Liputan6.com, Jakarta - Miliarder Jeremy Grantham kembali mengkritik bitcoin (BTC). Ia memprediksi kripto kapitalisasi pasar terbesar ini akan secara bertahap kehilangan relevansi selama beberapa dekade.
Salah satu pendiri perusahaan investasi GMO ini mengatakan, bitcoin adalah aset spekulatif dan tidak berguna, tanpa nilai intrinsik. Grantham juga menilai, bitcoin belum berkinerja baik selama pasar bullish dan mempertanyakan kegunaan praktisnya.
Advertisement
"Selama bertahun-tahun, puluhan tahun, nilainya akan menyusut. Saya kira, bukan dengan “ledakan”, tetapi dengan rintihan,” ujar dia kepada CNBC, ditulis Minggu, (28/6/2026).
"Ini bukan bentuk nilai yang stabil, nilainya baru saja turun setengahnya, tanpa alasan khusus di tengah ekonomi yang kuat, jadi Anda tidka dapat bergantung padanya dengan cara itu,” ia menambahkan.
Komentator pasar yang terkenal dengan prediksi gelembung aset ini menambahkan, emas masih memberikan keuntungan yang solid selama periode yang sama. Bahkan, setelah mengalami penurunan dari puncaknya.
Grantham menilai, bitcoin tidak hanya belum terbukti sebagai aset untuk spekulasi, tetapi juga tidak memberikan utilitas nyata di dunia nyata.
“Orang-orang tidak menggunakannya untuk melakukan perdagangan serius, mereka tidak menggunakannya untuk membeli makan malam dan membayar di supermarket. Yang dilakukan adalah memungkinkan penjahat untuk memindahkan uang,” ujar dia.
Bitcoin telah menjadi terkenal selama bertahun-tahun karena penurunan pasar bearish yang dramatis, yang telah menurunkannya setidaknya 70% dari puncaknya di setiap siklus. Saat ini, harganya sekitar 52% di bawah puncaknya pada Oktober, berada di bawah US$ 60.000 atau Rp 1,07 miliar (asumsi kurs dolar AS terhadap rupiah di kisaran 17.840). Banyak investor percaya penurunan harga saat ini dapat berlanjut selama beberapa bulan lagi.
Disclaimer: Setiap keputusan investasi ada di tangan pembaca. Pelajari dan analisis sebelum membeli dan menjual Kripto. Liputan6.com tidak bertanggung jawab atas keuntungan dan kerugian yang timbul dari keputusan investasi.
Miliarder Ini Khawatir Masa Depan Bitcoin
Sebelumnya, miliarder Phillipe Laffont menimbulkan keraguan mengenai peran jangka panjang dan prediksi harga bitcoin (BTC). Ia mengatakan, sedikit lebih khawatir.
Mengutip Yahoo Finance, ditulis Jumat, (26/6/2026), komentar itu telah memicu reaksi yang terbagi antara pelaku pasar terutama traders di media sosial. Hal ini terjadi di tengah analis terus memperdebatkan apakah penurunan BTC saat ini akan berlanjut.
Selama wawancara dengan CNBC, Laffont menuturkan, semakin tidak yakin tentang masa depan bitcoin karena peluang investasi alternatif muncul.
“Saya tidak tahu lagi harus berpikir apa tentang bitcoin,” kata Laffont yang diperkirakan memiliki kekayaan US$ 7,9 miliar versi Forbes.
Ia menilai, bitcoin sebelumnya diuntungkan karena kurangnya peluang spekulatif alternatif yang tersedia bagi investor.
"Di satu sisi kita memiliki IPO besar, dan di sisi lain kita memiliki stablecoin," ujar dia.
Laffont menunjuk, perusahaan seperti SpaceX dan bisnis kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) yang sedang berkembang. Ia menilai hal itu sebagai contoh investasi lebih mudah dievaluasi dalam jangka panjang daripada Bitcoin.
"Saya sedikit lebih khawatir, dan saya lebih suka bertaruh pada SpaceX yang akan berlipat ganda dalam 20 tahun ke depan, atau model-model kecerdasan buatan ini," ujar dia.
Mengapa Ia Khawatir tentang Bitcoin?
Kekhawatiran Laffont fokus pada tujuan yang dirasakan dalam lanskap investasi.
Menurut investor tersebut, Bitcoin mungkin awalnya mengisi ceruk unik dengan menawarkan alternatif bagi pasar keuangan tradisional.
Memicu Reaksi Pelaku Pasar
Namun, ia berpendapat munculnya stablecoin dan opsi lainnya telah mengurangi eksklusivitas Bitcoin.
"Ketika saya berbicara dengan orang-orang tentang Bitcoin, itu sedikit seperti sekte, Anda ikut atau tidak," ujar dia.
Pernyataan Laffont memicu reaksi keras dari para traders dan investor kripto di X. Pelaku pasar banyak yang menolak anggapan bahwa relevansi Bitcoin semakin memudar.
"Lucu, tahun lalu dia tidak sabar menunggu harganya turun dan sekarang dia tidak ingin memilikinya saat sedang diskon,” ujar salah satu pelaku pasar.
Namun, yang lain mengatakan kekhawatiran Laffont mencerminkan pertanyaan yang diam-diam diajukan oleh banyak investor.
"Persis seperti pendapat saya. Wall Street telah merampas jiwa dari BTC, dan sekarang bahkan para miliarder pun mulai bosan dan beralih ke Luar Angkasa/AI," tulis pengguna lain.