Rupiah Perkasa Menuju Akhir Pekan, Negosiasi Iran Bikin Dolar Tertekan

Kurs rupiah ditutup menguat ke 17.963 per dolar AS pada Jumat (3/7/2026). Sentimen datang dari negosiasi AS-Iran.

oleh Arthur GideonDiterbitkan 03 Juli 2026, 19:00 WIB
Nilai tukar rupiah menguat 32 poin ke 17.963 per dolar AS. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Liputan6.com, Jakarta - Nilai tukar rupiah berhasil ditutup menguat pada perdagangan Jumat (3/7/2026). Berdasarkan data pasar, kurs rupiah naik 32 poin atau 0,18% menjadi 17.963 per dolar AS, dari posisi penutupan sebelumnya di level 17.995 per dolar AS.

Sementara itu, Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) yang diterbitkan Bank Indonesia juga menunjukkan penguatan mata uang Garuda. JISDOR tercatat berada di level 17.960 per dolar AS, dibandingkan posisi sehari sebelumnya yang berada di 17.994 per dolar AS.

Analis pasar uang Ibrahim Assuaibi menilai, penguatan rupiah didorong oleh sentimen positif dari perkembangan negosiasi antara Amerika Serikat (AS) dan Iran yang dinilai berpotensi meredakan ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah.

"Investor terus memantau negosiasi antara Washington dan Teheran setelah Presiden AS Donald Trump mengatakan dia percaya Iran telah 'menyetujui hampir semua yang kita butuhkan,' menandakan kepercayaan bahwa diskusi bergerak ke arah yang benar," kata Ibrahim dikutip dari Antara.

Meski demikian, ia mengingatkan bahwa proses negosiasi masih diwarnai ketidakpastian. Laporan Wall Street Journal menyebut Iran menolak usulan untuk melepaskan klaimnya atas Selat Hormuz sebagai imbalan atas pencairan miliaran dolar dana Iran yang selama ini dibekukan.

Insentif Finansial untuk Iran

Nilai tukar rupiah menguat 32 poin ke 17.963 per dolar AS. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Menurut Ibrahim, pemerintah AS menawarkan sejumlah insentif finansial, termasuk akses terhadap aset Iran yang dibekukan, dengan tujuan menjamin kelancaran pelayaran di Selat Hormuz, salah satu jalur distribusi minyak paling strategis di dunia. Namun hingga kini, Teheran disebut belum menerima proposal tersebut.

Beragam sinyal dari proses negosiasi itu membuat pelaku pasar masih berhati-hati. Meski kekhawatiran terhadap gangguan pasokan minyak dari kawasan Teluk mulai mereda, risiko geopolitik dinilai masih menjadi salah satu faktor yang memengaruhi pergerakan pasar keuangan global.

"Pasar kini mengamati perkembangan lebih lanjut dalam negosiasi AS-Iran, arus minyak mentah Teluk, dan tanda-tanda pemulihan permintaan setelah libur akhir pekan AS untuk mendapatkan arah baru bagi harga minyak," ujar Ibrahim.

Selain perkembangan geopolitik, investor juga mencermati kondisi ekonomi Amerika Serikat yang menunjukkan tanda-tanda perlambatan melalui data terbaru pasar tenaga kerja.

Data Tenaga Kerja

Nilai tukar rupiah menguat 32 poin ke 17.963 per dolar AS. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Sentimen lain yang menopang penguatan rupiah berasal dari laporan Biro Statistik Tenaga Kerja Amerika Serikat (BLS). Data menunjukkan ekonomi AS hanya mampu menciptakan 57 ribu lapangan kerja pada Juni 2026, jauh di bawah ekspektasi pasar yang memperkirakan penambahan sekitar 110 ribu pekerjaan.

Tak hanya itu, data penyerapan tenaga kerja pada Mei juga direvisi turun menjadi 129 ribu, dari sebelumnya 172 ribu. Di sisi lain, tingkat pengangguran turun tipis menjadi 4,2% dari 4,3%, sementara rata-rata pendapatan per jam meningkat 0,3% secara bulanan (month on month/mom) dan 3,5% secara tahunan (year on year/yoy), sesuai perkiraan pasar.

Ibrahim mengatakan lemahnya data Non Farm Payroll (NFP) memperkuat ekspektasi bahwa bank sentral AS atau Federal Reserve (The Fed) akan lebih berhati-hati dalam menentukan arah kebijakan moneternya.

"Data Non Farm Payroll yang lemah membantu mendinginkan ekspektasi terhadap kebijakan moneter yang lebih ketat dari Federal Reserve (Fed). Menurut CME FedWatch Tool, probabilitas kenaikan suku bunga pada bulan September turun menjadi 51 persen dari 63 persen sebelum rilis data," ujarnya.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya