Menyalakan Kembali Api Sarekat: Relevansi SEMMI dalam Membangun Indonesia Berdikari dan Berdaulat

Mahasiswa tidak cukup hanya menjadi penyampai kritik. Mereka harus menjadi produsen gagasan.

oleh Liputan6.comDiterbitkan 29 Juni 2026, 18:00 WIB
Bendahara Umum Pengurus Besar Serikat Mahasiswa Muslimin Indonesia (PB SEMMI), Achmad Donny (Istimewa)

Liputan6.com, Jakarta - "Setinggi-tinggi ilmu pengetahuan, semurni-murni tauhid, sepintar-pintar siasat." Kalimat yang diwariskan H.O.S. Tjokroaminoto itu bukan sekadar petuah moral, melainkan fondasi bagi lahirnya kepemimpinan yang berakar pada ilmu, iman, dan keberanian.

Dari rahim pemikiran itulah tumbuh salah satu mata rantai penting gerakan kebangsaan Indonesia, yakni Serikat Mahasiswa Muslimin Indonesia (SEMMI).

Di tengah derasnya arus globalisasi, revolusi digital, dan kompetisi geopolitik yang semakin kompleks, pertanyaan mengenai relevansi organisasi kemahasiswaan sering kali mengemuka. Sebagian menganggap organisasi mahasiswa telah kehilangan pengaruhnya. Aktivisme dinilai kalah oleh media sosial, ruang diskusi tergeser oleh algoritma, dan idealisme dikalahkan oleh pragmatisme politik.

Namun, sejarah Indonesia justru menunjukkan sebaliknya. Setiap perubahan besar bangsa ini selalu diawali oleh lahirnya generasi muda yang memiliki kesadaran kolektif, keberanian moral, dan organisasi yang menjadi wadah perjuangan. Dalam konteks itu, sejarah SEMMI tidak layak dipandang sebagai catatan internal sebuah organisasi.

SEMMI merupakan bagian dari perjalanan panjang Sarekat Islam, organisasi modern pertama yang membangunkan kesadaran politik, ekonomi, dan sosial masyarakat bumiputra. Memahami SEMMI berarti memahami kesinambungan sebuah gagasan besar tentang bagaimana umat Islam, kaum intelektual, dan generasi muda mengambil bagian dalam membangun Indonesia yang merdeka, berkeadilan, dan berdaulat.

Dari Sarekat Dagang Islam Menuju Kebangkitan Bangsa

Sejarah SEMMI berakar pada Sarekat Dagang Islam (SDI) yang didirikan Haji Samanhoedi pada 16 Oktober 1905 di Surakarta. Pada masa itu, rakyat bumiputra berada dalam tekanan ekonomi kolonial dan menghadapi dominasi perdagangan yang tidak memberi ruang bagi pengusaha pribumi. SDI lahir sebagai wadah solidaritas ekonomi, tetapi dalam waktu yang relatif singkat berkembang menjadi gerakan sosial-politik yang jauh lebih besar.

Transformasi tersebut terjadi ketika H.O.S. Tjokroaminoto memimpin organisasi yang kemudian dikenal sebagai Sarekat Islam. Di bawah kepemimpinannya, Sarekat Islam tidak hanya memperjuangkan kepentingan ekonomi rakyat, tetapi juga membangun kesadaran politik, pendidikan, dan harga diri bangsa. Tjokroaminoto memandang bahwa kemerdekaan sejati tidak cukup dicapai melalui pembebasan politik, melainkan harus disertai kemandirian ekonomi dan pembentukan karakter bangsa yang berakhlak.

Gagasan tersebut menjadikan Sarekat Islam sebagai salah satu sekolah politik terbesar dalam sejarah Indonesia. Dari rumah sederhana Tjokroaminoto di Surabaya lahir tokoh-tokoh yang kelak mewarnai perjalanan republik, mulai dari Soekarno, Musso, Alimin, hingga Kartosoewirjo.

Meskipun mereka menempuh jalan politik yang berbeda, semuanya pernah ditempa dalam tradisi berpikir yang menempatkan ilmu, keberanian, dan keberpihakan kepada rakyat sebagai dasar kepemimpinan. Warisan intelektual inilah yang kemudian melahirkan kebutuhan akan kaderisasi generasi muda di lingkungan perguruan tinggi.

