Liputan6.com, Jakarta - Indonesia semakin memperkuat posisinya sebagai pusat kolaborasi internasional di bidang pencarian dan pertolongan (search and rescue/SAR). Hal tersebut ditandai dengan pembukaan Indonesia International Search and Rescue (IISAR) di Nusantara International Convention Exhibition (NICE), PIK 2, Tangerang, Kamis (9/7).
Ajang internasional yang berlangsung selama empat hari ini mempertemukan berbagai pemangku kepentingan dari dalam dan luar negeri untuk membahas tantangan operasi penyelamatan di era perubahan iklim, sekaligus memperkenalkan teknologi SAR terbaru.
Advertisement
Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Pratikno menilai penyelenggaraan IISAR sangat relevan mengingat meningkatnya ancaman bencana akibat perubahan iklim serta tingginya risiko kebencanaan di Indonesia yang berada di kawasan Cincin Api (Ring of Fire).
"Karena kita harus selalu siaga menghadapi ketidakpastian yang semakin tinggi. Ada perubahan iklim yang semakin meningkat, Indonesia juga merupakan negara kepulauan dan berada di Ring of Fire. Bencana hidrometeorologi juga terus menghantui kita," kata Pratikno.
Menurutnya, tantangan tersebut membuat kemampuan pencarian dan pertolongan menjadi semakin penting karena setiap detik sangat menentukan keselamatan korban.
Pratikno menegaskan penguatan operasi SAR tidak cukup hanya mengandalkan pengalaman. Pemanfaatan teknologi terbaru harus berjalan beriringan dengan peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM) dan penguatan empati para petugas penyelamat.
"Teknologi menjadi penting karena kita tidak bisa menggunakan cara-cara yang lama. Kita harus menggunakan teknologi yang baru. Tetapi lebih dari itu, kemampuan SDM dan empati untuk menyelamatkan nyawa juga sangat penting," ujarnya.
Ia juga mengingatkan bahwa operasi SAR merupakan tanggung jawab bersama yang melibatkan Basarnas, TNI, Polri, pemerintah pusat, pemerintah daerah, hingga relawan.
"Dalam penyelamatan, setiap menit sangat berharga untuk menyelamatkan nyawa. Karena itu, semua pihak harus mampu bergerak cepat," tegasnya.
Sarana Komunikasi dan Edukasi
Kepala Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) Mohammad Syafii menjelaskan IISAR merupakan penyelenggaraan perdana yang digagas sebagai implementasi amanat Undang-Undang Nomor 29 Tahun 2014 tentang Pencarian dan Pertolongan.
Menurutnya, kegiatan ini bukan sekadar pameran, melainkan menjadi wadah komunikasi, edukasi, koordinasi, dan kolaborasi bagi komunitas SAR nasional maupun internasional.
"IISAR menjadi sarana komunikasi, edukasi, koordinasi, dan kolaborasi seluruh kementerian, lembaga, organisasi internasional, hingga potensi SAR nasional yang selama ini terlibat dalam operasi kemanusiaan," ujar Syafii.
Ia menyebut sebanyak 28 negara terlibat dalam penyelenggaraan IISAR, meski bentuk partisipasinya berbeda-beda, mulai dari forum diskusi, pameran teknologi, hingga kompetisi kemampuan penyelamatan.
Dalam forum internasional tersebut, peserta akan bertukar pengetahuan mengenai standar operasi penyelamatan dari berbagai organisasi dunia, seperti International Civil Aviation Organization (ICAO), International Maritime Organization (IMO), serta International Search and Rescue Advisory Group (INSARAG).
Syafii mengatakan pembelajaran tersebut sangat penting karena menjadi acuan Basarnas dalam menangani berbagai jenis operasi pencarian dan pertolongan, mulai dari kecelakaan pesawat, kecelakaan laut, hingga penanganan bencana.
Selain forum ilmiah, IISAR juga menghadirkan kompetisi antartim SAR nasional dan internasional sebagai sarana berbagi pengalaman operasional di lapangan.
"Kami ingin seluruh peserta mendapatkan edukasi mengenai mekanisme operasi, hubungan kerja, hingga perkembangan terbaru dalam penanganan keadaan darurat," katanya.
Salah satu daya tarik IISAR adalah pameran teknologi SAR yang menghadirkan hampir 57 booth dari berbagai perusahaan dan institusi.
Berbagai inovasi yang dipamerkan mencakup teknologi komunikasi darurat, peralatan penyelamatan udara, darat, laut, hingga bawah air. Sejumlah perusahaan seperti PT Dirgantara Indonesia (PTDI), Bell Helicopter, serta berbagai penyedia teknologi SAR internasional turut memperkenalkan solusi terbaru untuk mendukung operasi penyelamatan.
Syafii mengatakan pihaknya sengaja memberikan ruang bagi para mitra industri untuk memperlihatkan inovasi yang dapat dimanfaatkan dalam operasi SAR di masa depan.
"Kami ingin mendapatkan informasi teknologi terbaru yang dapat mendukung operasi SAR, baik di udara, darat, laut, maupun bawah air, sehingga ketika terjadi keadaan darurat seluruh potensi dapat saling melengkapi dan bersinergi," jelasnya.
Berbeda dengan forum dan kompetisi yang diikuti peserta terdaftar, area pameran IISAR terbuka bagi masyarakat umum. Pengunjung dapat melihat langsung berbagai teknologi penyelamatan, kendaraan operasional, hingga perlengkapan SAR modern setiap hari mulai pukul 11.00 hingga 19.00 WIB.
Basarnas mencatat sekitar 1.500 pengunjung telah mendaftar secara daring pada hari pertama penyelenggaraan.
Founder IISAR Candra Tri Saktiyanto mengatakan penyelenggaraan IISAR diharapkan mampu memperluas pemahaman masyarakat bahwa industri SAR memiliki peran besar dalam kehidupan sehari-hari.
"Search and rescue sangat penting dalam konteks kegawatdaruratan di mana pun kita berada. Walaupun ini merupakan niche market, industri SAR memiliki banyak potensi yang dapat dikembangkan karena berkaitan langsung dengan keselamatan di rumah, gedung, maupun berbagai aktivitas masyarakat," ujarnya.
Ia berharap IISAR mampu melahirkan kolaborasi strategis, mempercepat transfer teknologi, meningkatkan kapasitas sumber daya manusia, sekaligus memperkuat sinergi global dalam menghadapi berbagai situasi darurat.
"Batas wilayah hanya memisahkan negara, tetapi nilai kemanusiaan selalu menyatukan tujuan kita. Semoga IISAR menjadi tonggak penting dalam memperkuat kolaborasi global di bidang search and rescue," pungkas Candra.