Emiten KBLI Tebar Dividen Rp 20 per Saham, Cek Jadwalnya

Berikut jadwal pembagian dividen PT KMI Wire and Cable Tbk (KBLI) untuk tahun buku 2025.

oleh Agustina MelaniDiterbitkan 27 Juni 2026, 13:00 WIB
Ilustrasi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Liputan6.com, Jakarta - PT KMI Wire and Cable Tbk (KBLI) akan membagikan dividen tahun buku 2025 sebesar Rp 80,14 miliar. Dengan demikian, dividen yang akan dibagikan setara Rp 20 per saham.

Perseroan membagikan dividen sesuai hasil Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) PT KMI Wire and Cable Tbk (KBLI) pada 24 Juni 2026. Demikian mengutip keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI), ditulis Sabtu (27/6/2026).

Perseroan membagikan dividen tahun buku 2025 dengan mempertimbangkan data keuangan per 31 Desember 2025 antara lain laba bersih yang didapat diatribusikan kepada entitas induk sebesar Rp 203,71 miliar, saldo laba ditahan yang tidak dibatasi penggunaannya sebesar Rp 2,06 triliun dan total ekuitas sebesar Rp 2,92 triliun.

Jadwal pembagian dividen tunai tahun buku 2025:

  • Tanggal efektif pada 24 Juni 2026
  • Tanggal cum dividen di pasar regular dan pasar negosiasi pada 2 Juli 2026
  • Tanggal ex dividen di pasar regular dan pasar negosiasi pada 3 Juli 2026
  • Tanggal cum dividen di pasar tunai pada 6 Juli 2026
  • Tanggal ex dividen di pasar tunai pada 7 Juli 2026
  • Tanggal daftar pemegang saham (DPS) yang berhak atas dividen tunai pada 6 Juli 2026, pukul 16:15
  • Tanggal pembayaran dividen pada 23 Juli 2026

Pada penutupan perdagangan saham Jumat, 26 Juni 2026, harga saham KBLI turun 0,62% menjadi Rp 322 per saham. Harga saham KBLI berada di level tertinggi Rp 326 dan terendah Rp 320 per saham. Kapitalisasi pasar KBLI sekitar Rp 1,29 triliun.

Penutupan IHSG pada 26 Juni 2026

Seorang pria melihat ponselnya di depan layar yang menampilkan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). BAY ISMOYO/AFP)

Sebelumnya, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengakhiri perdagangan Jumat (26/6/2026) di zona merah. Pelemahan pasar saham domestik sejalan dengan koreksi yang terjadi di sejumlah bursa Asia di tengah meningkatnya tekanan pada saham-saham sektor teknologi global.

IHSG ditutup turun 102,91 poin atau 1,72% ke level 5.896,13. Sementara itu, indeks LQ45 yang berisi saham-saham berkapitalisasi besar ikut melemah 4,03 poin atau 0,69% ke posisi 583,72.

Kepala Riset Phintraco Sekuritas, Ratna Lim, mengatakan pelemahan IHSG dipengaruhi koreksi yang terjadi di pasar saham global.

"IHSG ditutup melemah terimbas koreksi indeks bursa global," ujar Ratna dikutip dari Antara.

Tekanan berasal dari melemahnya bursa Asia dan Eropa akibat aksi jual pada saham-saham sektor teknologi. Kekhawatiran investor terhadap meningkatnya biaya pembangunan infrastruktur kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) menjadi salah satu pemicu utama.

"Tekanan pada saham sektor teknologi ini memicu koreksi pada harga komoditas logam, yang mendorong koreksi saham terkait," ujar Ratna.

IHSG sempat dibuka menguat pada awal perdagangan. Namun, tekanan jual mulai meningkat sehingga indeks bergerak ke zona negatif sejak sesi pertama dan bertahan di area merah hingga penutupan perdagangan.

 

IHSG Ditutup Melemah, 590 Saham Berakhir di Zona Merah

Pengunjung tengah melintasi layar pergerakan saham di BEI, Jakarta. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Sebelumnya, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengakhiri perdagangan Jumat (26/6/2026) di zona merah. Pelemahan pasar saham domestik sejalan dengan koreksi yang terjadi di sejumlah bursa Asia di tengah meningkatnya tekanan pada saham-saham sektor teknologi global.

IHSG ditutup turun 102,91 poin atau 1,72% ke level 5.896,13. Sementara itu, indeks LQ45 yang berisi saham-saham berkapitalisasi besar ikut melemah 4,03 poin atau 0,69% ke posisi 583,72.

Kepala Riset Phintraco Sekuritas, Ratna Lim, mengatakan pelemahan IHSG dipengaruhi koreksi yang terjadi di pasar saham global.

"IHSG ditutup melemah terimbas koreksi indeks bursa global," ujar Ratna dikutip dari Antara.

Tekanan berasal dari melemahnya bursa Asia dan Eropa akibat aksi jual pada saham-saham sektor teknologi. Kekhawatiran investor terhadap meningkatnya biaya pembangunan infrastruktur kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) menjadi salah satu pemicu utama.

"Tekanan pada saham sektor teknologi ini memicu koreksi pada harga komoditas logam, yang mendorong koreksi saham terkait," ujar Ratna.

IHSG sempat dibuka menguat pada awal perdagangan. Namun, tekanan jual mulai meningkat sehingga indeks bergerak ke zona negatif sejak sesi pertama dan bertahan di area merah hingga penutupan perdagangan.

Investor Tunggu Data Ekonomi Domestik Pekan Depan

Pekerja tengah melintas di bawah layar Indeks harga saham gabungan (IHSG) di BEI, Jakarta. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Ratna mengatakan, perhatian pelaku pasar pada pekan depan akan tertuju pada sejumlah indikator ekonomi penting dari dalam negeri.

Beberapa data yang dinantikan antara lain Purchasing Managers' Index (PMI) Manufaktur, neraca perdagangan, serta data inflasi yang dinilai dapat memberikan gambaran mengenai kondisi perekonomian Indonesia.

"Sehingga, diperkirakan IHSG berpeluang menguji level 5.700-5800 pada pekan depan," ujar Ratna.

Dari sisi sektoral, hanya lima sektor yang berhasil mengakhiri perdagangan di zona hijau. Penguatan dipimpin sektor barang baku yang naik 2,49%, diikuti sektor barang konsumen nonprimer sebesar 0,47%, serta transportasi dan logistik yang menguat 0,29%.

Sementara itu, enam sektor lainnya mengalami tekanan. Pelemahan terdalam terjadi pada sektor infrastruktur yang turun 1,96%, disusul sektor keuangan sebesar 1,32% dan kesehatan yang melemah 1,07%.

 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya