Liputan6.com, Beijing - Presiden Belarus Alexander Lukashenko menghadiri wisuda angkatan pertama mahasiswa Belarus yang menyelesaikan program bersama Bioteknologi antara Universitas Negeri Belarus (BSU) dan Universitas Peking pada 30 Juni. Program tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat kerja sama pendidikan dan riset antara Belarus dan China.
Sebanyak lima mahasiswa menerima ijazah ganda dari kedua universitas setelah menempuh pendidikan selama empat tahun di Belarus dan China. Mereka merupakan lulusan pertama dari program yang dirancang untuk mencetak tenaga ahli di bidang bioteknologi, dikutip dari laman News.by, Kamis (2/7/2026).
Advertisement
Para mahasiswa tersebut terpilih melalui proses seleksi yang ketat. Saat program dimulai empat tahun lalu, hanya mahasiswa berprestasi, termasuk para pemenang olimpiade sains tingkat nasional, yang diterima mengikuti pendidikan tersebut.
Salah satu lulusan, Vladislav Stepanov, mengatakan ingin mengembangkan karier di Belarus, khususnya dalam bidang penelitian imunoglobulin yang dinilai memiliki prospek besar bagi industri farmasi.
"Saya ingin bekerja di Belarus. Bidang imunoglobulin merupakan sektor baru yang menjanjikan, dan pengetahuan yang saya peroleh di sini akan sangat bermanfaat," ujarnya.
Program bersama tersebut lahir dari kesepakatan antara Presiden Lukashenko dan Presiden China Xi Jinping. Pemerintah Belarus berharap lulusan program itu dapat menjadi motor pengembangan industri bioteknologi nasional, terutama dalam sektor farmasi.
Untuk Kemajuan Belarus
Dalam pertemuan dengan pimpinan Universitas Peking, Lukashenko menegaskan bahwa ilmu yang diperoleh para lulusan harus diterapkan untuk mendukung pembangunan industri di Belarus.
"Kita harus memastikan pengetahuan dan pengalaman yang mereka peroleh dapat diterapkan di Belarus. Belajar di salah satu universitas terbaik dunia hanyalah langkah awal. Selanjutnya harus diwujudkan dalam praktik dan produksi," kata Lukashenko.
Ia berharap para lulusan mampu mendirikan perusahaan berbasis bioteknologi di Belarus dengan memanfaatkan teknologi yang dikembangkan China, terutama dalam produksi obat-obatan dan vaksin.
Menurut Lukashenko, seluruh peserta program yang berjumlah 25 mahasiswa telah memperoleh tawaran pekerjaan, termasuk dari perusahaan China dan Rusia. Namun, ia menegaskan bahwa para lulusan diharapkan mengabdikan keahliannya untuk pembangunan Belarus.
"Mereka harus bekerja di Belarus, bekerja sama dengan perusahaan-perusahaan China, dan menghasilkan produk nyata, termasuk obat-obatan untuk pengobatan kanker," ujarnya.
Dalam pidatonya kepada para wisudawan, Lukashenko juga mengingatkan pentingnya berkontribusi bagi negara.
"Kalian adalah warga Belarus. Gunakan kemampuan yang kalian miliki untuk membangun Belarus. Negara akan terus mendukung pekerjaan dan pengembangan kalian," katanya.
Ia juga menyampaikan bahwa kesempatan mengikuti program tersebut diberikan berdasarkan prestasi, tanpa memandang latar belakang keluarga para mahasiswa.