Liputan6.com, Jakarta - Selama sepekan, kinerja harga minyak dunia dan indeks Hang Seng mencatat kenaikan. Sedangkan harga emas dan indeks Nikkei tertekan. Lalu apa saja sentimen yang membayangi investor selama sepekan ini?
Dalam sepekan, harga minyak dunia naik 5,24%. Sedangkan indeks Hang Seng menguat 3,53%. Di sisi lain, harga emas turun 1,79% selama sepekan dan indeks Nikkei terperosok 1,7%. Sementara itu, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat ke posisi 5.924.
Advertisement
Dalam riset Ashmore Asset Management Indonesia, ditulis Minggu (12/7/2026), pada pekan ini ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran kembali meningkat setelah beberapa kapal tanker komersial diserang. Hal itu mendorong AS melancarkan serangan baru terhadap target militer Iran dan menantang peningkatan selera risiko yang terlihat selama beberapa minggu sebelumnya.
AS juga mencabut izin sementara yang mengizinkan penjualan minyak Iran dalam jumlah terbatas, sementara Presiden AS Donald Trump mengatakan, nota kesepahaman sebelumnya dengan Iran pada dasarnya “berakhir”.
Iran menanggapi dengan menuding AS melanggar gencatan senjata dan ketegangan kemudian meluas di seluruh wilayah Teluk.
"Pasar segera bereaksi dengan cara yang sudah biasa terjadi seiring meningkatnya ketegangan dengan harga minyak yang naik dan aset berisiko global berada di bawah tekanan,” demikian seperti dikutip dari riset Ashmore.
Pergeseran Sentimen
Akan tetapi, harga minyak tetap jauh di bawah level yang terlihat pada puncak perang Iran, dan reaksi pasar secara keseluruhan relatif terkendali.
“Reaksi yang relatif tenang ini menyoroti pergeseran penting dalam sentimen investor. Pasar menjadi lebih bersedia mengabaikan berita utama geopolitik jangka pendek mengingat Selat Hormuz masih beroperasi sebagian dan pengiriman energi terus berjalan,”
Selain itu, negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran juga dilaporkan terus berlanjut. Pertanyaan kunci bagi pasar bukan lagi sekadar apakah gencatan senjata secara teknis ada, tetapi apakah ketegangan terbaru menganggu aliran minyak dan LNG.
“Penutupan total Selat Hormuz atau serangan signifikan terhadap infrastruktur energi regional akan menjadi kejutan negatif yang lebih besar dan dapat dengan cepat mengembalikan pasar ke kekhawatiran inflasi dan stagflasi yang terlihat awal tahun ini,” demikian seperti dikutip.
Sentimen Risalah The Fed
Risalah Federal Open Market Committee (FOMC) terbaru juga menambahkan sentimen makro pada perkembangan pekan ini ini karena para pembuat kebijakan tetap terpecah mengenai arah inflasi dan suku bunga pada masa depan.
“Pasar menyeimbangkan dua kekuatan yang berlawanan karena penciptaan lapangan kerja yang lebih lemah mengurangi urgensi untuk pengetatan moneter lebih lanjut, sementara tekanan harga energi yang diperbarui dan inflasi yang kaku terus menyisakan kemungkinan kenaikan suku bunga,” demikian seperti dikutip.
Prospek Fiskal
Dari sentimen domestik, prospek fiskal Indonesia menjadi sorotan pasar utama minggu ini. Pemerintah merevisi perkiraan defisit fiskal 2026 menjadi 2,85% dari Produk Domestik Bruto (PDB), lebih lebar dari perkiraan sebelumnya sebesar 2,68% dan lebih dekat dengan batas maksimal 3% yang ditetapkan undang-undang.
Revisi ini sebagian mencerminkan alokasi tambahan sebesar Rp 132 triliun untuk subsidi energi menyusul kenaikan tajam harga energi global selama perang Iran. Meskipun defisit yang lebih lebar pada awalnya tampak negatif, detailnya memberikan gambaran yang lebih seimbang. Defisit fiskal Indonesia hanya 0,76% dari PDB pada semester pertama 2026, dibandingkan dengan 0,84% pada periode yang sama tahun lalu.
"Pemerintah juga menunjukkan kemauan yang lebih besar untuk menyesuaikan pengeluaran, termasuk pengurangan anggaran sebesar Rp 67 triliun untuk program makan gratis, dengan langkah-langkah efisiensi tambahan yang masih dibahas,” demikian seperti dikutip dari riset Ashmore.
Sentimen Lainnya
Ashmore melihat, isu utama bagi investor adalah apakah defisit tetap berkelanjutan di bawah batas maksimal 3% dan apakah kualitas pengeluaran meningkat. "Hal ini sangat relevan mengingat perhatian baru-baru ini dari lembaga pemeringkat global mengenai prediktabilitas kebijakan dan disiplin fiskal,” demikian seperti dikutip.
Secara keseluruhan, minggu ini menunjukkan risiko global telah menjadi lebih tangguh terhadap berita utama geopolitik, didukung oleh ekspektasi eskalasi terbaru akan tetap terkendali. Namun, gangguan baru di Selat Hormuz, kenaikan tajam harga minyak lainnya, atau bukti inflasi AS yang lebih persisten dapat dengan cepat membalikkan sentimen dan mendorong imbal hasil global lebih tinggi.
Di Indonesia, fokus telah bergeser ke arah pelaksanaan fiskal dan reformasi pasar modal yang berkelanjutan.
"Dalam lingkungan saat ini, kami tetap sangat selektif dan fokus pada ekuitas dengan likuiditas dan fundamental yang kuat, sambil mempertahankan eksposur terhadap obligasi berkualitas tinggi untuk imbal hasil yang menarik dan fleksibilitas portofolio,” demikian seperti dikutip dari riset Ashmore.