Liputan6.com, Jakarta - Kelurahan Manggarai mengungkap asal-usul lubang proyek Lapangan Multifungsi Taman RW 04 di Jalan Manggarai Utara II, Kelurahan Manggarai, Kecamatan Tebet, Jakarta Selatan (Jaksel) yang menjadi lokasi tewasnya balita berinisial I alias O (4).
Lubang tersebut dipastikan bukan lubang lama, melainkan bagian dari pekerjaan pembangunan lapangan multifungsi yang dibiayai melalui program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR).
Advertisement
Menurut Lurah Manggarai M Arafat Dinsirat, proyek tersebut dibangun sebagai fasilitas olahraga bagi warga, termasuk lapangan futsal. Proyek juga diklaim menjadi upaya Kelurahan menyediakan ruang aktivitas positif bagi anak-anak dan remaja di Manggarai agar tak terlibat tawuran.
"Iya betul, itu proyek CSR yang memang nantinya pembuatan lapangan multifungsi. Salah satunya adalah ada lapangan futsal di situ, untuk mengakomodir anak-anak Manggarai supaya ada kegiatan olahraga. Hal ini ditujukan untuk salah satunya meredam atau mencegah tawuran di Kelurahan Manggarai," ujar Arafat kepada Liputan6.com, Selasa (30/6/2026).
Menurut dia, pekerjaan fisik proyek baru dimulai pada 25 Juni 2026 atau dua hari sebelum insiden yang merenggut nyawa balita tersebut terjadi.
"Kalau kemarin mulai loading itu tanggal 25 Juni," ucap Arafat.
Lubang Bagian dari Konstruksi Proyek
Arafat mengatakan, lubang tempat korban balita terperosok merupakan bagian dari konstruksi proyek. Berdasarkan penjelasan kontraktor yang diterimanya usai kejadian, lubang itu disiapkan sebagai fondasi tiang penyangga bangunan pelindung lapangan.
"(Lubang) bagian dari proyek, bagian dari proyek. Jadi memang sesuai keterangan kontraktor kemarin pada saat setelah kejadian saya sempat ketemu, itu memang mau dibuat apa ya istilahnya, kayak tiangnya lah gitu, tiangnya lapangan itu karena nanti lapangannya kan ada di dalam apa ya, kayak semacam hangar lah gitu. Tiang-tiang untuk nanti hangar gitu," kata dia.
Arafat juga menegaskan, area proyek sebelumnya merupakan taman yang asetnya milik Dinas Pertamanan dan Hutan Kota (Distamhut) DKI Jakarta. Aset itu kemudian dipersiapkan menjadi lapangan multifungsi berukuran sekitar 25 meter x 10 hingga 12 meter.
"Soalnya memang diperuntukkan untuk semacam kayak mini futsal gitu ya, enggak untuk yang futsal dewasa. Kurang lebih seingat saya 25 meter dikali 10 apa 12 gitu. Itu sebelumnya taman, aset Distamhut," ucap dia.
Pembangunan Digarap CSR
Lebih lanjut mengenai sistem pelaksanaan proyek, Arafat menjelaskan pembangunan dilakukan sepenuhnya digarap melalui CSR. Kelurahan hanya mengusulkan kebutuhan pembangunan, sedangkan perusahaan penyedia CSR menunjuk sendiri kontraktor pelaksana.
"Kalau CSR itu kan apa ya dibilang ditunjuk juga enggak, terus kita coba cari, ternyata ada CSR yang mau membantu membangun itu. Kemudian mereka mencari kontraktor sendiri. Jadi kami tidak ikut campur soal penentuan vendor dan lain-lain. Pemprov DKI tidak ikut campur," kata Arafat.
Dia menambahkan perusahaan tersebut sebelumnya juga pernah menyalurkan program CSR lainnya di wilayah Manggarai, sehingga dalam hal ini pihak Kelurahan hanya menawarkan pembangunan lapangan multifungsi untuk warga.
Menanggapi kondisi pagar proyek yang kini terbuka, Arafat menegaskan saat pekerjaan dimulai kontraktor terlebih dahulu telah melakukan sterilisasi area dengan memasang pagar seng mengelilingi lokasi sebelum penggalian dilakukan.
"Yang jelas pada saat mereka mau bekerja, mereka sudah melakukan sterilisasi proyek dengan membuat pagar, seng keliling. Jadi memang area itu sudah disteril untuk pekerja proyek saja," terang dia.
Proyek Ditargetkan Kelar Agustus 2026
Menurut Arafat, pagar seng yang kini tampak terbuka merupakan akibat dibongkar warga saat berupaya menolong balita yang terjatuh pada malam kejadian. Hingga kini pagar belum dapat dipasang kembali karena lokasi masih dipasangi garis polisi untuk kepentingan penyelidikan.
Arafat menyebut proyek semula ditargetkan rampung pada Agustus 2026. Namun, pekerjaan kini dihentikan sementara oleh kepolisian imbas kejadian.
"Target rampungnya Agustus 2026. Yang jelas mereka sanggup kurang lebih tiga bulan, Juni sampai Agustus," ujar Arafat.
Dia juga mengungkapkan sebelum proyek dimulai pihaknya juga telah mengeluarkan surat imbauan kepada warga agar tidak mendekati area proyek. Jika pembangunan kembali dilanjutkan, maka Kelurahan akan memanggil kontraktor untuk memperkuat komitmen pengamanan lokasi.
"Nanti jika akan dilanjutkan kembali saya akan panggil kontraktornya juga untuk kita sama-sama memastikan bahwa jika diteruskan pastikan ada komitmen yang kuat, ya bukan berarti kemarin tidak ada komitmen, tapi komitmennya akan lebih kuat lagi untuk jangan sampai warga bisa masuk ke daerah steril yang proyek itu," tandas Arafat.