Liputan6.com, Jakarta - Jerman harus mengakhiri perjalanan mereka di Piala Dunia 2026 lebih cepat dari yang diharapkan. Die Mannschaft kalah dari Paraguay lewat adu penalti dalam laga babak 32 besar yang berlangsung dramatis di Boston.
Kekalahan ini menjadi pukulan besar bagi Jerman yang kembali tampil di fase gugur Piala Dunia setelah terakhir kali menjadi juara pada 2014. Hasil tersebut juga mengakhiri rekor sempurna mereka dalam adu penalti di ajang Piala Dunia.
Advertisement
Mantan pemain tim nasional Jerman, Thomas Hitzlsperger, menilai ada persoalan mendasar yang belum mampu diselesaikan tim asuhan Julian Nagelsmann. Menurutnya, kualitas individu pemain masih baik, tetapi pendekatan permainan mereka kehilangan unsur penting.
Hitzlsperger Kritik Mentalitas Tim Jerman
Hitzlsperger menilai Jerman terlalu fokus pada kemampuan menguasai dan mengalirkan bola. Ia merasa tim sudah tidak memiliki daya juang yang selama ini menjadi identitas kuat sepak bola Jerman.
"Secara individu, ada pemain-pemain bagus. Namun, pada dasarnya, ada sesuatu yang hilang, yaitu cara mereka menyikapi pertandingan," kata Hitzlsperger kepada BBC.
Ia membandingkan situasi tersebut dengan Argentina yang dinilainya selalu menampilkan semangat bertanding tinggi. Menurutnya, tim yang sulit dikalahkan tidak hanya membutuhkan kualitas teknik, tetapi juga ketangguhan mental.
"Kami terus mengajarkan pemain untuk mengoper bola dengan sangat baik, dan itu bekerja luar biasa pada 2014. Setelah itu, kami terus memainkan umpan-umpan bagus, tetapi kami lupa berjuang sangat keras saat tidak menguasai bola," ujarnya.
Jerman Tidak Punya Rencana Cadangan
Selain persoalan mentalitas, Hitzlsperger juga mempertanyakan fleksibilitas taktik Jerman. Ia menilai Nagelsmann gagal menghadirkan solusi ketika strategi utama tidak berjalan efektif.
Menurutnya, Jerman terlalu bergantung pada satu gaya bermain sepanjang pertandingan. Ketika lawan mampu meredam pola tersebut, tim kesulitan menemukan alternatif lain.
"Kami fokus pada umpan, umpan, dan umpan. Itu memang terlihat bagus pada beberapa momen, tetapi jika cara itu tidak berhasil, Anda harus memiliki rencana B, dan kami tampaknya tidak cukup baik menjalankan rencana B atau C," katanya.
Hitzlsperger juga tidak sepakat jika filosofi permainan itu sepenuhnya dikaitkan dengan pengaruh Pep Guardiola. Ia menilai banyak pelatih Jerman mengagumi Guardiola, tapi tidak semua mampu menerapkan pendekatan yang sama secara sempurna.
Rekor Buruk Jerman Berlanjut
Sejak menjuarai Piala Dunia 2014, Jerman belum pernah memenangi satu pun pertandingan fase gugur di turnamen besar. Pencapaian terbaik mereka dalam periode tersebut hanyalah mencapai semifinal Euro 2016.
Laga melawan Paraguay sebenarnya berlangsung ketat hingga babak tambahan waktu. Jerman bahkan sempat merasa dirugikan setelah gol sundulan Jonathan Tah dianulir usai tinjauan VAR.
Pertandingan akhirnya ditentukan lewat adu penalti dan Paraguay keluar sebagai pemenang dengan skor 4-3. Tim asal Amerika Selatan itu melanjutkan kisah mengejutkan mereka setelah lolos dari fase grup sebagai salah satu peringkat ketiga terbaik.
Paraguay selanjutnya akan menghadapi pemenang pertandingan antara Prancis dan Swedia pada babak 16 besar. Sementara itu, Jerman kembali dihadapkan pada evaluasi besar untuk mengakhiri tren negatif yang terus berlanjut sejak satu dekade terakhir.
Sumber: The Independent