Gunung Anak Krakatau Naik Status Jadi Siaga, Warga Diminta Waspada

Tanda-tanda peningkatan aktivitas sudah terlihat sejak Juni 2026.

oleh Ardi MuntheDiterbitkan 03 Juli 2026, 13:39 WIB
Gunung Anak Krakatau Naik Status Jadi Siaga (Liputan6.com/Istimewa)

Liputan6.com, Jakarta - Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) resmi menaikkan status aktivitas Gunung Anak Krakatau (GAK) di Selat Sunda dari Level II (Waspada) menjadi Level III (Siaga). Keputusan tersebut mulai berlaku pada Kamis (2/7/2026) pukul 16.30 WIB setelah terjadi peningkatan signifikan aktivitas vulkanik dalam beberapa pekan terakhir.

Pelaksana Tugas (Plt.) Kepala Badan Geologi, Lana Saria menjelaskan bahwa peningkatan status dilakukan berdasarkan hasil analisis menyeluruh terhadap data visual, kegempaan, deformasi, serta pemantauan satelit. Menurut Lana, tanda-tanda peningkatan aktivitas Gunung Anak Krakatau sebenarnya telah terdeteksi sejak awal Juni 2026.

"Citra Satelit Sentinel memperlihatkan adanya emisi gas sulfur dioksida (SO2), anomali panas, serta munculnya titik api di kawah sejak 10 Juni 2026," katanya, Jumat (3/7).

Aktivitas tersebut diikuti kemunculan asap kawah yang semakin intens disertai lonjakan gempa vulkanik dangkal, seperti gempa hembusan, hybrid atau fase banyak, dan low frequency.

"Dalam dua hari terakhir, yakni 18-19 Juni 2026, jumlah gempa hembusan, hybrid, dan low frequency meningkat drastis dengan rata-rata lebih dari 50 kejadian setiap hari. Kondisi ini menunjukkan adanya dinamika magma di bagian permukaan gunung api," ungkapnya.

Berdasarkan data pengamatan selama periode 16 Juni hingga 2 Juli 2026, tercatat sebanyak 740 gempa hembusan, 520 gempa hybrid/fase banyak, 247 gempa low frequency, 24 gempa harmonik, 16 tremor menerus, 2 gempa vulkanik dangkal, 3 gempa vulkanik dalam, serta sejumlah gempa tektonik lokal dan jauh.

Sementara itu, lanjut Lana, hasil pemantauan deformasi menggunakan tiltmeter menunjukkan adanya inflasi atau penggembungan tubuh gunung dalam skala rendah, yang mengindikasikan suplai magma masih berlangsung.

"Pada 26 Juni 2026, intensitas asap kawah juga meningkat dengan warna kelabu bermuatan abu vulkanik tipis yang bergerak ke arah barat hingga barat laut. Fenomena tersebut bahkan terdeteksi oleh satelit milik Volcanic Ash Advisory Centre (VAAC) Darwin, Australia," sebutnya.

 

Erupsi dengan Kolom Abu 200 Meter

Puncaknya terjadi pada Kamis (2/7/2026) pukul 14.05 WIB, ketika Gunung Anak Krakatau mengalami erupsi dengan kolom abu mencapai sekitar 200 meter di atas puncak atau sekitar 357 meter di atas permukaan laut.

Kolom abu berwarna kelabu hingga hitam dengan intensitas tebal mengarah ke barat laut. Erupsi tersebut terekam di seismograf dengan amplitudo maksimum 23 milimeter dan durasi sekitar 20 detik.

Atas kondisi tersebut, Badan Geologi menetapkan status Gunung Anak Krakatau menjadi Level III (Siaga).

"Masyarakat, wisatawan, maupun pendaki dilarang beraktivitas dalam radius 3 kilometer dari pusat aktivitas kawah. Kami juga meminta warga untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi awan panas, aliran lava, lontaran batu pijar, serta hujan abu vulkanik," pintanya.

Meski demikian, Badan Geologi menegaskan masyarakat di wilayah pesisir Lampung maupun Banten tidak perlu panik dan tidak mudah mempercayai isu yang menyebut erupsi Gunung Anak Krakatau akan langsung memicu tsunami.

"Masyarakat diharapkan tetap tenang, beraktivitas seperti biasa, dan selalu mengikuti informasi resmi serta arahan dari BPBD setempat," tandasnya.

 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya