Satu Keluarga di Nepal Tewas Akibat Serangan Gajah

Gajah di Nepal serang keluarga yang sama setelah 14 tahun lamanya.

oleh Nasywa FakhirahDiterbitkan 10 Juli 2026, 21:30 WIB
Ilustrasi Gajah Liar. (Wahyudi/AFP)

Liputan6.com, Kathmandu - Seorang pria asal Nepal yang kehilangan orangtuanya akibat serangan gajah liar 14 tahun yang lalu kembali kehilangan menantu dan cucunya karena gajah yang sama.

Dikutip dari Oddity Central, Jumat (10/7/2026), Shanichara kembali dikejutkan pada Minggu sore, saat mendapat kabar bahwa menantunya yang berusia 25 tahun, dan cucunya yang berusia empat tahun diserang oleh gajah yang sama.

Pada tahun 2012, Shanichara Bote kehilangan kedua orang tuanya setelah diserang oleh gajah di bazaar Baruwa, Madi. 

Karena ancaman serangan hewan buas membawa risiko yang terlalu tinggi, dia membawa keluarganya menyeberangi sungai Rapti, lalu tinggal di Jagatpur, Nepal. Namun naasnya, gajah yang dulu menghilangkan nyawa kedua orang tuanya kembali melakukan hal yang sama 12 tahun kemudian.

Ia segera melaporkan kejadian tersebut kepada Kantor Polisi Distrik Chitwan, dan menerangkan bahwa gajah yang menghabiskan nyawa menantu dan cucunya adalah gajah yang sama dengan yang menyerang orang tuanya 12 tahun lalu.

“Sebelumnya kami tinggal di daerah Madi, Dropatinagar, tapi teror dari gajah liar membuat kami terpaksa menjual segalanya dan pindah ke Jagatpur,” ujar Shanichara kepada Kathmandu Post.

“Kami kira berpindah menyeberangi sungai akan menjamin keselamatan kami. Namun ternyata, setelah bertahun-tahun, gajah yang sama menemukan kami, menyerang rumah kami, dan mengambil nyawa menantu dan cucu saya. Tak ada lagi tempat untuk kami kabur,” tambahnya.

Dhurbe, gajah yang menjadi penyebab tragedi keluarga Shanichara, memiliki catatan kasus kekerasan yang sudah tak asing bagi pegiat konservasi satwa liar. 

Selama 23 tahun terakhir, gajah liar tersebut dipercaya telah menghabiskan nyawa sebanyak setidaknya 25 orang di Taman Nasional Chitwan, area konservasi pertama Nepal. Ketenarannya membuatnya memiliki situs Wikipedia pribadi.

“Kami menggunakan kalung pelacak satelit untuk mengawasi pergerakan gajah jantan agresif ini,” ujar petugas konservasi Taman Nasional Chitwan.

Para ahli percaya bahwa perilaku agresif Dhurbe bisa jadi dikarenakan oleh bagaimana cara gajah memperlakukan jantan muda. Mereka cenderung dipisahkan secara agresif dari kawanan ibunya oleh jantan yang dominan. 

Pemisahan ini kemudian akan memaksa jantan muda tersebut menjadi penyendiri dan tidak bersahabat. Inilah yang dipercaya terjadi kepada Dhurbe, sehingga ia seringkali masuk ke pemukiman manusia untuk mencari makan.

Serangan gajah sudah biasa terjadi di Nepal dan India. Yang membuat kemalangan kisah Shanichara tidak biasa adalah dua serangan berbeda berjarak lebih dari 10 tahun oleh gajah yang sama.

 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya