Amunisi Berlimpah Memaksa Didier Deschamps Ubah Filosofi Prancis di Piala Dunia 2026

Prancis produktif di Piala Dunia 2026 karena memiliki pemain bernaluri serang berlimpah. Namun, sejarah mereka justru terukir saat penyerang utama mandul.

oleh Harley IkhsanDiterbitkan 02 Juli 2026, 16:02 WIB
Pemain Prancis Kylian Mbappe, kiri, merayakan gol bersama rekan setimnya Ousmane Dembele setelah mencetak gol dalam laga babak 32 besar Piala Dunia 2026 antara Prancis vs Swedia di East Rutherford, New Jersey, dekat New York, Selasa, 30 Juni 2026. (AP Photo/Seth Wenig)

Liputan6.com, Jakarta - Prancis, dengan lini serang yang disebut mematikan, tengah menjalani Piala Dunia 2026 dengan ambisi besar meraih gelar ketiga sepanjang sejarah mereka. Namun, di tengah performa impresif tersebut, muncul pertanyaan apakah mereka akan dapat mengangkat trofi juara.

Kuartet penyerang yang terdiri dari Kylian Mbappe, Ousmane Dembele, Michael Olise, serta Desire Doue atau Bradley Barcola, menjadikan Les Bleus salah satu favorit kuat di turnamen ini. Kehadiran nama-nama tersebut telah membentuk kekuatan ofensif yang sangat ditakuti lawan.

Di fase grup, Prancis berhasil mencetak 10 gol, jumlah terbanyak bersama Belanda dan Jerman. Berbeda dari kedua negara tetangga tersebut, ketajaman Les Bleus tetap terjaga pada putaran pertama babak gugur.


Keganasan Serangan Prancis di Piala Dunia 2026

Pemain Prancis Michael Olise (11) melakukan tendangan salto di dekat pemain Swedia Gabriel Gudmundsson (5) dalam laga babak 32 besar Piala Dunia 2026 antara Prancis vs Swedia di East Rutherford, New Jersey, dekat New York, Selasa, 30 Juni 2026. (AP Photo/Petr David Josek)

Performa Prancis di babak awal Piala Dunia 2026 memang menunjukkan dominasi. Mereka berhasil menyingkirkan Swedia dengan skor telak 3-0 pada putaran pertama babak gugur.

Sementara itu, Belanda dan Jerman, yang memiliki jumlah gol fase grup sama dengan Prancis, justru harus tersingkir setelah kalah dalam adu penalti dari lawan masing-masing. Hal ini menyoroti efisiensi dan konsistensi serangan Prancis yang berhasil mempertahankan momentumnya.

Dengan amunisi penyerang yang melimpah, tim Ayam Jantan ini jelas mengincar gelar juara dunia ketiga mereka. Namun, sejarah mereka pada turnamen besar menunjukkan bahwa perjalanan menuju trofi tidak selalu linier dengan performa penyerang utama.


Pola Kemenangan Unik Tanpa Gol Penyerang Utama

Striker timnas Prancis, Olivier Giroud berada di atas bus beratap terbuka saat parade merayakan juara Piala Dunia 2018 di sepanjang Champs Elysees, Paris, Senin (16/7). Prancis meraih trofi Piala Dunia kedua usai mengalahkan Kroasia. (AP/Claude Paris)

Ada sebuah pola menarik dalam sejarah kesuksesan Prancis di turnamen besar. Les Bleus kerap kali meraih gelar juara justru ketika penyerang utama mereka gagal mencatatkan namanya di papan skor.

Contohnya terjadi pada Piala Dunia 1998, di mana Stephane Guivarc'h, penyerang utama saat itu, sama sekali tidak mencetak gol sepanjang turnamen, namun Prancis berhasil menjadi juara.

Fenomena serupa terulang pada Piala Dunia 2018, ketika Olivier Giroud juga tidak menyumbangkan gol, tetapi Prancis kembali sukses mengangkat trofi. Pada Euro 1984, Bernard Lacombe gagal merobek gawang lawan, namun Prancis tetap berhasil menguasai turnamen tersebut.

Pola ini menimbulkan tanda tanya apakah serangan mematikan Prancis di Piala Dunia 2026 bisa berbuah trofi.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya