Tangis Mahout Melepas Gajah Indro Sang Juru Damai di TN Tesso Nilo

Fikri, mahout Gajah Indro selama 25 tahun di TN Tesso Nilo.

oleh Dinny MutiahDiterbitkan 30 Juni 2026, 12:00 WIB
Fikri, mahout Gajah Indro yang mati di TN Tesso Nilo. (dok. Tangkapan layar Instagram @btn_tessonilo/https://www.instagram.com/p/DaMUcV2ybfb/Dinny Mutiah)

Liputan6.com, Jakarta - Kepergian Gajah Indro, penghuni Camp Flying Squad di Taman Nasional (TN) Tesso Nilo, meninggalkan duka mendalam bagi Fikri. Sang mahout sudah begitu akrab dengan gajah yang mati di usia 45 tahun itu.

"Sudah 25 tahun," sahutnya dengan suara bergetar, menahan tangis, ketika ditanya berapa lama ia menjaga Indro.

Mata Fikri nanar, memerah. Jelas ia memendam kesedihan akan kepergian gajah jinak yang dianggapnya sahabat. Kepergian Gajah Indro juga membuat Tim Flying Squad kini hanya tersisa lima ekor.

"Indro bukan hanya gajah binaan. Ia adalah teman seperjalanan, saksi perjuangan, dan sudah menjadi bagian dari keluarga. Meski tubuh Indro begitu besar dan Bang Fikri tampak kecil di sisinya, hubungan mereka selalu dipenuhi rasa saling menghormati, saling percaya, dan kasih sayang yang tulus," tulis keterangan yang menyertai unggahan video di akun Instagram @btn_tessonilo, Selasa (30/6/2026).

Dalam video yang diunggah, Fikri terlihat menciumi belalai Gajah Indro yang tergeletak di tanah setelah kematiannya pada Senin dinihari, 29 Juni 2026. Kepalanya menunduk, menyimpan pilu atas kepergian satwa yang bisa dibilang sang juru damai.

 

"Melihat tangis Bang Fikri, rasanya siapa pun bisa merasakan betapa berat kehilangan itu. Sebab tidak mudah melepas sosok yang selama 25 tahun selalu ada dalam setiap langkah kehidupan," tulis unggahan itu lagi.

"Yang kuat, Bang Fikri. Kesedihan ini pasti tidak mudah dilalui, tetapi semoga kenangan indah bersama Indro menjadi kekuatan untuk terus melangkah. Semoga semangatmu tetap menyala demi menjaga kelestarian gajah-gajah di Taman Nasional Tesso Nilo," sambung pernyataan tersebut.

Gajah Flying Squad Tersisa

Gajah Indro dari Camp Flying Squad Balai Taman Nasional (BTN) Tesso Nilo. (dok. Tangkapan layar Instagram @herryheryawan/https://www.instagram.com/p/DaKEpvDtW6V/Dinny Mutiah)

Sebelumnya, Balai TN Tesso Nilo menyatakan Gajah Indro selama ini berjasa besar dalam mendukung Tim Flying Squad TN Tesso Nilo memitigasi konflik satwa dan manusia di sekitar kawasan Tesso Nilo. Maka, kepergiannya merupakan duka mendalam bagi segenap rimbawan.

"Balai Taman Nasional Tesso Nilo mengucapkan terima kasih dan apresiasi yang sebesar-besarnya atas dedikasi dan kerja keras para mahout, tim medis, Balai Besar KSDA Riau serta seluruh pihak yang telah berupaya maksimal dalam merawat gajah Indro selama masa kritisnya," kata pihak balai.

"Peristiwa ini akan menjadi bahan evaluasi berkala demi terus memperkuat komitmen perlindungan, perawatan, dan pelestarian Gajah Sumatera di masa mendatang," sambungnya. Dengan kematian Indro, Tim Flying Squad yang tersisa adalah Tesso, Domang, Ria, Lisa, dan Nona Seroja yang baru saja lahir. 

Pihak BTN Tesso Nilo menguraikan kronologi kematian gajah yang ekornya diamputasi pada 2018 itu. Dimulai dari awal fase musth pada 25 April--6 Mei 2026. Saat itu, perilakunya berubah menjadi lebih agresif sejak 1 Mei 2026 yang ditandai dengan keluarnya cairan/sperma pada alat kelamin. 

