Hasil survei perusahaan konsultasi tenaga kerja dan perekrutan terbesar kedua di dunia, Ranstad menunjukkan, mayoritas tenaga kerja Malaysia meragukan pengaruh sistem pendidikan terhadap keahlian bekerja seseorang.
Dibandingkan negara lainnya yang rata-rata menunjukkan persentase di atas 40%, tingkat keyakinan pekerja Malaysia terhadap sistem pendidikannya hanya 22%.
Seperti dikutip dari laporan resminya bertajuk 2013/14 Randstad World of Work Report, Kamis (23/1/2014), di Asia, tingkat keyakinan para profesional di Malaysia terhadap pengaruh pendidikan pada karir seseorang terhitung yang paling rendah.
Sebaliknya, penyandang negara berkembang lainnya, India sangat yakin keahlian bekerja seseorang sangat dipengaruhi tingkat pendidikan formal yang mereka miliki.
Survei tersebut melibatkan lebih dari 14 ribu pegawai profesional berusia 18-65 di seluruh penjuru Asia Pasifik. Hasilnya pegawai Malaysia tercatat sebagai yang paling meragukan peran sistem pendidikan pada kompetensi seseorang di tempat kerja.
Padahal, seperti tertulis di dalam laporan Ranstad, laju pertumbuhan ekonomi dan teknologi yang tinggi menuntut lebih banyak lulusan perguruan tinggi untuk memenuhi sejumlah lowongan pekerjaan yang tersedia.
Walaupun memang terdapat sedikit kesenjangan antara kemampuan yang diperlukan para pemilik perusahaan dengan keahlian yang dipunyai para tenaga kerja baru.
Selain itu, Randstad juga menemukan, masih adanya peluang kerja dan sistem pemberian gaji yang tidak kompetitif di sejumlah negara.
Kondisi tersebut membuat rendahnya tingkat penerimaan tenaga kerja di tengah luasnya lowongan pekerjaan yang tersedia.
Dari laporan tersebut juga dapat dilihat bahwa para pegawai di Singapura mengaku tidak merasa puas dengan pekerjaannya. Sementara para tenaga kerja di India dan Australia menjadi tempat para tenaga kerja paling bahagia di Asia bermukim. (Sis/Nrm)
Dibandingkan negara lainnya yang rata-rata menunjukkan persentase di atas 40%, tingkat keyakinan pekerja Malaysia terhadap sistem pendidikannya hanya 22%.
Seperti dikutip dari laporan resminya bertajuk 2013/14 Randstad World of Work Report, Kamis (23/1/2014), di Asia, tingkat keyakinan para profesional di Malaysia terhadap pengaruh pendidikan pada karir seseorang terhitung yang paling rendah.
Sebaliknya, penyandang negara berkembang lainnya, India sangat yakin keahlian bekerja seseorang sangat dipengaruhi tingkat pendidikan formal yang mereka miliki.
Survei tersebut melibatkan lebih dari 14 ribu pegawai profesional berusia 18-65 di seluruh penjuru Asia Pasifik. Hasilnya pegawai Malaysia tercatat sebagai yang paling meragukan peran sistem pendidikan pada kompetensi seseorang di tempat kerja.
Padahal, seperti tertulis di dalam laporan Ranstad, laju pertumbuhan ekonomi dan teknologi yang tinggi menuntut lebih banyak lulusan perguruan tinggi untuk memenuhi sejumlah lowongan pekerjaan yang tersedia.
Walaupun memang terdapat sedikit kesenjangan antara kemampuan yang diperlukan para pemilik perusahaan dengan keahlian yang dipunyai para tenaga kerja baru.
Selain itu, Randstad juga menemukan, masih adanya peluang kerja dan sistem pemberian gaji yang tidak kompetitif di sejumlah negara.
Kondisi tersebut membuat rendahnya tingkat penerimaan tenaga kerja di tengah luasnya lowongan pekerjaan yang tersedia.
Dari laporan tersebut juga dapat dilihat bahwa para pegawai di Singapura mengaku tidak merasa puas dengan pekerjaannya. Sementara para tenaga kerja di India dan Australia menjadi tempat para tenaga kerja paling bahagia di Asia bermukim. (Sis/Nrm)