Lahirnya SEMMI Sebagai Lumbung Kader Intelektual

Kesadaran akan pentingnya regenerasi melahirkan keputusan bersejarah dalam Kongres Nasional Partai Syarikat Islam Indonesia (PSII) ke-XXIX di Solo pada 3–10 April 1955. Dalam forum tersebut muncul gagasan mendirikan organisasi mahasiswa sebagai wadah pembinaan kader intelektual Muslim yang mampu melanjutkan cita-cita Sarekat Islam dalam kehidupan kebangsaan.

Gagasan itu diwujudkan pada Senin, 2 April 1956 atau bertepatan dengan 20 Sya'ban 1375 Hijriah, ketika Serikat Mahasiswa Muslimin Indonesia resmi dideklarasikan di Jakarta. Peresmian dilakukan oleh H. Arudji Kartawinata selaku Presiden Lajnah Tanfidziyah PSII bersama H. Anwar Tjokroaminoto dari Dewan Partai.

Pemilihan nama "Sarekat" dengan ejaan lama bukanlah kebetulan. Pilihan itu merupakan penegasan historis bahwa SEMMI adalah mata rantai perjuangan Sarekat Islam.

Sejak awal berdirinya, SEMMI dirancang bukan sebagai organisasi mahasiswa yang semata-mata bergerak dalam aktivitas kampus, melainkan sebagai laboratorium kepemimpinan yang memadukan keislaman, intelektualitas, nasionalisme, dan pengabdian kepada masyarakat.

Tonggak penting berikutnya terjadi pada Kongres Nasional I di Bandung pada 11 Oktober 1964. Dalam kongres tersebut disahkan Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga organisasi serta dipilih Djadja Saefullah sebagai Ketua Umum pertama. Konsolidasi itu mempertegas arah SEMMI sebagai organisasi kader yang berorientasi pada pembentukan pemimpin masa depan.

Mahasiswa dalam Pusaran Sejarah Bangsa

Sejarah kemudian membawa SEMMI memasuki salah satu fase paling menentukan dalam perjalanan Indonesia. Krisis politik, ekonomi, dan keamanan pada pertengahan 1960-an mendorong lahirnya berbagai gerakan mahasiswa. Bersama organisasi-organisasi lain yang tergabung dalam Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia (KAMI), kader-kader SEMMI turut mengambil bagian dalam dinamika gerakan yang mengusung Tritura.

Keterlibatan tersebut menunjukkan bahwa sejak awal SEMMI tidak memisahkan kehidupan kampus dari persoalan bangsa. Mahasiswa dipandang memiliki tanggung jawab moral untuk mengawal arah perjalanan negara, menyampaikan kritik, sekaligus menjaga cita-cita kemerdekaan.

Setelah situasi politik berubah, SEMMI menyelenggarakan Kongres Nasional II di Makassar pada 3–10 Desember 1966 sebagai upaya memperkuat organisasi dalam menghadapi konfigurasi politik baru.

Pada masa Orde Baru, ruang gerak organisasi mahasiswa mengalami pembatasan. Kebijakan asas tunggal Pancasila dan kontrol negara terhadap kehidupan kampus membuat banyak organisasi mahasiswa lebih memusatkan perhatian pada kaderisasi, pengkajian intelektual, pendidikan politik, dan pengabdian kepada masyarakat. SEMMI tetap mempertahankan eksistensinya melalui pembinaan kader serta menjaga kesinambungan nilai-nilai perjuangan tanpa kehilangan akar ideologisnya.

Memasuki era Reformasi, ruang demokrasi yang semakin terbuka memungkinkan SEMMI berkembang di berbagai daerah melalui pembentukan Pengurus Wilayah, Pengurus Cabang, dan komisariat kampus. Kaderisasi kembali menjadi fokus utama, diiringi aktivitas advokasi sosial, pendidikan politik, pemberdayaan masyarakat, dan penguatan jejaring kebangsaan.

Relevansi SEMMI di Tengah Tantangan Indonesia Kontemporer

Indonesia abad ke-21 menghadapi tantangan yang berbeda dengan generasi pendiri bangsa. Kolonialisme fisik telah berakhir, tetapi ketergantungan ekonomi, persaingan teknologi, dominasi modal global, disinformasi digital, dan menurunnya kualitas etika politik menjadi tantangan baru yang tidak kalah serius. Di sinilah nilai-nilai yang diwariskan Sarekat Islam menemukan relevansinya.

