BYD Seal Uji Coba Sistem Bantuan Mengemudi Generasi Baru

BYD telah memulai melakukan pengujian sistem bantuan mengemudi generasi terbaru, untuk sedan listrik Seal

oleh Arief AszhariDiterbitkan 02 Juli 2026, 18:12 WIB
BYD Uji Coba Sistem Bantuan Mengemudi Cerdas untuk Seal (ist)

Liputan6.com, Jakarta - BYD mulai melakukan pengujian sistem bantuan mengemudi generasi terbaru, untuk sedan listrik Seal. Langkah ini, sebagai bagian dari strategi untuk mengurangi ketergantungan terhadap chip Nvidia, yang selama ini mendominasi pasar kendaraan otonom.

Disitat dari Carnewschina, teknologi yang sedang diuji BYD, adalah Horizon SuperDrive (HSD) 2.0 buatan Horizon Robotics. Pengujian dilakukan langsung oleh Chairman BYD Wang Chuanfu, bersama CEO Horizon Robotics Yu Kai.

Sistem ini dirancang untuk menghadirkan kemampuan berkendara cerdas, dengan biaya yang lebih rendah dibandingkan solusi berbasis Nvidia, sehingga berpotensi meningkatkan daya saing mobil listrik BYD di pasar.

Meski sebelumnya BYD telah memperkenalkan chip buatannya sendiri, Xuanji A3, perusahaan belum akan menggunakannya untuk model produksi massal dalam waktu dekat.

Berdasarkan laporan tersebut, penerapan chip internal BYD pada lini premium Denza baru dijadwalkan dimulai pada 2027.

Sementara itu, model-model dengan volume penjualan tinggi, termasuk BYD Seal, masih akan mengandalkan solusi dari pemasok eksternal.

Penggunaan Horizon SuperDrive 2.0 juga memberikan keuntungan dari sisi biaya. BYD diklaim mampu menghemat sekitar US$ 588 atau setara Rp 9,6 juta untuk setiap kendaraan listrik yang menggunakan perangkat lunak dan chip pihak ketiga tersebut.

Efisiensi biaya ini menjadi salah satu faktor penting, di tengah persaingan ketat industri mobil listrik China.

Langkah BYD sekaligus mencerminkan perubahan strategi industri otomotif China yang mulai mengurangi ketergantungan pada teknologi asing.

Selain mengembangkan chip sendiri, berbagai produsen kendaraan listrik di Negeri Tirai Bambu kini semakin banyak menggandeng perusahaan semikonduktor lokal, seperti Horizon Robotics untuk menghadirkan sistem berkendara pintar dengan biaya lebih kompetitif.

Teknologi Hybrid China Dinilai Telah Lampaui Jepang

Dominasi pabrikan China di industri otomotif kini tak terbatas mobil listrik murni. Bahkan, media Jepang, Nikkei menyebut produsen mobil asal Negeri Tirai Bambu telah berhasil mengejar, bahkan dalam beberapa aspek telah melampaui Negeri Sakura di teknologi mesin pembakaran internal (ICE), khususnya sistem hybrid.

Pencapaian tersebut menjadi langkah penting, karena Jepang selama puluhan tahun dikenal sebagai pemimpin dalam pengembangan mesin bensin yang efisien dan teknologi hybrid.

Namun, menurut analisis Nikkei, kemajuan pesat produsen China didorong oleh strategi pengembangan yang lebih cepat, biaya riset yang kompetitif, serta integrasi teknologi elektrifikasi dengan mesin konvensional.

Salah satu contoh yang disorot adalah perkembangan teknologi plug-in hybrid (PHEV) dari berbagai merek China.

Pabrikan seperti BYD, Geely, Changan, Chery, hingga Great Wall Motor (GWM) dinilai berhasil menciptakan sistem penggerak yang menawarkan efisiensi bahan bakar tinggi, performa kompetitif, serta jarak tempuh gabungan yang semakin jauh.

Kondisi tersebut membuat produk Tiongkok mampu bersaing dengan model hybrid buatan Jepang, yang selama ini menjadi tolok ukur industri.

Nikkei juga menilai produsen mobil China tidak lagi sekadar mengikuti perkembangan teknologi global, melainkan mulai memimpin inovasi di beberapa bidang.

Keunggulan tersebut didukung oleh kemampuan perusahaan-perusahaan China dalam mengembangkan komponen utama secara mandiri, mulai dari baterai, motor listrik, hingga sistem manajemen energi yang terintegrasi dengan mesin pembakaran internal.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya