Liputan6.com, Washington DC - Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) memperingatkan bahwa organisasi tersebut terancam kehabisan dana operasional pada Agustus 2026 apabila negara-negara anggota tidak segera memenuhi kewajiban pembayaran kontribusi mereka.
Asisten Sekretaris Jenderal PBB untuk Perencanaan Program, Keuangan, dan Anggaran, Chandramouli Ramanathan, mengatakan kas anggaran reguler PBB diperkirakan hanya cukup untuk menopang operasional hingga Agustus.
Advertisement
"Dalam anggaran reguler, kami hampir tidak memiliki dana tunai. Setelah Agustus, praktis tidak ada lagi dana. Kami menunggu pembayaran kontribusi agar dapat terus beroperasi setelah September," kata Ramanathan dalam konferensi pers, Rabu (1/7/2026).
Ia menambahkan, PBB kemungkinan akan menutup tahun ini dengan saldo kas mendekati nol, sehingga organisasi harus bertahan dengan anggaran yang telah dipangkas, dikutip dari Antara News, Jumat (3/7).
Menurut Ramanathan, situasi keuangan PBB akan menjadi semakin kritis pada September apabila Amerika Serikat dan China belum melunasi kontribusi wajib mereka.
"Jika salah satu dari mereka tidak membayar tepat waktu, kami akan menghadapi krisis pada September. Jika mereka tidak membayar sama sekali atau membayar kurang dari jumlah yang seharusnya, tantangan keuangan akan semakin besar pada akhir tahun," ujarnya.
Ramanathan menambahkan, sekalipun Amerika Serikat dan China memenuhi kewajiban pembayaran, kondisi keuangan PBB diperkirakan tetap sangat ketat dan kas organisasi berpotensi kembali habis menjelang akhir 2026 apabila tidak ada tambahan kontribusi dari negara-negara anggota.