Konsep berdikari bukan lagi sekadar slogan historis, melainkan agenda pembangunan nasional. Kemandirian ekonomi berarti kemampuan bangsa menguasai sumber daya strategis, memperkuat industri nasional, membangun inovasi teknologi, mengembangkan usaha mikro, kecil, dan menengah, serta menciptakan lapangan kerja berbasis kreativitas anak bangsa. Kemandirian tersebut sejalan dengan amanat Pasal 33 Undang-Undang Dasar 1945 yang menempatkan perekonomian nasional sebagai usaha bersama untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.

Begitu pula dengan kedaulatan politik. Dalam era keterbukaan informasi, kedaulatan tidak hanya diukur dari kemampuan mempertahankan wilayah negara, tetapi juga dari kemampuan menjaga demokrasi dari politik uang, oligarki, manipulasi informasi, serta polarisasi yang mengancam persatuan nasional.

Sebagai organisasi kader, SEMMI memiliki tanggung jawab untuk menerjemahkan nilai-nilai tersebut ke dalam gerakan nyata. Pendidikan politik harus melahirkan warga negara yang kritis sekaligus rasional. Kaderisasi harus menghasilkan pemimpin yang berintegritas. Tradisi intelektual harus melahirkan gagasan kebijakan yang mampu menjawab persoalan bangsa. Pengabdian kepada masyarakat harus diwujudkan melalui pemberdayaan ekonomi rakyat, pendampingan sosial, serta penguatan literasi di tengah derasnya arus informasi.

Mahasiswa tidak cukup hanya menjadi penyampai kritik. Mereka harus menjadi produsen gagasan. Kritik tanpa solusi hanya akan menjadi gema yang cepat hilang, sedangkan ilmu tanpa keberpihakan akan kehilangan makna sosialnya.

Menuju Indonesia Emas 2045

Indonesia sedang bergerak menuju satu abad kemerdekaan pada tahun 2045. Bonus demografi memberikan peluang besar bagi Indonesia untuk menjadi negara maju. Namun, sejarah menunjukkan bahwa keberhasilan sebuah bangsa tidak semata-mata ditentukan oleh jumlah penduduk usia produktif, melainkan oleh kualitas kepemimpinan yang lahir dari generasi mudanya.

Di sinilah organisasi kader memiliki arti strategis. Kampus bukan hanya tempat memperoleh gelar akademik, tetapi juga ruang untuk membangun karakter, integritas, dan tanggung jawab kebangsaan. SEMMI memiliki modal historis yang kuat untuk menjalankan peran tersebut karena lahir dari tradisi panjang Sarekat Islam yang menempatkan pendidikan, moralitas, dan keberpihakan kepada rakyat sebagai satu kesatuan yang tidak terpisahkan.

Tujuh dekade setelah kelahirannya, tantangan terbesar SEMMI bukanlah mempertahankan eksistensi organisasi, melainkan menjaga relevansi perjuangannya. Organisasi ini dituntut terus melahirkan kader yang mampu membaca perubahan zaman tanpa tercerabut dari akar sejarahnya. Kemajuan teknologi harus diimbangi dengan kedalaman intelektual. Kecakapan politik harus dibangun di atas integritas moral.

Aktivisme harus melahirkan pengabdian, bukan sekadar popularitas. Warisan terbesar Sarekat Islam bukanlah bangunan organisasi, melainkan tradisi berpikir. Tradisi yang mengajarkan bahwa ilmu harus berpihak kepada keadilan, agama harus melahirkan kemanusiaan, dan politik harus diabdikan bagi kesejahteraan rakyat.

Apabila nilai-nilai itu terus dihidupkan dalam kaderisasi SEMMI, organisasi ini tidak hanya dikenang sebagai bagian dari sejarah pergerakan nasional, tetapi juga menjadi salah satu kekuatan intelektual yang turut menentukan arah Indonesia menuju negara yang berdikari secara ekonomi, berdaulat secara politik, dan bermartabat dalam pergaulan dunia.

Pada akhirnya, pertanyaan yang perlu dijawab bukanlah apakah SEMMI masih relevan. Pertanyaan yang lebih penting adalah apakah generasi muda Indonesia masih memiliki keberanian untuk mewarisi semangat yang dahulu diperjuangkan oleh Haji Samanhoedi, H.O.S. Tjokroaminoto, Arudji Kartawinata, dan para pendiri SEMMI: semangat membangun bangsa melalui ilmu, integritas, persaudaraan, serta pengabdian yang tulus kepada rakyat dan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Oleh: Achmad Donny, Bendahara Umum Pengurus Besar Serikat Mahasiswa Muslimin Indonesia (PB SEMMI) 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya