus menopang harga minyak.

"Sulit untuk antusias terhadap emas selama konflik di Iran masih berlangsung. Risiko kenaikan harga minyak lebih besar, sehingga justru berpotensi menjadi tekanan bagi emas," katanya.

Sementara itu, analis VR Metals/Resource Letter Mark Leibovit tetap optimistis. Ia memperkirakan harga emas masih berpeluang naik ke kisaran US$ 4.700 hingga US$ 4.800 per ounce dalam beberapa pekan mendatang.

Sejumlah analis pasar memperkirakan harga emas masih menghadapi tekanan dalam jangka pendek meski ketegangan geopolitik masih berlangsung.

Fokus investor kini tertuju pada data inflasi Amerika Serikat (AS) dan arah kebijakan bank sentral AS (Federal Reserve) yang dinilai akan menjadi penentu pergerakan logam mulia pada pekan depan.

Analis komoditas senior StoneX Group, Daniel Pavilonis, menilai tren teknikal emas masih lemah. Menurutnya, arus dana mulai beralih ke pasar saham dan sektor teknologi sehingga minat terhadap logam mulia berkurang.

Ia memperkirakan jika harga emas menembus level terendah terbaru, penurunannya dapat berlanjut ke kisaran US$ 3.800 hingga US$ 3.600 per ounce, bahkan tidak menutup kemungkinan bergerak lebih rendah sebelum akhirnya kembali menarik minat beli investor.

 

Membutuhkan Katalis Baru

Ilustrasi harga emas dunia. Harga emas masih berpeluang naik ke kisaran US$ 4.700 hingga US$ 4.800 per ounce. (Foto By AI)

Sementara itu, Managing Director Bannockburn Global Forex Marc Chandler mengatakan harga emas masih membutuhkan katalis baru untuk mengakhiri tren pelemahan. Menurutnya, logam mulia perlu menembus garis tren turun yang menghubungkan puncak harga sejak akhir Mei.

Chandler memperkirakan level resistance awal berada di sekitar US$ 4.126 per ounce. Selama harga belum mampu bertahan di atas area tersebut, momentum penguatan dinilai masih terbatas.

Pandangan senada disampaikan Co-Director Commercial Hedging Walsh Trading, Sean Lusk. Ia menilai harga emas masih kesulitan menarik minat investor karena pasar saham menawarkan imbal hasil yang lebih menarik.

Menurut Lusk, agar tren naik kembali terbentuk, harga emas perlu mampu menembus kisaran US$ 4.500 hingga US$ 4.700 per ounce. Di sisi lain, area US$ 4.000 masih menjadi level support psikologis yang sejauh ini mampu menahan tekanan jual.

Ketiga analis sepakat bahwa data inflasi AS yang akan dirilis pekan depan berpotensi menjadi katalis utama. Jika inflasi lebih tinggi dari perkiraan, dolar AS diperkirakan menguat sehingga dapat kembali menekan harga emas dalam jangka pendek.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya