Ilmuwan Temukan Bukti Manusia Purba Rawat Serigala 5.000 Tahun Lalu

Peneliti di Swedia menemukan kerangka serigala yang menunjukkan hubungan antar hewan dan manusia yang berbeda.

oleh Nasywa FakhirahDiterbitkan 06 Juli 2026, 18:35 WIB
Ilustrasi serigala (AFP)

Liputan6.com, Stockholm - Penemuan sisa-sisa serigala purba di sebuah pulau kecil di Laut Baltik mengubah pemahaman ilmuwan tentang hubungan manusia prasejarah dengan serigala. Bukti terbaru menunjukkan bahwa sebagian komunitas manusia purba diduga tidak hanya berburu atau menghindari serigala, tetapi juga merawat hewan tersebut.

Dikutip dari Science Daily, Senin (6/7/2026), para peneliti menemukan sisa-sisa dua serigala yang diperkirakan berusia sekitar 3.000 hingga 5.000 tahun di Pulau Stora Karlsö, Swedia. Penemuan ini dinilai tidak biasa karena pulau tersebut tidak memiliki mamalia darat asli.

Penelitian yang dilakukan oleh tim dari Francis Crick Institute, Stockholm University, University of Aberdeen, dan University of East Anglia menyimpulkan kedua serigala itu kemungkinan besar dibawa manusia menggunakan perahu ke pulau tersebut. Kesimpulan itu didasarkan pada fakta bahwa serigala tidak dapat mencapai pulau yang terpisah oleh laut lepas secara alami.

Sisa-sisa kedua serigala ditemukan di Gua Stora Förvar, sebuah situs arkeologi yang pernah dihuni komunitas pemburu anjing laut dan nelayan pada masa Neolitikum hingga Zaman Perunggu.

Melalui analisis genetika, para peneliti memastikan kedua spesimen merupakan serigala murni tanpa adanya garis keturunan anjing. Meski demikian, hewan-hewan tersebut menunjukkan karakteristik yang umumnya ditemukan pada hewan yang hidup berdampingan dengan manusia.

Analisis isotop terhadap tulang serigala menunjukkan keduanya mengonsumsi protein laut dalam jumlah besar, seperti ikan dan anjing laut. Pola makan tersebut serupa dengan makanan yang dikonsumsi manusia yang tinggal di pulau itu, sehingga mengindikasikan bahwa serigala-serigala tersebut kemungkinan diberi makan oleh manusia.

Selain itu, ukuran tubuh kedua serigala lebih kecil dibandingkan serigala liar pada umumnya. Para peneliti juga menemukan tingkat keragaman genetik yang rendah, yang mengindikasikan populasi tersebut hidup dalam kondisi terisolasi atau mengalami perkembangbiakan yang terbatas.

Temuan lain yang menarik adalah salah satu serigala dari Zaman Perunggu mengalami kerusakan tulang yang cukup parah hingga menyulitkannya bergerak dan berburu. Meski demikian, hewan tersebut diketahui tetap bertahan hidup cukup lama, yang menurut para peneliti menjadi indikasi bahwa serigala itu dirawat dan diberi makan oleh manusia.

Para ilmuwan belum dapat memastikan apakah kedua serigala tersebut telah dijinakkan, dipelihara dalam penangkaran, atau hanya dirawat tanpa melalui proses domestikasi. Namun, keberadaan mereka di pulau yang dihuni manusia menunjukkan adanya hubungan yang disengaja dan berlangsung dalam jangka waktu tertentu.

"Sangat mengejutkan bahwa yang kami temukan adalah serigala, bukan anjing," kata Pontus Skoglund dari Laboratorium Genomika Kuno di Francis Crick Institute.

Penelitian yang menggabungkan analisis osteologi atau studi tulang dengan teknologi genetika modern itu memperlihatkan bahwa hubungan manusia dan serigala pada masa prasejarah jauh lebih kompleks daripada yang selama ini diperkirakan. Temuan tersebut menunjukkan bahwa sebagian komunitas manusia purba kemungkinan membangun hubungan dengan serigala dan merawatnya, meski belum tentu menjinakkannya.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya