Tunjangan Profesi Ubah Nasib Guru yang Dulu Digaji Tak Layak

Tunjangan profesi jadi penyemangat guru di daerah Pesisir Wakatobi.

oleh Devira PrastiwiDiterbitkan 01 Juli 2026, 15:07 WIB
Tunjangan Profesi Guru (TPG) meningkatkan kesejahteraan guru. (Foto: Kemendikdasmen)

Liputan6.com, Jakarta - Jauh sebelum menikmati Tunjangan Profesi Guru (TPG), para guru yang mengabdi di kawasan pesisir, mengajar dengan honor yang sangat terbatas, bahkan ada yang hanya puluhan ribu rupiah. Namun, keterbatasan itu tidak menyurutkan langkah mereka untuk tetap hadir di ruang kelas.

Semangat tersebut dirasakan Tino, guru Informatika SMP Swasta Maritim Mola yang mulai mengajar sejak akhir 2021. Sebelum memperoleh TPG, dia mengandalkan insentif dari dana BOS sekitar Rp 400 ribu per bulan yang dibayarkan setiap tiga bulan. Kini, setelah menerima TPG, Tino merasa lebih tenang dalam menjalankan tugas sebagai pendidik.

"TPG sangat penting karena membantu kebutuhan sehari-hari. Selain itu juga bisa digunakan untuk menunjang pembelajaran, termasuk kebutuhan internet dan media belajar," ujar Tino, melalui keterangan tertulis yang disampaikan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen), Rabu (1/7/2026).

Dia mengatakan, penyaluran TPG yang kini dilakukan secara langsung ke rekening guru setiap bulan turut memberikan kepastian sehingga para guru dapat lebih fokus menjalankan tugasnya.

"Sekarang penyalurannya sudah lancar setiap bulan langsung ke rekening. Guru jadi bisa lebih fokus mengajar karena kebutuhan dasar lebih terjamin," ucap Tino.

Bagi Tino, peningkatan kesejahteraan melalui TPG tidak berhenti pada aspek ekonomi semata. Sebagian dana yang diterima juga dimanfaatkan untuk mendukung proses belajar mengajar, mulai dari penyediaan bahan ajar, media pembelajaran, hingga membantu berbagai kebutuhan peserta didik di kelas.

Selanjutnya, Tino juga berharap peningkatan kesejahteraan guru melalui TPG dapat terus diiringi dengan penguatan kompetensi guru melalui berbagai pelatihan.

"Harapan saya, pelatihan untuk guru terus dilakukan supaya kemampuan kami juga terus berkembang. Dengan begitu, mutu pendidikan di daerah seperti Mola Bahari dapat semakin meningkat," tutup dia.

Sementara itu, Guru Geografi SMA Muhammadiyah 1 Wakatobi, Gita Novalista turut menceritakan bagaimana perjalanan awalnya sebagai pendidik. Saat pertama kali mengajar, honor yang diterimanya hanya sekitar Rp 150 ribu per bulan.

Setelah bertahun-tahun mengabdi, jumlah tersebut perlahan meningkat hingga Rp 500 ribu per bulan sebelum akhirnya menerima TPG pada awal 2025.

"Awal-awal saya mengajar hanya menerima honor Rp 150 ribu per bulan. Setelah beberapa tahun baru naik sedikit demi sedikit. Jadi ketika sekarang menerima TPG, tentu sangat membantu dan menjadi penyemangat bagi kami," ucap Gita.

Guru Tetap Bertahan

Tunjangan Profesi Guru (TPG) meningkatkan kesejahteraan guru. (Foto: Kemendikdasmen)

Di tengah keterbatasan itu, Waode bersama sejumlah guru lainnya tetap memilih bertahan. Honor yang diterima pun jauh dari kata layak.

"Kalau dulu memang benar-benar mengabdi. Awalnya saya hanya menerima sekitar Rp 80 ribu. Guru juga sering keluar masuk karena sulit bertahan. Kami yang menjadi tim inti harus saling menggantikan mengajar agar siswa tetap bisa belajar," kenang Waode.

Penantian panjang itu akhirnya terbayar ketika Waode mulai menerima TPG pada awal tahun 2025. Baginya, kebijakan tersebut bukan hanya meningkatkan kesejahteraan guru, tetapi juga menjadi bentuk pengakuan atas pengabdian yang telah dijalani selama bertahun-tahun.

"Alhamdulillah sangat membantu. Kami sudah lama menunggu. Rasanya memang ini menjadi hak guru yang sudah bertahun-tahun mengajar," ucap Waode.

Sementara itu, Sekretaris Direktur Jenderal Guru, Tenaga Kependidikan dan Pendidikan Guru, Temu Ismail mengatakan, Tunjangan Profesi Guru (TPG) merupakan bentuk penghargaan pemerintah atas profesionalisme guru baik ASN maupun non-ASN dalam menjalankan tugasnya.

"Tunjangan Profesi Guru merupakan bentuk penghargaan pemerintah atas profesionalisme guru dalam menjalankan tugasnya sebagai pendidik. Kami juga menaruh harapan besar kepada para guru di seluruh Indonesia, termasuk di daerah terpencil dan pelosok negeri, untuk terus mengabdi dan menjadi motor pembangunan sumber daya manusia Indonesia melalui pendidikan," jelas Temu.

Untuk diketahui, sampai dengan bulan Juni 2026, sudah tersalurkan TPG di Provinsi Sulawesi Tenggara sebanyak 2.796 Guru (Rp 33,6 miliar) dan di Kabupaten Wakatobi sebanyak 821 Guru (Rp 9,8 miliar).

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya