Liputan6.com, Jakarta - Pak Bondan, salah satu anak buah Emran yang mengetahui bahwa Khansa masih hidup, menjadi korban tabrak lari. Beruntung, Fathan kebetulan berada di lokasi kejadian dan segera memberikan pertolongan. Sebelum kehilangan kesadaran, Bondan sempat menyebut nama Khansa dengan suara lirih. Ucapan singkat itu membuat Fathan diliputi rasa curiga. Ia pun memutuskan untuk menunggu Bondan sadar dengan tetap berada di ruang ICU.
Kabar tersebut segera terdengar oleh Funny, Rara, Vionika, dan Linda. Mereka panik karena khawatir Bondan akan membongkar rahasia besar yang selama ini disembunyikan. Demi mencegah hal itu terjadi, Linda dan Rara sepakat menghentikan perselisihan di antara mereka untuk sementara. Keduanya memilih bekerja sama demi memastikan Bondan tidak sempat mengungkapkan apa pun kepada Fathan.
Advertisement
Di Bandung, Vionika terus mengawasi pergerakan Khansa. Ia dibuat terkejut saat mengetahui Khansa kini menjabat sebagai manajer di Kopi Angkasa dan berada di bawah perlindungan Rangga, sosok yang memiliki pengaruh besar. Kondisi tersebut membuat rencana Vionika untuk menyingkirkan Khansa secara langsung menjadi jauh lebih sulit. Namun sebuah kebetulan membuka peluang baru ketika ia bertabrakan dengan Pasha di lorong kantor. Pasha yang langsung bersikap genit bahkan tanpa ragu menjelek-jelekkan istrinya sendiri, Nadira. Menyadari betapa mudahnya Pasha dimanfaatkan, Vionika pun menyusun rencana licik. Ia berniat menjadikan Pasha sebagai alat untuk menghancurkan Khansa dari dalam keluarga Rangga.
Sementara itu, di Kopi Angkasa, Khansa dan Rangga akhirnya menemukan penyebab kerugian besar yang selama ini dialami perusahaan. Mereka menyusun jebakan untuk menangkap basah Santi dan seorang penjaga gudang yang tengah melakukan transaksi ilegal berupa pencurian biji kopi premium pada malam hari.
Merasa terdesak, Santi memerintahkan para anak buahnya menyerang Khansa dan Rangga. Di luar dugaan, Khansa memperlihatkan kemampuan bela diri yang luar biasa. Dengan gerakan cepat dan terukur, ia berhasil melumpuhkan para preman bertubuh besar, membuat Rangga tak mampu menyembunyikan rasa kagum atas keberanian dan keahliannya.