Liputan6.com, Jakarta - Nilai tukar rupiah kembali melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Kamis (2/7/2026). Tekanan terhadap mata uang Garuda dipicu menguatnya ekspektasi pasar bahwa Federal Reserve (The Fed) akan kembali menaikkan suku bunga.
Berdasarkan data perdagangan pagi, rupiah turun 26 poin atau 0,14 persen menjadi 17.978 per dolar AS, dari posisi penutupan sebelumnya di 17.952 per dolar AS.
Advertisement
Analis Doo Financial Futures Lukman Leong mengatakan, meningkatnya peluang kenaikan suku bunga The Fed mendorong kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS sekaligus memperkuat dolar AS terhadap berbagai mata uang, termasuk rupiah.
"Rupiah diperkirakan masih tertekan dolar AS di tengah kenaikan imbal hasil obligasi AS oleh ekspektasi kenaikan suku bunga oleh The Fed yang meningkat menjelang rilis data pekerjaan AS NFP (Non-Farm Payrolls) malam ini," ungkap Lukman dikutip dari Antara.
Ia mencatat imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun naik dari 4,36 persen menjadi 4,49 persen hanya dalam satu hari. Kondisi tersebut membuat aset berbasis dolar AS semakin menarik bagi investor global.
Prediksi Gerak Rupiah Hari Ini
Menurut Lukman, pasar kini hampir memastikan The Fed akan kembali menaikkan suku bunga pada tahun ini. Bahkan, peluang kenaikan suku bunga diperkirakan bisa terjadi paling cepat pada September 2026, dengan probabilitas mencapai 85 persen.
Pelaku pasar juga tengah menantikan rilis data Non-Farm Payrolls (NFP) Amerika Serikat yang diperkirakan menunjukkan penambahan sekitar 110 ribu lapangan kerja sepanjang Juni 2026. Data tersebut akan menjadi salah satu indikator utama yang memengaruhi arah kebijakan moneter The Fed dalam beberapa bulan mendatang.
Di sisi domestik, tekanan terhadap rupiah juga belum sepenuhnya mereda.
"Sentimen domestik juga masih belum pulih dari tekanan jual investor asing," ujar Lukman.
Dengan mempertimbangkan sentimen global dan domestik tersebut, Lukman memperkirakan nilai tukar rupiah pada perdagangan hari ini bergerak di kisaran 17.900 per dolar AS hingga 18.050 per dolar AS.
Investor pun diperkirakan tetap mencermati perkembangan data ekonomi AS dan arah kebijakan The Fed yang berpotensi memengaruhi pergerakan rupiah dalam jangka pendek.