Harga Emas Dunia Merosot Dipicu Isu The Fed dan Perang Timur Tengah

Tensi Timur Tengah memanas, harga emas dunia justru anjlok ke zona merah akibat kekhawatiran inflasi dan kebijakan moneter ketat AS.

oleh Idris Rusadi PutraDiterbitkan 11 Juli 2026, 10:15 WIB
Ilustrasi emas. (pexels.com/@zlataky-cz-61823415)

Liputan6.com, Jakarta - Harga emas dunia bergerak melemah pada perdagangan Jumat, 10 Juli 2026 (Sabtu pagi WIB), dan menutup pekan ini di zona merah. Penurunan harga dipicu oleh lonjakan harga minyak dunia akibat konflik Timur Tengah yang tak kunjung usai.

Tingginya harga minyak memicu kekhawatiran akan naiknya inflasi, yang diprediksi bakal membuat Amerika Serikat (AS) mengambil kebijakan moneter yang lebih ketat.

Mengutip laman CNBC, Sabtu (11/7/2026), harga emas di pasar spot merosot hampir 1% ke level US$ 4.071,09 per ounce. Sementara itu, kontrak berjangka emas AS untuk pengiriman Agustus turun 0,74% menjadi US$ 4.113 per ounce.

"Faktor utamanya adalah ketegangan yang kembali pecah antara AS dan Iran. Saat ini, para investor cenderung menghindari aset emas dan perak, itulah mengapa harganya bergerak turun menuju level US$ 4.100," kata Kepala Strategi Komoditas Global di TD Securities, Bart Melek.

Di sisi lain, Badan Energi Internasional (IEA) menyebut bahwa eskalasi konflik AS-Iran ini bisa mengacaukan prediksi mereka soal adanya surplus pasokan minyak yang besar untuk tahun depan. Saat ini, harga minyak memang sedang naik dalam sepekan akibat kekhawatiran tersendatnya pasokan setelah adanya serangan baru dari kedua negara.

Hubungan Harga Minyak dengan Emas

Ilustrasi Emas. (Photo by Jingming Pan on Unsplash)

Mahalnya harga energi otomatis membuat inflasi terancam naik, sehingga bank sentral kemungkinan besar akan meresponsnya dengan menaikkan suku bunga. Biasanya emas dipakai untuk melindungi nilai uang dari inflasi.

Namun, jika suku bunga naik, emas yang tidak memberikan imbal hasil bunga menjadi kurang menarik di mata investor dibandingkan dengan aset lain yang menghasilkan bunga. 

"Pasar jelas sekali sedang khawatir dengan inflasi, terutama karena harga minyak rebound dalam beberapa hari terakhir. Situasi ini akan membuat bank sentral, khususnya The Fed, bertindak lebih agresif," tambah Melek.

Menurut data CME FedWatch tool, para pelaku pasar kini melihat ada peluang sebesar 62% bahwa bank sentral AS (The Fed) akan menaikkan suku bunga pada September mendatang. Ditambah lagi, risalah pertemuan The Fed bulan Juni lalu menunjukkan para pejabat mulai kompak bernada ketat (hawkish) karena cemas dengan inflasi yang tinggi.

Investor Fokus Data Inflasi AS

Kini, fokus investor tertuju pada rilis data inflasi minggu depan dan pernyataan dari Ketua The Fed, Kevin Warsh, untuk membaca ke mana arah kebijakan ekonomi AS selanjutnya. 

Sementara itu dari pasar fisik, emas di India minggu ini dijual dengan potongan harga (diskon) yang cukup besar. Berbeda dengan China, permintaan emas di sana tetap kokoh setelah bank sentralnya melaporkan lonjakan cadangan emas bulanan terbesar dalam 2,5 tahun terakhir pada Juni lalu.

Di sisi lain, harga perak di pasar spot turun 0,4% menjadi US$ 59,73 per ounce, platinum naik tipis 0,4% level US$ 1.617 dan paladium melonjak 2,2% ke posisi US$ 1.274,94 per ounce.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya