Beli Kaus Cantik untuk Seragam Sekolah Anak di Daerah 3T

Tak sedikit anak-anak di daerah 3T yang tak memiliki seragam sekolah. Sementara untuk anak di perkotaan, beli kaus menjadi cara orangtua menanamkan nilai-nilai.

oleh Dinny MutiahDiterbitkan 05 Juli 2026, 08:00 WIB
Kaus anak kolaborasi Mothercare x One Fine Sky. (dok. Mothercare)

Liputan6.com, Jakarta - "Loh bun, emang ada orang yang enggak bisa beli seragam sekolah? Itu literally kayak, oh ternyata maksudnya anakku tuh belum aware hal-hal kayak gitu," kata Kartika Tirta Putri, General Manager Marketing PT Multitrend Indo Tbk, di sela peluncuran koleksi kaus kolaborasi Mothercare x One Fine Sky, di Jakarta, Jumat, 3 Juli 2026.

Rasa penasaran anak Kartika yang berusia 5 tahun muncul setelah membaca tag 'thank you notes' di kausnya. Bunyinya 'thank you for this, i can proudly wear uniform to school'. Kaus itu merupakan bagian dari kolaborasi Mothercare dan One Fine Sky, organisasi kemanusiaan yang fokus pada pemberdayaan anak dengan membagikan seragam sekolah gratis.

Lewat kolaborasi tersebut, ia dan mitra kolaboratornya merancang kaus lengan pendek dengan empat desain berbeda. Ada yang bergaris-garis, ada pula warna polos dengan gambar awan sebagai benang merahnya.

"Warna-warna yang kita gunakan ada pastel, warna-warni, juga ada stripes-nya. Berbagai macam stripes kita padukan jadi satu supaya kelihatan lebih fun," jelas Jenfilia Suwandrei Arifin, Co-Founder One Fine Sky, akrab disapa Jena.

Kaus itu tidak hanya dirancang untuk anak, tetapi juga orangtua. Dengan begitu, orangtua bisa tampil serasi dengan anak mereka. Kaus anak dibanderol Rp 349 ribu, sedangkan kaus dewasa Rp 399 ribu. Koleksi itu dilengkapi dengan bag charm berbentuk awan.

Konsumen yang membeli minimal dua kaus, artinya bisa berdonasi seragam sekolah lengkap dengan topi dan dasi. "Kita pengen orang-orang lebih banyak tahu juga bahwa bisa kok berkontribusi menyumbang seragam ke daerah 3T lewat Mothercare dan One Fine Sky," kata Tika.

 

 

 

Untuk Anak Sekolah Kurang Mampu

Kaus anak kolaborasi Mothercare x One Fine Sky. (dok. Liputan6.com/Dinny Mutiah)

Tika mengatakan kolaborasi dengan One Fine Sky merupakan bagian dari mewujudkan visi brandnya untuk membersamai orangtua dan anak. Tapi, membersamai itu bukan hanya dari segi produk, tetapi juga menanamkan nilai-nilai kebaikan pada anak.

"Orangtua sekarang itu pasti punya visi buat menanamkan kebaikan. Nah, Mothercare itu pengen jadi partner orangtua untuk bukan cuma menyediakan produk yang nyaman, yang berkualitas, yang desainnya lucu-lucu, tapi juga ikut membantu menanamkan nilai-nilai kebaikan," sahutnya.

Setelah tahun lalu berkolaborasi dengan Seribu Paras untuk mendukung anak-anak down syndrome, pihaknya memilih One Fine Sky untuk berkolaborasi tahun ini karena ingin mendukung penyediaan seragam sekolah bagi anak-anak kurang mampu. Jena menyatakan daftar sekolah yang masuk daftar tunggu organisasinya cukup panjang saat ini, tapi sudah ada yang diprioritaskannya.

"Yang pertama tadi SD Sinar Kasih. Itu di Kampung Cina, Bogor. Waiting list-nya banyak, Flores, Sumba, Asmat," ujarnya.

"Sebelumnya, kita selalu memiliki cadangan seragam, sekarang benar-benar habis, jadi kita harus benar-benar mencari lagi," imbuh Jena.

 

Berlangsung di Liburan Sekolah

Kartika Tirta Putri, General Manager Marketing PT Multitrend Indo Tbk, (tengah), dan Jenfilia Suwandrei Arifin, Co-Founder One Fine Sky. (dok. Mothercare)

Program itu, kata Tika, akan berlangsung selama periode liburan sekolah. Pihaknya menyediakan sekitar 500 pieces kaus untuk dijual selama liburan sekolah. Kaus dipilih karena bisa sifatnya lebih kasual dan merupakan baju sehari-hari yang disukai anak-anak.

Jena menambahkan seragam sekolah itu difokuskan untuk anak-anak sekolah dasar. "Kenapa elementary? Karena menurut kita, umur elementary itu adalah pendidikan yang paling penting untuk kita, yang penting kita bisa Calistung, bisa membaca, menulis, dan sebagainya," ujarnya.

Berdasarkan pengalaman yang ditemui di lapangan selama ini, seragam sekolah menjadi identitas mereka sebagai pelajar. Faktanya, masih banyak anak yang tidak dapat seragam sekolah yang layak.

"Kebanyakan di daerah-daerah timur. Ternyata mereka itu bahkan seragamnya hanya satu, tapi dipakainya dua minggu, enggak dicuci-cuci. Atau bahkan enggak usah bicara daerah timur, ada juga di Pulau Jawa. Mereka ada yang share sama kakak adiknya mereka," sahut Jena.

"Jadi kalau selama bisa dibeli lebih cepat, akan lebih banyak seragam yang diberikan," imbuhnya.

 

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya