Liputan6.com, Jakarta - PT PP Presisi Tbk (PPRE) dalam Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) Independen menyepakati pelepasan seluruh kepemilikan saham (divestasi) pada PT Lancarjaya Mandiri Abadi (PT LMA) kepada PT Lancarjaya Investama Abadi dengan nilai transaksi mencapai Rp 1,6 triliun.
Langkah strategis itu bagian dari upaya perseroan untuk memperkuat struktur keuangan melalui pemenuhan kewajiban kepada kreditur, menurunkan beban bunga, meningkatkan likuiditas, serta memperkuat modal kerja guna mendukung kegiatan operasional dan pengembangan usaha ke depan.
Advertisement
“Aksi korporasi tersebut juga sejalan dengan program Penataan dan Pengelolaan Anak Perusahaan BUMN, sebagai bagian dari upaya peningkatan efektivitas pengelolaan portofolio dan penciptaan nilai jangka panjang bagi pemegang saham,” ujar Direktur Utama PPRE Rizki Dianugrah dikutip dari Antara, Minggu (28/6/2026).
Rizki mengatakan berbagai langkah strategis perseroan merupakan bagian dari transformasi berkelanjutan untuk menciptakan struktur bisnis yang lebih kuat dan adaptif terhadap perubahan pasar.
"Kami terus berfokus pada penguatan fundamental, optimalisasi portofolio bisnis, serta peningkatan efisiensi operasional guna menciptakan pertumbuhan yang berkelanjutan dan memberikan nilai tambah bagi seluruh pemangku kepentingan," ujar Rizki.
Susunan Direksi dan Komisaris
Perseroan juga menggelar RUPSLB Tahun 2026, yang menyetujui perubahan susunan dewan direksi dan dewan komisaris, sebagai bagian dari penguatan tata kelola dan kepemimpinan perusahaan.
Susunan dewan komisaris dan direksi PP Presisi hasil RUPSLB Tahun 2026, diantaranya ;
Dewan Komisaris
- Komisaris Utama/Komisaris Independen : Narwanto
- Komisaris : Maulana Malik Ibrahim
- Komisaris : Albert Simangunsong
Dewan Direksi
- Direktur Utama : Rizki Dianugrah
- Direktur Keuangan & Human Capital Management : Ramlan Nurdiansah
- Direktur Operasi : Yovi Hendra
Tahun buku 2025, PP Presisi mencatatkan pendapatan konsolidasi senilai Rp 3,9 triliun, atau tumbuh 4 persen year on year (yoy) dibandingkan tahun sebelumnya senilai Rp 3,8 triliun.