Liputan6.com, Paris - Sebuah pesawat terjun payung jatuh di Kota Tomblaine, Prancis timur, pada Minggu (28/6/2026), menewaskan seluruh 11 orang di dalamnya. Insiden ini menjadi kecelakaan penerbangan umum paling mematikan di Prancis.
Prefek Departemen Meurthe-et-Moselle, Yves Seguy, mengatakan korban terdiri dari lima instruktur, lima siswa, dan seorang pilot.
Advertisement
Ketua Dewan Keperawatan Meurthe-et-Moselle, Thierry Pechey, mengungkapkan lima siswa yang menjadi korban merupakan perawat, dikutip dari laman Channel News Asia, Senin (29/6).
"Mereka adalah rekan kerja yang memutuskan untuk melakukan terjun payung pertama mereka, tidak diragukan lagi untuk bersantai karena kami sedang melewati masa sulit akibat gelombang panas," ujarnya.
Wali Kota Nancy, Mathieu Klein, mengatakan para korban meninggal di hadapan keluarga mereka yang sedang bersiap merekam terjun payung tandem tersebut.
Pihak berwenang setempat menyatakan tim medis dan psikologis telah dikerahkan untuk mendampingi keluarga korban serta para saksi yang berada di lokasi kejadian.
Badan Keselamatan Penerbangan Prancis (BEA) menyebut insiden tersebut merupakan kecelakaan penerbangan umum paling serius dari sisi jumlah korban jiwa, di luar penerbangan militer dan komersial.
Menteri Transportasi Prancis Philippe Tabarot mengatakan belum pernah terjadi kecelakaan penerbangan terjun payung dengan jumlah korban sebesar ini dalam sekitar 30 tahun terakhir.
Tabarot bersama Menteri Dalam Negeri Laurent Nunez turut mengunjungi lokasi kecelakaan.
Tragedi Tak Biasa
Pesawat jenis Pilatus yang terdaftar di Jerman itu jatuh di area berumput dekat landasan pacu Bandara Nancy-Essey, tidak jauh dari kawasan permukiman dan dua ruas jalan.
"Ini memang tragedi, tetapi bisa saja lebih buruk," kata Klein seraya menyebut pesawat jatuh hanya beberapa meter dari rumah warga.
Sementara itu, Wali Kota Tomblaine Herve Feron mengatakan pesawat jatuh saat sedang melakukan pendakian.
"Pesawat jatuh dengan cara yang sama sekali tidak dapat dijelaskan saat melakukan pendakian," ujarnya.
Menurut Feron, pesawat tersebut disewa untuk kegiatan akhir pekan terjun payung yang rutin digelar.
Hingga kini penyebab kecelakaan belum diketahui. Wakil Jaksa Penuntut Umum Nancy, Amaury Lacote, mengatakan penyelidikan teknis telah dibuka untuk mengungkap penyebab insiden tersebut.
Polisi juga mengimbau masyarakat menghindari area sekitar Bandara Nancy-Essey agar akses bagi tim penyelamat tidak terganggu.