Kronologi Kematian Gajah Indro

Gajah Indro, salah satu penghuni Camp Flying Squad TN Tesso Nilo. (dok. Tangkapan layar Instagram @btn_tessonilo/https://www.instagram.com/p/DaJ5jTiE_tP/?img_index=1/Dinny Mutiah)

Pada 6 Mei 2026, cairan sekresi dari lubang musth di area pelipis kepala mulai keluar dan tampak basah. Pada 3--5 Juni 2026, perilakunya semakin agresif. Di lokasi ikatan pengamanan, gajah Indro sudah tidak dapat didekati, tidak merespons perintah dari mahout (pawang), serta mulai menunjukkan perilaku yang membahayakan keselamatan petugas.

"Untuk menjaga kondisi fisiknya, Tim Flying Squad menyuplai pakan berupa batang pisang, pelepah kelapa, dan rumput gajahan, serta memastikan ketersediaan air minum berkala setiap pagi dan sore dari jarak aman. Pada 5 Juni 2026, tim juga mulai memandikan Indro menggunakan mesin pompa air untuk menjaga kebersihan dan stabilitas suhu tubuhnya," demikian penjelasan pihak balai.

Mengingat fase musth yang berkepanjangan, Tim Medis BTNTN berkolaborasi dengan Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Riau membius (sedasi) untuk memasang rantai tambahan sebagai upaya pengamanan pada 24 Juni 2026. Pasca-prosedur, Tim Medis memberikan anti-dot (penawar bius) hingga gajah Indro sadar penuh kembali dalam posisi berdiri tegak yang stabil.

Sempat Aktif Lagi

Gajah Indro. (dok. Tangkapan layar Instagram @areioutdoorgear/https://www.instagram.com/p/DaKYGexJubs//Dinny Mutiah)

Namun pada 25--26 Juni 2026, siang hari pasca-pembiusan, nafsu makan dan minum gajah Indro terpantau menurun drastis. Mahout dan Tim Medis BTNTN langsung melakukan pemantauan intensif selama 24 jam penuh serta berkoordinasi secara ketat dengan dokter hewan ahli untuk penanganan lanjutan.

Pada 27 Juni 2026, tim medis menyuntikkan 100 ml Biodin (suplemen energi), mengevakuasi kotoran (feses) secara manual, memeriksa suhu tubuh, serta memberikan infus suportif sebanyak lima botol pada sore hari (15.30 WIB) dan lima botol lagi pada malam hari (23.00 WIB) karena belum ada perkembangan signifikan.

Pada 28 Juni 2026, kondisi Indro sempat memberikan harapan positif setelah ia mulai mau meminum air dan mencoba menjamah pakan. Untuk mempercepat pemulihan fisik akibat penurunan nafsu makan, tim medis menginfusnya dengan 60 botol dari pukul 10.30 WIB hingga 19.00 WIB.

"Pada sore hari pukul 16.15 WIB, Indro dimandikan, mau minum, dan suhu tubuhnya terperiksa normal (38,8°C). Menjelang tengah malam pukul 00.16 WIB, Indro terpantau masih aktif bergerak dan menunjukkan ketertarikan pada makanan," kata pihak BTN Tesso Nilo.

Gajah Indro Sudah Dikuburkan

Ilustrasi belalai gajah yang berwarna merah muda. (Pixabay/Michael Mosimann)

Tapi, kondisi Gajah Indro berubah mendadak pada dini hari. Pukul 03.30 WIB, gajah Indro ditemukan dalam posisi terbaring. Dokter hewan beserta seluruh tim mahout segera memeriksa  fungsi pernapasan serta melakukan tindakan resusitasi jantung paru (CPR) selama beberapa menit. Namun, gajah Indro tidak memberikan respons dan secara resmi dinyatakan mati pada pukul 03.45 WIB.

Sebagai bentuk akuntabilitas publik dan ilmiah, Balai Taman Nasional Tesso Nilo langsung melakukan tindakan bedah bangkai (nekropsi) pasca-kematian. Tim medis telah mengambil sampel dari organ-organ vital gajah Indro untuk dikirim ke laboratorium terakreditasi guna dilakukan uji patologi.

Hasil dari uji laboratorium tersebut akan menjadi dasar ilmiah utama untuk memastikan penyebab klinis pasti kematian gajah Indro. Setelah proses nekropsi selesai, bangkai gajah Indro langsung dikuburkan di sekitar lokasi camp secara aman dan terkontrol.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya